“Zero Waste Mountaineering”, Mencoba Petualangan Gaya Baru

Sedikit demi sedikit saya dan kawan-kawan di Palawa mulai menikmati petualangan gaya baru ini, meski sempat terseok-seok pada awalnya. Kami berhasil tidak menghasilkan sampah di gunung dalam setiap pendakian. Kemudian muncul ide, mengapa tidak kami melakukan kampanye Zero Waste Mountaineering? Begitulah kurang lebih dibalik layar Ekspedisi Padjadjaran Nemangkawi (EPN) ini bermula. Lalu mengapa harus Nemangkawi? Ini adalah jawaban bagi tantangan media yang kami hadapi selanjutnya untuk mengkapanyekan sesuatu yang baru. Nemangkawi adalah puncak tertinggi di Indonesia yang bahkan masuk sebagai salah satu tujuh puncak tertinggi di tujuh benua di dunia. Betulkah? Iya, Nemangkawi adalah nama asli puncak yang lebih popular dikenal dunia sebagai puncak Cartensz Pyramide. Pada akhirnya, bagi kami Ekspedisi Padjadjaran Nemangkawi ini seakan menjadi ajang untuk mendapatkan tantangan dan kesempatan baru. Lebih dari sekedar memperkenalkan Zero Waste Mountaineering tapi juga kembali menyosialisasikan nama Nemangkawi.

Ego kadangkala dibutuhkan untuk sebuah petualangan, begitu pesan Mark Jenkins, seorang penulis national geographic yang juga tergabung dalam ekspedisi Hkaborazi 2014 silam. Rasanya benar juga, menerapkan zero waste mountaineering adalah ego yang membawa konsekuensi pada saya (Ichsan, 24) dan ketiga rekan perjalanan saya, ialah Ronni (24), Rizky (23), dan Yandi (21) untuk membawa perlengkapan lebih banyak dari biasanya karena wadah-wadah makanan. Terlebih perjalanan kami yang berlangsung pada 18 – 30 Maret 2017 ini berlokasi di Pegunungan Sudirman, yang digadang-gadang sebagai gunung dengan tantangan teknik tersulit ketiga di Dunia setelah puncak Everest di Nepal dan Puncak Denali di Alaska. Bisa dibayangkan bukan, ketika banyak pendaki yang ingin serba praktis dalam kondisi sulit meski acapkali menimbulkan sampah nyatanya kami tidak memilih cara itu.

Tim berhasil mencapai Puncak Nemangkawi

Kami harus mengakui, jalur pendakian yang kami lalui adalah sulit. Berada pada ketinggan di atas 4000-an mdpl, oksigen semakin tipis ditambah lagi cuaca gunung ini yang melulu diguyur hujan es. Kami jadi mudah lelah, dan pergerakan kamipun semakin terbatas. Makanan yang sudah kami kemas didalam wadah memberikan kemudahan saat kami akan mengambilnya. Tak perlu lagi susah membuka plastik kemasan, atau merogoh ransel dalam-dalam mencari cemilan yang entah bepencar kemana. Tentunya ini sangat mengefisiensi waktu dan tenaga, terlebih kepuasan tersendiri karena kami tidak menghasilkan sampah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *