Tidak ada yang special dalam pemberangkatan menuju Kalimantan Barat, hanya ada cerita bahwa aku mabuk laut dikarenakan tidak terbiasa dengan perjalanan laut yang memakan waktu 30 jam, selebihnya waktu kuhabiskan diam di tempat sambil membaca buku Emha Ainun Najib yang di bawa Rahwa, itulah satu-satunya hiburan bagiku selama perjalanan di laut. Check point kami setelah sampai di Kalimantan Barat adalah rumah Kakek/Nenek Bonk, dikarenakan hari sudah larut malam tidak memungkinkan bagi kami untuk mencari alamat maka keluarlah jurus ampuh setiap petualang yaitu menggelar matras untuk istirahat kebetulan di pekarangan masjid. Ketika bangun hari sudah pagi, ternyata letak rumah Kakek/Nenek Bonk tidak berada jauh dari masjid yang menjadi tempat istirahat kami. Baru kami sadari di pagi hari bahwa berita di media terkait dengan kabut asap tebal memang terbukti adanya. Pemandangan yang bisa kami liat hanya berjarak tak lebih dari beberapa ratus meter. Gila kataku, perbuatan siapakah ini sehingga membuat banyak orang terkena dampak ini sampai-sampai negeri tetangga pun kebagain jatah asapnya. Setelah beramah-tamah maka tak lupa kami bersilaturahmi ke teman-teman Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Tanjung Pura (MAPALA UNTAN). Beberapa bulan sebelumnya teman-teman dari Untan ini mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh organsasi kami. Setelah terjadi pembicaraan dengan teman-teman dari Untan baru kami ketahui beberapa tahun sebelumnya ada teman-teman sejawat kami di Pencinta Alam dari salah satu Universitas Swasta Jakarta yang melakukan pemanjatan ke Batu Daya/Unta. Data sebelumya yang kami peroleh adalah data lama sekamir 10 tahun ke belakang. Data itu adalah data-data dari organisasi Pendaki Gunung dan Penempuh Rimba tertua di Indonesia, selanjutnya data dari mahasiwa pencinta alam fakultas peternakan di universitas kami dan data dari tim rescue dari tim Perguruan Pemanjat Tebing dari Bandung yang melakukan proses evakuasi korban dari mahasiswa pencinta alam fakultas peternakan di universitas kami. Yang menarik ada 2 bahan informasi yang kami peroleh dari teman-teman pemanjat yang pernah melakukan pemanjatan di Batu Daya/Unta yaitu pemakaian pengaman buatan/artificial non-bor yang banyak digunakan dan versi lainnya adalah “bor to bor” di mana pemakaian bor yang dominan digunakan. Berdasarkan informasi yang kami peroleh dari teman-teman di Untan bahwa teman-teman pemanjat dari universitas swasta Jakarta pun sama mengalami kecelakaan jatuh sehingga tidak melanjutkan kegiatan sampai akhir. Selain itu, beberapa hari sebelumnya ada tim mahasiwa dari Bandung juga yang sempat singgah di sekretariat teman-teman dari Untan, mereka bertujuan ke Malaysia untuk melakukan eksplorasi gua, belakangan aku ketahui bahwa yang melakukan kegiatan tersebut adalah temanku juga dari salah satu Mapala sebuah universitas swasta di Bandung.
Target lokasi kami selanjutnya adalah Sungai Matan, sungai ini adalah pintu masuk menuju lokasi pemanjatan. Dengan menggunakanLongboat kami menuju sungai tersebut, pertama kali dalam hidupku aku menggunakan media transportasi air seperti ini, dengan lebar sungai yang besar sekali, mengasyikan juga pikirku dalam hati. Di Pulau Jawa hampir boleh dikatakan tidak ada media transportasi sungai seperti ini. Perjalan menuju Sungai Matan dari Pontianak menempuh waktu 3 jam. Setelah sampai di awal Sungai Matan kami melanjutkan perjalanan menuju suatu tempat yang jujur lupa namanya di mana dari tempat ini kami akan melanjutkan perjalanan melalui jalan darat. Selama perjalanan di Sungai Matan ini awalnya kami disuguhkan dengan hutan di sekamir sungai yang rapat, tetapi semakin jauh kedalam baru kelihatan suatu pemandangan yang sangat tragis, hutan-hutan gundul dan bekas-bekas pembakaran ladang/hutan di mana-mana. Sungguh pemandangan yang membuatku sedih melihatnya. Eksploitasi alam tanpa memikirkan impact dan keberlangsungan bagi generasi-generasi berikutnya di masa yang akan datang. Semoga keserakahan ini cepat berakhir –gumamku dalam hati.

