Sekitar 30 menit menyiapkan peralatan yang hendak dibawa, kami pun berdoa sebentar, lalu berangkat sekitar pukul 03.15 ke jalan depan kampus diantar oleh Gandhi, anjing adopsi Palawa, sampai ke Atm center. Tidak lupa membeli ransum seadanya, kopi, mie instan dan snack. Lalu menunggu angkot sambil berjalan pelan. Belum sampai 100 meter berjalan angkotpun lewat dan otomatis kami naik, lalu turun di desa Jatiroke titik start awal pendakian Geulis. Awal pendakian masih ditemani lampu penerangan dari rumah warga, diselingi candaan khas dari Nanang.
Selama perjalanan kami tidak berhenti karena memang medan yang dihadapi tidak terlalu sulit, namun ketidakpastian jalur pun ditemui ketika 40 menit berjalan karena jalur yang tertutup oleh ilalang, Nanang sebagai orang yang “katanya” masih hapal jalur menuju puncak dengan semangat menerobos ilalang-ilalang sambil mencari jalur utama.
Pukul 05.15 kami pun sampai dipuncak dengan susah payah karena tidak dilengkapi oleh golok tebas, otomatis harus menyelusup mencari celah-celah kosong dan agak memaksakan melewati semak-semak ilalang. Sigap, Aulia dan Nanang menyiapkan trangia dan masak air untuk kopi, Kopi pun dihidangkan, rokok pun dibakar. kami santai agak cukup lama sekaligus menunggu air mendidih untuk merebus mie mencegah perut lapar. Landscape Jatinangor pagi hari pun tidak lupa kami abadikan walaupun dengan kamera 5 megapixel bawaan ponsel danIphone milik Stef, sambil menunggu sunrise yang tidak datang jua, disisi lain kerlap-kerlip cahaya lampu di Jatinangor sebagian sudah padam menjelang pukul 06.00.
Kami pun bersama-sama menyantap mi siap saji, sedangkan Nanang yang buang air besar saat kami makan, menyusul dengan menu yang memang berbeda sendiri, pop mie. Kami packing, lekas pulang, risih dengan angin kencang di puncak, tidak lupa foto-foto sebentar dengan latar belakang Jatinangor dan Gn. Manglayang. Pukul 08.30 sabtu pagi, dengan badan sebagian terkena lumpur, baju basah karena keringat. Kami pun sampai di bawah walaupun agak melenceng dari jalur awal.
Pukul 09.47 kami sampai di sekretariat mendengar kabar baik. Andra yang habis meres-beres sekre berdua dengan Inung, menyampaikan kabar bahwa kang Fikry setuju ke Citarum, beliau akan mendarat sebentar lagi disekre. Kami pun langsung mencuci alat bekas pendakian sambil sebagian menyiapkan logistik untuk ke Citarum. Peralatan mengarung langsung dimasukkan ke mobil kang Fikry sesampainya ia di sekre. Kami pun sarapan nasi padang yang dibeli Nanang dan Inung di luar kampus.
Berangkat pukul 10.30 setelah packing, dan membereskan peralatan sehabis pendakian. Keberangkatan dipecah jadi dua tim. Saya, Nanang, Rizky, dan Inung naik Bus karunia bakti dari Cileunyi (tarif Rp. 8000), sedangkan kang Fikry, andra, Stef, Aulia dan Ilham yang diajak secara mendadak naik espass milik kang fikry dengan 2 set alat untuk pengarungan di dalamnya. Karena macet, kami baru sampai di pertigaan pasar Rajamandala pukul 14.07, Aulia memberi kabar bahwa mereka juga baru sampai di rumah Mak Udeh, otomatis kami naik ojeg menuju Mak Udeh dengan tarif Rp. 15000/2 orang. Di rumah Mak Udeh kami bertemu dengan tetangga, SAR Unpad. Mereka baru pulang dari pengarungan panjang, dan siap mengarung lagi.
Kami dijamu oleh pemandangan permukaan air citarum yang sedang naik dan hampir menutupi bangkai jembatan roboh, rasa senang bercampur was-was pun menghantui. Setelah silaturahmi dengan Mak Udeh, 2 set perahu dan peralatan rescue serta dry bag berisi ransum dan alat dokumentasi langsung disiapkan untuk pengarungan, Kang Fikry langsung improvisasi untuk langsung melakukan pengarungan panjang karena hari sudah menjelang sore. Perahu 1 diisi oleh Saya (skipper), Rizky, Inung, dan Aulia, perahu 2 diawaki oleh Stef (skipper), Inung, Nanang dan Ilham, Sedangkan kang Fikry menunggu di dermaga Kapinis bersama anak SAR.

