Pengarungan Sungai Cimanuk

Medan sungai berbelok ke arah kanan, setelah belokan itu terlihat tembok besar setinggi kurang lebih 15 meter berdiri menutupi aliran sungai, hanya disisakan sekitar 2 meter untuk aliran air, tapi ini bukan tempat yang kita tuju, akhirnya perahu menepi dan diputuskan untuk melewatinya melalui jalan darat. Perahu kami portaging sampai melewati tembok, lalu pengarungan dilanjutkan sampai tiba waktunya istirahat siang. Istirahat dilakukan di tepi sungai dengan ditemani makanan ringan yang sengaja kami bawa sejak awal pengarungan sambil berbincang-bincang mengenai pergerakan tadi.

Pengarungan dilanjutkan, entah ada berapa jeram yang kami arungi saat itu, yang pasti semua merasakan sensasi yang berbeda-beda saat mengarungi jeram-jeram tersebut. Secara umum tidak ada trouble yang dialami oleh kami, tapi dalam kegiatan arung jeram skala yang berlaku dalah skala detik, lengah sedikit akan berakibat fatal. Pada sebuah belokan sungai setelah melewati beberapa jeram yang cukup membuat tubuh merasa lelah perahu terdorong ke dinding sebelah kiri sungai, para awak perahu berhenti sejenak untuk menarik nafas, dan dalam waktu kurang dari 3 detik perahu terbalik memuntahkan semua awaknya tanpa kecuali. Saya dan beberapa awak kapal yang lain langsung menepi ke sisi sungai dan Fariz mencoba untuk membalikan perahu, lalu kami masuk ke perahu yang satunya lagi untuk mengejar Fariz dan perahu, rupanya Fariz tidak membawa dayung sehingga ia mencoba mengendalikan perahu dengan menggunakan tangannya seperti yang terlihat oleh kami di perahu ini. Setelah beberapa waktu perahu berhasil menepi di sebuah eddies, kami kembali ke perahu awal dan mendapati bahwa satu dayung merk carlisle milik kami hanyut terbawa arus. Pengarungan pun dilanjutkan dengan menggunakan dayung cadangan yang memang sengaja kami bawa untuk mengantisipasi apabila terjadi hal seperti ini sambil memperhatikan tepi sungai dengan harapan dayung yang hanyut tadi tersangkut dan bisa diambil kembali.

Keadaan jeram setelahnya tidak sebesar saat awal tadi, dan pencarian dayung pun tidak menghasilkan sesuatu. Akhirnya jembatan yang menjadi titik akhir pengarungan sudah terlihat dan mobil penjemput telah menunggu di sana, itu artinya pengarungan hari ini telah selesai. Kami langsung pulang menuju sekretariat Gerhana di Garut, dalam perjalanan terlihat wajah-wajah lelah namun puas akan pengarungan hari ini, banyak perjalanan berharga yang didapat, kami bersyukur hanya dayung yang hilang bukan pendayungnya yang hilang, kami pulang dengan pengalaman yang akan menjadi pelajaran berharga untuk pengarungan-pengarungan selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *