Piknik Maraton, dari Geulis ke Citarum

Pukul 15.23 kami portaging sampai di titik start pembibitan, pemanasan dan doa tidak lupa kami tunaikan. Perahu lalu diturunkan, bagian perahu yang agak kempes kami pompa. Sekitar 15 menit  kami menyepakati bahwa perahu 1 yang meluncur terlebih dahulu. “Dayung maju” pun menjadi awal komando yang saya lontarkan. Terlihat cusions di sebelah kanan sekitar 500 meter dari titik start berubah menjadi standing wave yang cukup besar, tidak melakukan banyak manuver, kami mengikuti arus utama di sebelah kiri yang diisi oleh standing wavedengan turbulensi yang cukup membuat perahu terguncang, niatan untuk melintasi dua hole besar sekitar 20 meter sebelum jembatan terlihat ekstrim buat saya, menjadi urung dilewati. Perahu kami pun melipir ke dermaga menjemput kang Fikry yang terlihat sedang mengobrol dengan anak SAR.

Tidak sampai 2 menit perahu 2 muncul dari kejauhan, mereka pun terlihat enggan melewati hole tersebut, mencoba melipir ke dermaga tapi akhirnya lebos, pepohonan menutupi pandangan kami yang sedang berada di dermaga, anak SAR pun berpamitan karena mengira pengarungan telah dimulai. kami yang sedang memompa perahu langsung bersiap melihat kode dayung yang dibuat lurus keatas oleh Stef. Baru diketahui saat menepi di dekat lapangan kalau saat melewati ‘jeram surprise’ semua awak perahu 2 terhempas dari perahu.

“lagian udah mau masuk hole, malah tukeran dayung” sambil tertawa Stef berucap ke Nanang dan Ilham. Kami pun ikut ketawa sekaligus aneh melihat tingkah kedua orang tersebut.

Kami lalu memulai pengarungan panjang, kang Fikry memutuskan untuk sebagai turis dengan duduk santai dibagian tengah perahu 2.  Pengarungan panjang diselingi simulasi flip dan latihan skipper diakhir-akhir pengarungan. Sungai citarum di musim hujan menawarkan jeram-jeram yang cukup membuat kepuasan tersendiri buat kami umumnya. Sekitar 1 jam kurang, kami sampai di titik finish jembatan lama.

Kang Fikry terlihat sedang bernegosiasi dengan supir angkot, sedangkan kami membereskan alat-alat. Sepakat di angka Rp. 70.000 lalu perahu dan peralatan lain didrop ke angkot. Didalam angkot Stef mengusulkan untuk melakukan pengarungan lagi, pengarungan pendek karena penasaran dengan hole besar sebelum jembatan dan ‘jeram surprise’. Rasa penasaran bukan hanya dialami Stef tapi juga Nanang, Aulia, Saya, Rizky, Ilham dan Inung, sedangkan kang Fikry dan Andra urung ikut. Pukul 17.05 angkot tiba di Mak Udeh, peralatan lain selain 7 set perlengkapan mengarung, rescue rope dan pompa di drop ke mak Udeh. Setelah transaksi dengan supir kami meminta kebaikan supir untuk mengantar ke titik start di pembibitan, Pak Supir pun mengamini.

 Belum Puas, Portaging Lagi

Setelah pengarungan panjang, kami masih penasaran, dan Portaging lagi ke titik awal pengarungan. Perahu lalu diturunkan ke sungai, pompa sebentar, Stef mengambil alih Skipper dan perahu lepas landas. Kali ini jeram yang terlihat ekstrim pun tidak ragu kami lewati karena kondisi perahu yang diisi oleh 7 awak cukup untuk menahan guncangan besar.

Hole besar pun sudah menanti di depan mata, perahu masuk dengan lurus, guncangan membuat perahu hampir mencapai sudut kemiringan 65⁰, teriakan kepuasan pun terlontar dari kami masing-masing, setelah melewatihole tersebut, perahu dibawa ke pinggir kanan demi mencapai ‘jeram surprise’, volume air membuat hole besar dengan bentuk diagonal khas jeram tersebut. Kali ini perahu hampir saja terbalik, dengan posisi miring namun kami dengan inisiatif menolak dengan membawa tubuh ke arah bagian perahu yang naik.

“ambil alih perahu oi”,

Setelah menoleh ke belakang terlihat Stef sedang berjuang naik ke atas perahu. Ternyata ia dimuntahkan oleh guncangan di jeram surprise. Perahu pun menepi dilapangan dan langsung kami portaging ke mak Udeh. Membereskan alat, Drop ke mobil, makan dan mandi selesai kami lakukan pada pukul 19.00. Setengah jam kemudian kami pamitan dengan mak Udeh dan bergegas pulang, anggota yang naik bis diantar terlebih dahulu sampai pertigaan Pasar Rajamandala, oleh Aulia dan Stef menggunakan mobil kang Fikry. Setelah menunggu sekitar 20 menit menunggu akhirnya bis yang kami nantikan hadir.

Pukul 22.45 kami sampai di Sekretariat, Tidak lama setelah itu mobil espass pun datang. Setelah memasukan alat ke sekre ada yang langsung tidur, ada yang menyempatkan untuk kopi sejenak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *