Pengarungan Pertama: Dari Ragu Jadi Rindu

Seperti biasa, mari kita mulai catatan perjalanan kali ini dari … dari mana ya, enaknya? Oh, dari aku yang gak suka sama olah raga air terutama di sungai (mau jadi orang yang waterproof), kecuali berenang di kolam renang biasa. Sungai Cimanuk jadi saksi pengarungan pertamaku. Sepanjang aku hidup. Jauh dari sebelum pelaksanaan masa bimbingan arung jeram, aku selalu memikirkan gimana nasibku ketika di sungai. Membayangkan beratnya baju basah, kacamata hanyut atau buram, tangan pegal karena harus mendayung sepanjang hari, dan segala pikiran berlebihan lainnya. 

Keputusan ku untuk ikut mabim kali ini juga bisa dibilang tercipta setelah banyak pertimbangan. Aku jadi harus merelakan kesempatanku untuk melakukan pendakian ke Gunung Argopuro bersama ayah. Aku berada di antara dua pilihan sulit. Keduanya menyenangkan. Di satu sisi aku ingin ke Argopuro, tapi di sisi yang lain aku juga ingin mencoba hal baru. Lebih dari itu, aku juga malas jika harus melakukan susulan mabim. Setelah meminta saran dari kanan, kiri, ngalor, ngidul, dan melakukan renungan panjang, aku putuskan untuk ikut mabim arung jeram saja. Dengan ikhlas aku merelakan pendakian ke Argopuro dan mengikuti pengarungan di Sungai Cimanuk. Aku tuntaskan dahulu tanggung jawab ini, ke Argopuro bisa nanti, begitu pikirku kemarin.

Apakah aku menyesal? Tentu saja … iya sedikit. Beragam kesibukan ku akhir-akhir ini memaksa untuk menetap di Jatinangor dan tidak kembali ke kota asal. Aku rindu segala hal yang ada di Bekasi. Aku rindu orang-orang yang aku sayangi. Aku juga rindu orang-orang yang sayang sama aku. Masa bimbingan membuatku semakin tertahan di sini. Namun, tidak dapat dipungkiri juga bahwa aku bersyukur. Pengalaman pengarungan pertamaku sangat berkesan! Fakta mengejutkan bahwa ternyata pengarungan di sungai benar-benar menyenangkan bagiku. Lelahnya mendayung seharian terbayar dengan canda tawa yang selalu dilontarkan. Jika ada rezeki waktu, uang, dan usia, aku harap kita semua bisa mengulang kembali masa ini. 

Mengurus transportasi juga menjadi salah satu hal yang aku syukuri. Jujur, aku bersyukur banget. Allah kasih rezeki bertemu orang-orang yang selalu tepat waktu dan gak pernah menggerutu kalau aku minta tolong untuk dijemput, bahkan kasih info-info yang sebelumnya aku gak pernah tahu. Semoga rezeki mereka semua dilimpahkan.

Aku belajar banyak hal. Kerja sama tim, kekompakan, pantang menyerah, saling membantu, dan pelajaran lain yang tidak pernah aku dapatkan di kelas ketika berkuliah. Rasa-rasanya aku jadi semakin bersyukur bisa bergabung bersama di Palawa. Kepada seluruh pihak-pihak terkait, terima kasih sudah menorehkan kesan baik dalam pengarungan pertamaku. Demi apapun momen ini akan membekas di hatiku. Selamanya. Bahkan jika dunia menolak, aku tetap cinta mabim arung jeram. Sehat dan bahagia selalu ya, all. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *