Besok paginya kami bersama-sama menuju tempat yang dituju, rombongan ini terdiri dari tiga orang dari Dayak (kepala suku dan 2 orang Suku Dayak setempat), 1 orang Babinsa (TNI) dan empat orang tim kami. Jarak 5 km yang jikalau biasanya bukan merupakan perjalanan yang panjang seakan-akan berpuluh-puluh kali lipat jauhnya dikarenakan beban berat yang menempel di punggung kami. Beberapa kali kami berhenti sambil mencoba melepaskan beban berat di pundak kami. Suatu saat ketika akan melanjutkan perjalanan anggota TNI tersebut menawarkan untuk membantu membawa peralatan yang kami bawa kepada Bonk, tanpa bermaksud untuk merendahkan beban berat yang dibawanya Bonk mempersilahkan kepadanya. Barang pun dicoba diangkat tetapi belum sampai ke angkat seluruhnya orang tersebut sudah menurunkan kembali ranselnya, kami semua tertawa kecil dibuatnya sebenarnya sih kepengin tertawa lepas dikarenakan menghargai usaha orang tersebut mau membantu kami dan takut juga sih kalau diinstruksikan push-up jika orang tersebut tersinggung hahahaha. Beberapa meter sebelum sampai di bukit terpangpanglah suatu pemandangan yang membuat kami terperangah memandangnya. Sebelumnya kami sudah dibuat takjub ketika pertama kali melihat batas langit dari bukit tersebut tetapi kali ini kami dibuat terperangah dikalikan sepuluh lagi. Masya Allah besar sekali dan semua batuan dari bukit ini hitam, kebayang panasnya seperti apa di atas sana pikir kami. Akhirnya sampailah kami tepat di bawah Bukit Daya/Unta, dimulailah ritual yang dipimpin oleh sang kepala Suku Dayak dengan diiringan oleh jampi-jampi berupa bahasa lokal Dayak yang tidak kami mengerti. Lafadz yang kami mengerti hanyalah kata-kata “pemanjat dari Bandung” yang sesekali terdengar dari sang kepala suku. Setelah upacara ritual yang dilakukan berakhir maka kepala suku dan anggota TNI kembali ke tempatnya tak lupa kami mengucapkan banyak terima kasih dan memberikan sedikit cinderamata yang kami sudah persiapkan dari Bandung.
Kabut asap tebal kembali setia menemani kami kembali seakan berkata, “Hai aku datang kembali” setelah sehari sebelumnya sempat meninggalkan kami. Yang pertama kami lakukan adalah tetap melihat barang yang telah membuat kami terpesona dari hari kemarin, semacam ada daya magnet tersendiri yang menarik kami untuk secepatnya merangkul batuan-batuan hitamnya. Realitanya barang yang ada di hadapan pun ke sekarang jauh lebih dasyat dari foto Batu daya/Unta yang selama ini dengan setia menemaniku di saat senda-gurau dengan saudara-saudaraku di organisasi, terkadang melamun sendiri saat bertugas jaga sekertariat dan melamun dari awal aku masuk organisasi. Setelah itu aku dan Eris berdua memasang tenda dan hammock untuk persiapan istirahat, mempersiapkan peralatan yang akan dipakai untuk pemanjatan dan memeprsiapkan hidangan untuk jamuan makan bersama sementara Bonk dan Rahwa melakukan pengamatan di titik mana kami akan memulai pemanjatan esok hari. Malam itu kami berempat melakukan diskusi perencanaan untuk kegiatan pemanjatan yang akan dilakukan setelah itu kami beristirahat.
Keesokan paginya Bonk selaku ketua tim kembali melakukan pengamatan untuk titik yang akan dipanjat. Dikarenakan terbatasnya jarak pandang maka diputuskanlah tempat tertinggi dari daerah sekamir kami untuk menjadi entry point dari pemanjatan. Hampir tidak mungkin kami melakukan mapping jalur pemanjatan dikarenakan hal tersebut diatas akhirnya yang menjadi fokus kami adalah bagaimana meminimalkan penggunaan mata bor dikarenakan terbatasnya mata bor yang kami bawa. Bonk dan Eris mendapat giliran pertama untuk pemanjatan tersebut sedangkan aku dan Rahwa mendapat giliran berikutnya. Formasi tim nanti akan dilakukan secara bergantian masing-masing satu pasang. Dengan tim yang berjumlah sedikit diharapkan pemanjatan dapat dilakukan dengan cepat, prinsipnya setelah terjadi titik penambatan tim yang kedua akan melakukan penaikan barang sedangkan tim yang satunya lagi akan meneruskan pemanjatan ke titik yang lebih tinggi. Hari pertama 2 titik penambatan (pitch) berhasil ditempuh, hari itu diputuskan bahwa kami akan bermalam di tempat kami bermalam sebelumnya. Esok harinya giliran Bonk dan Rahwa melakukan pemanjatan sedangkan aku dan Eris bertugas untuk melakukan pengangkutan barang ke atas. Sebagian barang kami simpan di bawah, hanya peralatan pemanjatan, bahan makanan dan alat tidur yang akan kami bawa ke atas, selebihnya kami tinggalkan di bawah. Membawa barang di medan miring ternyata tidak semudah yang dibayangkan, faktor utama yang menyebabkannya adalah posisi barang yang tidak menggantung (menempel ke diding) terkadang barang menyangkut di antara bebatuan atau rumput-rumputan, akhirnya diputuskan ada body yang mendampingi barang tersebut ke atas. Pemejatan hari ini berhasil melakukan 2 titik penanambatan ke atas. Malam itu kami mulai tidur di titik penambatan ke dua, ada teras kecil cukup untuk kami berempat. Teras itu dilindungi oleh semacam gundukan batu. Lagi-lagi aku merasakan pertama kalinya tidur dengan kondisi badan terkait dengan pengaman yang dipasang atau lebih dikenal dengan istilah buntut sapi (cows tail), sungguh pengalaman yang luar biasa selama hidupku. Dua tali sepanjang titik penambatan terpasang diatas kami dan satu tali pendek dipasang ke bawah sebagai tempat buang air besar kami. Menu makanan yang dipersiapkan sebelumnya mulai dibuka, pertama kali dalam hidupku makan malam dengan sajian keju dan kacang mete ditambah campuran energen dan susu, bener-bener mau muntah dibuatnya, sama sepertiku dengan saling berpandangan melahap hidangan malam sedikit-sedikit kecuali Bonk mungkin dia terbiasa dengan hidangan malam seperti itu. Sesuatu hal yang dirasakan merupakan salah satu faktor yang paling berat dari pemanjatan ini adalah mengenai makanan.

