Sesampainnya di tempat sebelum menuju Camp 21, kami melanjutkan perjalanan menggunakan jalan darat. Melalui jurus sosialisasi pedesaan (sosped) yang selama ini kami dapatkan di organisasi maka kami bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan fasilitas salah satu perusahaan perkebungan di daerah tersebut. Menggunakan 2 buah jip kami diantar menuju Camp 21. Dinamakan Camp 21 dikarenakan jaraknya yang menempuh 21 km. Uniknya selama perjalanan menuju Camp 21 ini adalah debu jalanan yang sangat tebal dikarenakan jalanan yang dilalui adalah tanah merah yang kebetulan juga saat itu adalah musim kemarau sehingga minta ampun debu yang terjadi akibat sentuhan ban kendaraan dengan tanah tersebut. Satu hal aku adalah satu-satunya yang memiliki rambut panjang selebihnya plontos semua, sudah dapat diduga seperti apa kotornya si gondrong ini, “Apa peduliku,” gumamku dalam hati lagian idaman hati masih berada di negeri antah barantah pikirku hehehe… Singkat cerita kami sampai di Camp 21 antara waktu Dzuhur dan Ashar, sekali lagi dengan menggunakan jurus ampuh sosialisasi pedesaan (sosped) dan sedikit meyakinkan dengan mengeluarkan Kartu Tanda Mahasiwa (KTM) dan surat jalan organisasi akhirnya kami diperbolehkan untuk menginap di Camp 21.
Camp 21 ini semua bangunannya merupakan bangunan setengah jadi yang semua bahannya terbuat dari kayu. Uniknya, situasi di Camp 21 ini seperti suasana pemukiman koboy, persis dengan yang sering aku lihat di film-film koboy waktu kecil. Serasa jadi koboy beneran di sini orang-orang duduk di beranda, yang membedakan adalah tidak adanya kuda, yang ada adalah desing mesin-mesin truk pengangkut kayu (aku gak tahu apakah kayu yang diangkut itu legal atau illegal) lainnya tak ada beda, rumah yang terbuat dari kayu, debu yang beterbangan sangat tebal dan orang-orang yang nongkrong di beranda rumah. Seperti sebelumnya dikarenakan kondisi kabut jarak pandang sama hanya beberapa ratus meter. Sore hari hujan rintik-rintik membasahi daerah ini kurang dari 30 menit, sementara itu teman-teman semua sudah selesai membersihkan diri dengan air seadanya.
Ditemani secangkir kopi yang dituangkan oleh Eris (dia terkenal dengan masakannya dengan bahan seadanya untuk meracik makanan dia bisa membuat kami menambah makan sampai berkali-kali), kami berbincang-bincang di beranda sambil menggosipkan sekretaris di perkebunan ini yang agak bahenol, kata Rahwa. Tidak hanya itu, kami melewatkan waktu sambil melihat orang-orang yang baru pulang kerja dari ladang perkebunan. Gadis sekretaris itu cara berbicaranya sangat manja menurut kami dan seolah-olah sedang melakukan tebar pesona terhadap kami (aku ga tau apakah itu salah satu “kegeeran” kami dikarenakan masing-masing dari kami termasuk pemula terhadap makhluk Tuhan yang namanya wanita). Dari sekumpulan rombongan yang datang terlihat satu rombongan yang agak berbeda dari yang lainnya, ada satu gadis yang berambut panjang yang menurut kami seperti menemukan mutiara di tengah hutan, “Edun aya geulis euy,” celetuk si Eris.
Masing-masing dari kami pasang aksi terutama Eris yang terkenal agak berani sebagai pembuka (terakhir aku tau bahwa setelah pembukaan untuk processing dan finishing touch sama denganku tidak ada keberanian). Suit…suit… suit… gadis… kata Eris bersuit dan memanggil ke arah gadis rambut panjang lurus tersebut, tak disangka tak dinyana gadis tersebut datang menghampiri kami, gila… situasi menjadi tak karuan bak kapal pecah di tengah samudra luas, satu kata panik itulah yang kondisi kami pada saat itu. Selama beberapa tahun kami dilatih, dilatih, dan ditempa bahwa salah satu kunci dari kegiatan di alam bebas adalah tidak panik dan tetap tenang ketika ada kondisi permasalahan di lapangan tetapi tetap saja untuk menghadapi makhluk Tuhan yang satu ini jurus supaya tidak panik susah untuk diaplikasikan. Akhirnya gadis itu menghampiri kami, Elisabeth gadis itu memperkenalkan diri sambil menjulurkan tangan, aku tinggal di sebelah sambil dia menunjuk lokasi tinggalnya yang persis di sebelah tempat nginap yang ditempati kami yang dipisahkan oleh jalan sekamir 3 meter.

