Seperti sebagian besar orang Indonesia bahwa makanan pokoknya adalah nasi, ada pepatah bahwa sebelum makan nasi belum dikatakan sudah makan, rasa lapar pasti akan selalu menghantui. Berdasarkan pertimbangan waktu dan lokasi yang vertical maka memasak nasi adalah sesuatu yang boleh dibilang ribet. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menanak nasi, maka demikianlah harus ada suatu metode yangsimple mengenai makanan selama pemanjatan. Perbekalan makanan yang kami bawa selama pemanjatan dibagi menjadi tiga bagian: makan pagi, makan siang dan makan malam. Menu Makan pagi dilakukan dengan cukup memanaskan air selama kurang dari 10 menit untuk indomie atau sereal dan kopi/susu ditambah dengan roti atau biskuit. Menu makan siang cukup dengan biskuit dan roti sedangkan untuk makan malam cukup dengan memanaskan air selama kurang dari 10 menit untuk indomie atau sereal dan kopi/susu ditambah dengan keju dan kacang mete. Sudah kebayang di dalam benakku betapa eneknya makanan yang menjadi menu selama pemanjatan. Kondisi malam itu kami bersyukur tidak turun hujan, terbayang olehku jikalau terjadi hujan kondisi tidur malam bisa keganggu walaupun kami sudah membekali peratalan fly sheet. Malam ketika kami tidur sering kali terdengar desingan suara batu yang dilemparkan dari arah atas kami, kami sampai saat selesai pemanjatan masih tidak habis pikir siapa yang seringkali melempar batu di atas kami. Mungkin itu monyet yang melempar positive thinking kami.
Besok paginya, suasana langit dia atas cerah menyapa kami, seperti hari sebelumnya kicauan burung yang terbang diatas dan suara desing mesin pemotong kayu tetap setia menemani kami. Giliran aku yang menjadi leader dalam pemanjatan dengan belayer Bonk. Sementara Eris dan Rahwa mendapat jatah giliran berikutnya. Sehari sebelumnya 1 titik tambat berhasil kami lakukan, tak lupa sebelum melakukan pemanjatan bergaya dulu sebagai bahan dokumentasi yang bagi kami. Sambil menaiki tali (ascending) menggunakan 2 buah ascender aku mulai menaiki tali yang telah terpasang sebelumnya. 10 meter setelah aku melakukan menaiki tali, terkejut bukan main hatiku melihat pemandangan di depan mataku, tali yang aku naiki kondisinya terluka, hampir setengahnya sobek. Terbayang olehku jikalau tali tersebut sempat putus apa yang terjadi dengan diriku, aku dipastikan akan jatuh bebas ke bawah tak tertolong lagi. Cepat-cepat aku memindahkan posisi ascenderku ke atas luka sobek tali yang kunaiki sambil berkata alhamdulillah, Allah masih mengijinkan aku untuk hidup lebih lama lagi, tak lupa kubuat simpul di daerah tali yang sobek tersebut. Aku kabari tim yang ada di bawah dan selanjutnya aku pasangkan tali cadangan lainnya untuk menggantikan tali yang sobek tersebut. Satu titik tambat berhasil aku lakukan dalam pemanjatan ini. Setelah itu giliran Eris yang akan meneruskan pemanjatan sementara aku dan Rahwa berada di teras. Medan yang akan dilalui Eris sebagian adalah ilalang. Ada yang unik dari si Eris ini, dia terkenal dengan keberaniannya dalam melakukan kegiatan alam bebas, karakter dingin begitulah banyak teman-temannya menyebutnya. Satu titik tambatan berhasil dilakukan oleh Eris dan Bonk hari itu. Malam itu kami tidur di teras malam sebelumnya, seperti biasa hal yang paling membuat malas adalah pada saat jam makam malam, terbayang oleh kami eneknya makanan yang akan di mana, keju + segenggam kacang mede yang sudah dipersiapkan dalam bentuk hari per hari dan terbagi dalam empat bungkus untuk masing-masing personil. Dengan sedikit malas kami menghabiskan menu makan malam itu. Malam kami habiskan dengan mengobrol ke sana-kemari, terutama tentang wanita. Ada istilah “bangkok betawi”, “si jack”… ah rupa-rupa, cuma tetep aku yang menjadi pendengar yang setia alias kambing conge.
Besok pagi kembali “si dingin” Eris yang menjadi leader ditemani Rahwa sebagai belayer. Medan termasuk kategori susah, bor to bor menjadi solusi kali ini. Dikarenakan power yang cukup besar maka Rahwa ganti menjadi leader menggantikan si dingin. Sekamir 20 meter medan seperti ini, di tengah Bonk memerintahkan untuk dilakukan pendulum (kayak bandul jam dinding), di sebelah kiri kami terpangpang crack yang bisa dipasang alat-alat artificial selain bor. Kembali “si dingin” menunjukan kebolehannya. Sambil bergelantungan berlari dari kiri ke kanan dan akhirnya sampai juga, beberapa meter di atas tertambatlah titik tambat berikutnya. Malam itu kami kembali tidur di teras sebelumnya.

