Berkawan dengan Bahaya: Jangan Kapok!

Dari awal perasaan saya sudah tidak nyaman. Takut lebih tepatnya. Bukan hanya karena jeram yang sedikit lebih besar hari itu tetapi juga karena ukuran badan yang membuat saya susah mengangkat badan naik ke atas perahu. Hal ini sudah saya latih berkali-kali dan belum berhasil. Tapi jika kita takut, apakah itu berarti kita tidak akan pernah mencobanya? kata seorang yang saya kagumi dalam bukunya. Baru beberapa detik di atas perahu,skipper meneriakkan kepada kami untuk membalikkan perahu. Sontak kami semua kaget dan pindah ke boeing kanan sambil menarik tali di pinggir perahu karet tersebut. Sepersekian detik dan perahu dalam keadaan terbalik.

Saya panik dan terjebak di bawah perahu terbalik yang terus terbawa arus sungai. Saya minum banyak air sungai dan pikiran saya tidak terkontrol untuk beberapa saat. Bagaimana kalau saya mati di sini? Di sungai saat arung jeram? Saya tidak bisa membayangkan reaksi orang tua saya yang berulang kali menyatakan ketidaksetujuan mereka saya masuk organisasi pecinta alam. Hal yang pertama yang saya lakukan adalah harus keluar dari jebakan perahu. Saya meraba-raba dan memegang tali yang ada di perahu dan menolak kuat-kuat ke arah luar perahu. Saya berhasil keluar tapi permasalahan lain muncul.

Karena sempat berpijak dan menendang perahu, perahu malah semakin menjauh dari saya. Sungai yang terlalu lebar dan arus yang kuat tidak memungkinkan saya untuk berenang ke tepian. Saya kemudian mengikuti arus dengan mempraktekkan renang defensive. Renang defensive di mana kita menghadap ke hilir dan menyandarkan kepala pada pelampung. Baru kali itu saya merasakan fungsi pelampung yang sebenarnya. Arus sungai menampar-nampar muka saya dan tak sedikit masuk ke dalam mulut saya. Sakit rasanya. Beberapa lama saya tidak tahu apa yang harus dilakukan sementara teman-teman saya sudah beberapa yang berhasil berenang ke pinggir sungai. Sisanya melihat saya dan berusaha melemparkan tali rescue. Tapi percuma tali rescue yang kurang dari 2 meter itu tidak bisa menjangkau saya. Di depan ada sebuah hole besar yang menurut teori yang saya pelajari, setelah masuk ke dalamnya badan kita akan diputar-putar sedemikian rupa dan bukan tidak mungkin bisa terkurung di situ dalam waktu yang lama jika posisi badan salah. Ada cara untuk lepas dari hole yaitu dengan melakukan cannon ball. Cara ini dengan menekuk lutut dan merapatkannya dengan badan sehingga badan berbentuk bola. Saya panik.

Saya tidak bisa berpikir lagi untuk melakukan teori. Saya pasrah dan saat itu menengadah ke langit dan berkata dalam hati “Ya Tuhan, kalau hari ini saya mati, tolong ampuni dosa-dosa saya dan orang tua saya”. Rasanya kematian itu begitu dekat. Saya takut. Hole menyambut saya sebelum saya sempat melakukan cannon ball. Dua kali saya berputar di dalamnya kemudian keluar walaupun air sungai semakin banyak yang masuk ke mulut saya. Saya bahkan lupa kalau air Sungai Citarum mengandung limbah hampir semua masyarakat Jawa Barat. Who cares? Keluar dari sungai dan minum air putih yang sudah direbus lebih penting sekarang. Sementara saya berpikir, saya melihat ada hole besar lagi di depan. Jika tadi saya bisa selamat, yang ini belum tentu. Saya berteriak minta tolong tapi deru jeram dan jarak yang jauh dengan teman-teman saya membuat usaha itu sia-sia. Hole semakin dekat dan saya kemudian membalikkan badan berusaha untuk berenang offensive.

Sekilas saya melihat orang di atas jembatan melihat saya dan ada 2 orang yang saya kenali sebagai operator arung jeram sudah menggunakan pelampung dan setengah berlari. Saya berenang melawan arus tetapi badan saya tetap terbawa arus menuju hole. Saya berenang sekuat tenaga dan berusaha ke pinggir sungai. Kurang dari semeter lagi saya akan masuk ke dalam hole dan dengan menggunakan tenaga terakhir, saya melempar badan saya ke pinggir dengan berpegangan pada sebuah batu yang agak menonjol. Hampir terlepas dan saya melakukannya lagi. Setengah badan saya sudah di daratan dan setengah lagi masih diombang ambingkan arus. Saya merangkak dan ketika yakin seluruh badan sudah di atas daratan, saya menghempaskan badan sambil menengadah ke langit, “Ya Tuhan, itu matahari, terima kasih saya masih hidup”. Lelah tak terkira dan saya memejamkan mata. Apa itu barusan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *