Kami pun mau tak mau tidak bisa lari memperkenalkan diri kami masing-masing, aku yakin gadis itu tahu persis kekikukan yang alami oleh kami berempat. Setelah itu gadis itu gadis itu mengajak kami berempat untuk main ke tempatnya, serempak kami menjawab masih ada beberapa yang harus diselesaikan (aku yakin dikarenakan tidak adanya keberanian dari kami untuk menindak lanjuti ajakan gadis tersebut).
Setelah hujan rintik-rintik reda terlihatlah suatu pemandangan yang menakjubkan. Kabut asap yang selama kedatangan kami di Pontianak sampai ke tempat ini menjadi teman setia kami berangsur mulai menjauh kami dan menghilang sedikit demi sedikit, jarak pandang menjadi agak jauh dari sebelumnya, terpangpanglah garis batas langit dari suatu perbukamin sekamir 5 km jauhnya di depan kami. Bentuknya mirip dengan punggung unta, ada 2 undakan diatasnya, inikah tujuan kami kesini, Batu Daya atau disebut juga Batu Unta(orang banyak menyebutnya demikian) mungkin dikarenakan kemiripannya dengan 2 undak dipunggung unta. Masya Allah Besar sekali dari bukit ini pikirku tak terbayangkan olehku bahwa kami akan melakukan pemanjatan bukit tersebut baru pertama kali dalam hidupku aku melihat langsung suatu bukit yang besarnya sedemikian besar dan sekarang berada di hadapanku.
Sambil bercanda terdengar celetukan Rahwa “Serius ieu teh rek manjat rek manjat bukit itu? “ (serius besok mau memanjat bukit itu). Aku yakin dalam hati masing-masing setiap anggota meyimpan rasa ketakutan tetapi semua itu terimbangi dengan misi suci yang kami emban dari organisasi yaitu melakukan pemanjatan bukit itu. Malamnya kami menghadap Kepala Dusun mengabarkan misi kami yaitu akan melakukan pemanjatan terhadap Batu Daya/Unta dan berniat meminta ijin kepada kepala Suku Dayak didaerah tersebut terkait dengan pemanjatan tersebut. Disepakatilah bahwa besok tim ditemani oleh kepada dusun akan menuju ke Suku Dayak daerah tersebut.
Siang hari berikutnya kami bersama-sama dengan kepala dusun menghadap kepala Suku Dayak di daerah itu dan sesuai dengan budaya yang ada di Suku Dayak daerah tersebut diharuskan untuk melakukan ritual dengan tujuan permisi dan keselamatan bagi tim pemanjatan Batu Daya/Unta. Besok siang adalah waktu untuk dilakukan ritual tersebut. Acara ritual itu sendiri harus di lakukan dengan beberapa persyaratan yang terdiri dari ayam yang berwarna hitam, telur ayam, nasi dan semacam lengkuas serta beberapa sayuran yang harus disediakan. Tak terlalu susah mendapatkannya dikarenakan semua bahan persyaratan ada di daerah tersebut kecuali beberapa sayuran yang akhirnya kami dapatkan setelah kami menitip kepada masyarakat setempat yang akan melakukan belanja. Tak lupa kami memberitahukan maksud dan tujuan kedatangan kami ke aparat setempat dalam hal ini Babinsa (TNI).
Hari itu kami menginap di rumah kepala Suku Dayak. Malam harinya kami mengobrol dengan kepala suku, disuguhi hidangan lokal dayak dan secangkir air. Eris dan Rahwa adalah orang yang pertama meminum air tersebut, tak berselang lama aku meminum air yang dihidangkan tersebut. Alangkah kagetnya aku ketika air yang kuminum menyentuh tenggorokanku, terasa panas sekali, tersadar aku bahwa yang aku minum adalah minuman sejenis Arak. Eris dan Rahwa tertawa ke arahku sambil mesem-mesem, rupanya mereka dari tadi sudah mengetahui bahwa air yang dihidangkan adalah sejenis arak lokal khas dari Suku Dayak dan mereka menunggu momen di mana aku mencoba mencicipi air tersebut. Dasar orang gila umpatku dalam hati dan semoga Tuhan mengampuni hal ini doaku. Sudah menjadi kebiasaan di Suku Dayak bahwa untuk menjamu tamunya yang datang ke daerahnya suguhan air yang dihidangkan adalah sejenis arak selain satu lagi yang tak ingin aku sebutkan dikarenakan aku sendiri tidak yakin dengan hal tersebut (belakangan aku tahu dari teman-teman di Untan bahwa ini berlaku hampir di semua Suku Dayak di Kalimantan Barat).

