Mengembara di Sungai Ketahun, Bengkulu (Bagian II)

Pada saat kami berbincang, aku melihat ada sesuatu yang  mengintip kami dari belakang pohon yang ia peluk. Sekilas saja aku sudah dapat melihat wajahnya yang ternyata sangat menggemaskan. Ia adalah seekor anak siamang berwarna hitam, tubuhnya seperti boneka berukuran sedang. Siamang itu amat lucu dan cantik. Bulunya pun berwarna hitam legam namun terlihat bersih dan lembut. Ooh aku ingin sekali berfoto bersama hewan itu! Siamang itu milik pak sekdes, maka aku bertanya siapa namanya. Namanya Ula, ia termasuk hewan langka yang masih tersisa, umurnya kira-kira satu tahun. Ula juga hewan yang sangat pemalu, ia tidak mau melepaskan pak sekdes saat ingin berfoto denganku. Jadi aku tidak sempat menyentuh dan mengelus Ula apalagi menggendongnya. Namun aku sangat senang bertemu dengan Ula, aku akan merindukannya.

 

Lagi-lagi aku harus ditinggal bersama Yandi sedangkan Petrus dan Hamka kembali. Yandi mencari bambu untuk dijadikan tiang flysheet. Aku menyiapkan makan malam sambil membantu Yandi juga apabila diperlukan. Setiap orang yang lewat dan melihat kami, pasti penasaran dan bertanya banyak hal. Mereka semua adalah warga setempat yang pulang berkebun. Selain sekedar bertanya, “Nak bermalam di siko? Kemping yo?”, ada juga yang sambil bercerita tentang anak perempuannya yang kuliah dan senang beraktivitas dan bepergian semacam ini, jadi beliau teringat dengan anaknya. Kebanyakan dari mereka menawarkan kami untuk mampir ke rumahnya, warga di sini ramah-ramah dan baik hati. “Kalau ada butuh apa-apa, ke rumah saja, dekat. Rumah saya di bale yang itu,” kata salah seorang bapak dengan Bahasa Rejangnya yang mulai kami mengerti sedikit-sedikit.

Rombongan kami akhirnya datang juga ke lokasi, kami sibuk mengangkut peralatan dari tempat mobil berhenti hingga ke camp. Kemudian membantu kami menyelesaikan tugas mendirikan tenda dan masak. Dua orang lagi yang merupakan operator dari Lebong Rafting menyusul dengan menggunakan ojeg, yang sebenarnya pemuda lokal yang bersedia membantu. Menu makan malam kali ini adalah ayam goreng, tahu, dan sayur sop. Yummy! Setelah evaluasi dan briefing kami harus istirahat yang cukup karena besok kami akan memulai pengarungan.

Minggu, 12 Februari 2017 pukul 4.30 WIB kami sudah mulai beraktivitas, dari masak sarapan, cek alat hingga merapikan tenda. Farah banyak ditempatkan dalam urusan masak, dia memang harus sering-sering belajar masak supaya dia bisa masak sendiri. Makan sudah, packing sudah, mengembangkan perahu dan menurunkannya ke sungai, lalu mengikat barang-barang di atas perahu sudah, kami siap mengarungi Sungai Ketahun. Tapi sebelumnya kita perlu pemanasan dan berdoa bersama terlebih dahulu. Tidak lupa juga tim foto bersama sebelum benar-benar bertolak dari titik start. Kami juga mengajak warga desa yang menyaksikan kami untuk ikut berfoto.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *