Mengembara di Sungai Ketahun, Bengkulu (Bagian II)

Jernih sekali! Itulah hal yang paling pertama terpikirkan saat kami mulai turun ke air. Batu-batu di dasar sungai dapat dengan jelas kami lihat. Air sungai kala itu tergolong sedang surut, sehingga beberapa bagian sungai menjadi dangkal. Sebuah fenomena dan kenampakan alam yang terdapat di hulu Sungai Ketahun yang tidak dapat ditemukan pada sungai-sungai di Jawa adalah batu-batu yang sangat besar di tengah sungai. Sangat besar sebesar pondok. Kami seperti ber-arung jeram halang rintang, karena aliran air yang dapat dilewati perahu berbentuk zig-zag. Perahu kami kerap kali tersangkut di pillow, di permukaan sungai yang dangkal, dan pernah juga salah memilih jalur. Banyak juga kami jumpai dataran atau pulau yang cukup panjang yang berada ditengah sungai. Dataran tersebut membagi sungai menjadi 2 aliran utama, kebanyakan salah satu alirannya terdapat lebih banyak pillow, ada pula yang terhalang batang pohon besar yang tumbang dari tebing. Namun secara keseluruhan, dalam pengarungan dan pemetaan ini tidak ada masalah yang cukup berarti.

Pukul 14.00 kami telah sampai di Desa Talang Baru yang merupakan jalur evakuasi 2 sekaligus titik river camp pertama yang jaraknya dekat dengan basecamp utama. Melihat kondisi dan kemungkinan yang telah diperhitungkan, kami melanjutkan pengarungan hingga titik river camp kedua yang berada di Desa Talang Donok. Setibanya di titik yang dituju, di tengah persawahan kami menemukan tempat yang nyaman untuk mendirikan camp, tanahnya luas dan relative datar, mudah mendapatkan air, dan posisinya pasti lebih tinggi dari permukaan sungai. Setelah makan kami beristirahat pada malam itu, aku merasakan hawa yang lebih dingin dari malam sebelumnya. Apa karena pintu flysheetnya searah dengan arah datangnya angin. Aku yakin ini karena angin, bukan karena kami habis basah setelah pengarungan.

Hari berikutnya kami melanjutkan pengarungan dan pemetaan jeram yang berpotensi bahaya selanjutnya. Baru kami memulai pengarungan, kami sudah disuguhi pemandangan yang indah di Sungai Ketahun ini. Kami disambut dengan tebing-tebing yang memiliki bentuk dan permukaan yang eksotis disetiap sisinya. Ada yang mirip seperti tangga yang menempel di tebing tersebut. Ada air terjun yang bentuknya berupa curahan air yang jatuh dari atas tebing. Di situlah ikon Sungai Ketahun yang terkenal setelah objek wisata alam ini dipopulerkan oleh Pemerintah Kabupaten Lebong. Jeram-jeram yang kami temui pada hari kedua ini juga lebih besar dan panjang (continuous) dari sebelumnya.

Dalam menggambar sketsa jeram, aku agak kesulitan pada saat menggambar komponen jeram berupa pillow, standing wave dan hole. Mengapa sulit? Karena permukaan air sungai yang begitu jernih, sehingga banyak sekali batu yang nampak dari luar, jika demikian apakah aku harus menggambar semuanya. Dan entah mengapa standing wave dan hole pada saat melihat dari hilir malah tidak begitu jelas letaknya. Seberapa tingginya standing wave dan seberapa dalamnya hole pun juga menjadi samar. Juru foto kami Farah selalu siap sedia dengan kamera waterproof  yang mudah diambil dan dipakai dari dalam seleting pelampungnya. Mimi sibuk dengan GPS untuk menandai koordinat jeram, sedangkan Yandi sibuk dengan memasukkan data yang perlu diketahui dari tiap jeram. Petrus sebagai skipper andalan kami, scouting dan bersiap untuk jeram berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *