Tebing 90 kami bagi menjadi tiga transek belt (garis lurus), dengan dasar metode mengambil contoh dari 30 persen wilayah tebing. Setiap transek memiliki puluhan plot dan sub plot yang mempermudah kami untuk mengidentifikasi jumlah tumbuhan pada saat pengambilan contoh. Untuk menentukan mayoritas populasi tumbuhan, hitungan penutup sub plot terakhir yang kami jadikan patokan.
Kegiatan yang kami lakukan sebenarnya baru permukaan. Menginventarisasi tumbuhan adalah mengumpulkan varian tumbuhan yang dapat hidup di permukaan tebing, di batu-batu cadas itu.
Posisi kemiringan tebing cukup mempengaruhi populasi tumbuhan yang hidup di permukaan tebing. Semakin kecil (dibawah 90) angka derajatnya, kemungkinan tumbuhan hidup di permukaan tebing semakin kecil. Hal tersebut disebabkan tanah yang terkonsentrasi di batuan mejadi sedikit. Bagaimanapun, tumbuhan tetap membutuhkan tanah sebagai media mereka untuk tumbuh.
Rekahan-rekahan batuan menjadi salah satu tempat bagi tumbuhan untuk berkembang. Dengan tanah yang terbatas, tumbuhan akan hidup dan mengakar melingkari batuan. Tumbuhan-tumbuhan yang akarnya mengikat batuan ini yang biasanya kokoh untuk digunakan tambatan saat melakukan pemanjatan.
Hasil inventarisasi tumbuhan tersebut menghasilkan data tumbuhan yang beragam. Dari mulai cara tumbuh hingga manfaat bagi manusia. Tumbuhan khas di tebing salah satunya adalah tumbuhan yang pengakarannya dapat melilit batuan atau rekahan pada tebing. Ficus sp dari famili moraceae merupakan salah satu tumbuhan yang memanfaatkan celah batuan yang memiliki tanah yang terperangkap, untuk dapat berkembang. Tumbuhan ini tumbuh melebar pada dinding tebing, lalu akarnya melilit batuan atau rekahan pada tebing, membuat ficus sp tampak melekat dengan tebing.
Dari data hasil inventarisasi tumbuhan permukaan tebing 90, rata-rata tumbuhan yang hidup merupakan tumbuhan yang memiliki fungsi obat. Beberapa tumbuhan seperti alang-alang (imperata cylindrica)selain banyak digunakan sebagai tumbuhan penutup atap rumah di beberapa daerah, tumbuhan ini memiliki juga fungsi sebagai antipretik, atau penurun panas ketika demam. Alang-alang merupakan salah satu tumbuhan yang banyak ditemukan di permukaan tebing 90.
Selain alang-alang, tumbuhan berkhasiat lain yang terinventarisasi adalah tumbuhanvitex trifolia. Tumbuhan yang termasuk habit semak ini memiliki efek farmakologi yang antara lain sebagai antibakteri, antifungi insektisida, antikanker dan sebagainya. Tumbuhan ini pada umumnya digunakan masyarakat sebagai pagar halaman. Namun dengan ditemukannya kandungan farmakologi pada tumbuhan ini, vitex trifolia dapat menjadi alternatif pengolahan obat-obatan.
Total, terdapat 24 jenis tumbuhan yang telah terinventarisasi pada kegiatan ini. Dari beberapa tumbuhan yang telah diidentifikasi, beberapa tumbuhan yang hidup di permukaan tebing 90 memiliki manfaat yang cukup besar bagi manusia. Tumbuhan-tumbuhan seperti alang-alang, amaranthus, vitex trifolia ternyata memiliki fungsi farmakologi. Tumbuhan-tumbuhan tersebut tergolong pada tanaman obat, dan beberapa diantaranya dapat diolah langsung.

