Pemanjatan Tebing Bukit Daya

Anjing… anjing… anjing begitulah umpatan yang dikeluarkan Rahwa ketika menarik beban barang-barang untuk diangkut ke atas. Kurang lebih 5 titik tambat hari ini barang akan dinaikkan ke atas. Memang terasa berat sekali pengakutan barang pada hari itu, hampir seharian kami menaikan barang ditambah dengan kondisi tebing yang berwarna hitam legam yang menyerap panas, terasa lengkaplah penderitaan kami hari itu. Hampir setiap personal tim menumpahkan umpatannya, yang menarik adalah umpatan si Bonk,“mother fucker”, “damned”, “shit”, semuanya dilontarkan dalam bahasa Inggris, pengen ketawa sebenarnya aku tapi semua itu aku urungkan takut kena push up senior ha.ha.h.a.ha. Hari itu penaikan semua barang selesai dilakukan ba’da Ashar. Niatnya sih mau ngelanjutin pemanjatan,masih ada waktu sampai sebelum waktu Maghrib tapi kenyataanya setelah tidur-tiduran akhirnya ketiduran beneran sampai hampir Maghrib. Seperti hari-hari sebelumnya kembali hidangan makan malam mau tidak mau harus dihabiskan keju+kacang mete itulah teman sejati selama pemanjatan, anehnya tidak kentara sekali pengalihan dari nasi terhadap keju direlasikan terhadap perut, mungkin kebutuhan kalori tercukupi sehingga cacing-cacing di dalam perut adem ayem saja begitu pikirku. Bau badan yang lumayan menyengat dari masing-masing menjadi teman setia selama pemanjatan, sudah beberapa hari ini kami tidak mandi, jangankan untuk mandi untuk sekedar buang air kecil dan buang air besar saja ngegantung di atas tali –Life on a line.

Mother fucker, dammed, shit kembali Bonk mengeluarkan umpatannya ketika lebih dari satu jam dia coba melakukan pengeboran tetapi hasilnya nihil. Batuannya aga sedikit rapuh di hadapan kami, Bonk pun mengusulkan untuk aku mencoba melakukan pemanjatan, ada sujulur kayu yang melintang dan mendoyong ke bawah di atas kami tapi dengan sedikit resiko dilompati, rasio berpikirku mengatakan ketika aku tidak berhasil menggapai dahan tersebut maka beberapa meter aku akan mendapakan free fall, kontan kukatakan aku tidak berani ke Bonk lalu kuusulkan agar Eris saja yang melakukannya dengan keberanian dan kedinginannya Eris akan bisa melakukannya begitu yang ada di pikiranku pada saat itu. Aku turun kebawah untuk digantikan oleh Eris, benar saja tanpa kesulitan Eris dapat melewati tahapan pemanjatan yang dianggap sulit oleh kami, beberapa puluh meter ke atas diselesaikan olehnya tanpa ada suatu kesulitan sampai titik penambatan berikutnya. Giliran berikutnya Rahwa yang melakukan leadingpemanjatan. Agak salah maksud kayaknya Rahwa menangkap pesan dari Bonk, yang dia lakukan melakukan bor to bor sampai sepuluh bor dia habiskan, padahal maksud Bonk dipanjat aja agar memipir ke sebelah kiri atau kanan karena tak lebih dari 15 meter di atas kami medan terjal berupa dinding lurus (face) sudah menanti. Di medan lurus itu peralatan artificial yang kami bawa akan terpakai semua, begitu pikir Bonk. Ketika Bonk mendekati kami dia hanya geleng-geleng kepala karena bor yang tersisa hanya cukup untuk descending dan simpanan buat rescue. Akhirnya Bonk memerintahkan untuk turun dan titik itulah titik teratas kami dalam pemanjatan di Batu Daya/Unta. Dengan berat hati kami kembali ke shelter ke dua tempat kami menginap semalam. Lintasan pemanjatan kami clean sampai shelter. Malam itu adalah malam terakhir kami tidur sambil menggantung dengan tali malam lebih banyak dihabiskan dengan obrolan ringan ke sana-kemari dari kami berempat dengan ditemani oleh besi-besi yang dengan setia menemani kami selama perjalanan. Sentuhan angin malam itu seolah mengucap salam perpisahan ke pada kami. Terima kasih Batu Unta atas kenangan perjalanan selama ini, suatu saat kami pasti kan kembali lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *