Saya hampir mati di kali pertama saya arung jeram. Pertanda yang kurang baik. “Teteh gak apa-apa? Teteh baik-baik aja kan? Teh.. Teh..”, suara seorang pria membuat saya membuka mata dan tampak beberapa teman saya dan beberapa warga mengelilingi saya. “Ra, lo gak apa-apa? Rok en rol gitu tadi lo keseret arus.. Hahaha”, Kang Jabir salah seorang senior saya menggoda saya. “Hahaha.. Apanya yang rok en rol. Lemes kang. Gak lagi-lagi deh”, kata saya sambil tertawa. Semua yang disitu tersenyum lega karena ternyata tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Saya selamat. Saya mencoba berdiri menuju jembatan tempat teman-teman saya berkumpul. Rasa nyeri menghampiri lutut saya, darah mengalir dan tampak lebam di beberapa tempat. Selama terbawa arus, kaki saya menabrak batu-batu di sungai. Tetapi selamat dan berada di daratan membuat saya tidak terlalu merasakan sakit. Teman-teman saya tersenyum melihat saya dan masih sempat menggoda saya, “Kumaha ra rasana? Eta aya perahu nanaonan maneh ngojay?”, seru seorang senior saya dalam bahasa Sunda yang artinya kurang lebih “Gimana rasanya ra? Itu ada perahu ngapain kamu malah berenang”. Saya dan semua yang di situ tertawa.
Setelah beristirahat dan mengevaluasi kegiatan latihan barusan, kami akan melanjutkan pengarungan panjang menuju jembatan baru. Tim saya mendapat hukuman berupa push up 25 hitungan karena tidak berhasil membalikkan kembali perahu yang juga terbawa arus dan diselamatkan oleh anak-anak yang sedang berenang di sungai. Kemampuan berenang anak-anak ini jangan ditanya lagi. Mereka berenang tidak menggunakan pelampung walaupun arus sungai sedang besar. Selain itu, salah seorang anggota tim kami kehilangan dayungnya ketika perahu terbalik. Selama pengarungan panjang saya tidak mendayung banyak karena masih lemas. Kami melakukan pengarungan kurang lebih 2 jam sudah termasuk istirahat makan siang. Mendekati jembatan baru, sungai lebih lebar dan flat. Tidak ada lagi jeram. Setelah sampai, kami mengangkat perahu dengan portagging dan menuju jalan raya untuk menunggu angkutan yang akan membawa kami kembali ke Bantar Caringin. Dalam perjalanan pulang, seorang senior menanyakan apakah saya baik-baik saja pasca terseret arus dan mengingatkan saya bahwa saya tidak boleh trauma untuk berarung jeram. Ya, masih banyak petualangan yang menunggu di depan sana dan dari awal saya sudah tahu bahwa kegiatan seperti ini berkaitan dengan nyawa karena berbahaya. Tetapi bahaya tersebut bisa dinimalisir dengan persiapan yang matang. Pelajaran yang tidak akan terlupakan bahwa nyawa bisa hilang kapan pun tanpa kita ketahui. Persiapan dan berserah kepada Yang Empunya Hidup. Terima kasih Citarum. Saya tidak akan kapok.

