Merayap di Dinding Batu Citatah 125

“Bruk” tiba-tiba saudaraku jatuh dari tebing dengan posisi kepala berada dibawah

Musim masa bimbingan masih terus berjalan. Setelah menyelesaikan mabim Gunung Hutan sebelumnya, tibalah masa bimbingan operasional panjat tebing. Rangkaian persiapan mabim panjat dirasa lebih panjang dari mabim sebelumnya. Dimulai dengan binjas, latihan, pematerian, hingga peminjaman alat untuk memenuhi keperluan alat yang akan dipakai ketika pemanjatan. Terasa sangat melelahkan memang, namun sebuah pepatah mengatakan “lebih baik bersimbah keringat di medan latihan, daripada bersimbah darah di medan pertempuran”. Dan kami merasakan, pepatah tersebut sangatlah benar.

Setelah merasakan lelahnya menyiapkan segala kebutuhan, tibalah saatnya kami untuk pergi ke medan operasional. Ya, tebing citatah 125. Seperti seluruh kegiatan lainnya, kegiatan palawa diawali dengan keberangkatan dari rumah kami bersama, sekretariat. Dengan beban berat yang dibawa, kami bergegas menuju terminal bayangan Cileunyi menggunakan angkutan umum yang ada dan tiba dengan selamat di terminal bayangan Cileunyi. Tak perlu menunggu waktu lama, bis jurusan Tasik – Cianjur datang, rencananya kami akan menaiki bis tersebut dan turun di daerah tebing citatah 125. Untuk logistik yang kami bawa total ada 4 carrier ditambah tas helm dan tas tali. Terpaksa, logistik tersebut harus dibawa oleh kami bertiga dengan selamat sampai ke tujuan. Dalam perjalanan menuju citatah semuanya berjalan dengan lancar. Namun petaka tiba, karena kelelahan, kami bertiga tertidur di bis, lokasi yang kami tuju terlewat, dan kami malah berhenti di lokasi yang jaraknya sekitar 5km lebih jauh. Terpaksa, kami harus menaiki angkutan umum lain untuk sampai di lokasi yang kami tuju, yakni tebing citatah 125.

Manfaat kerasnya latihan terasa saat kegiatan pemanjatan dilaksanakan. Apalagi ketika melakukan artificial, yakni kegiatan pemanjatan dimana pengaman dibuat dengan cara memanfaatkan celah-celah batu serta pengaman alam yang ada di tebing. Di awal pemanjatan artificial, kami berbagi peran, saya sebagai leader dan saudara saya yang lain sebagai cleaner. Saat awal pemanjatan, semua berjalan dengan baik hingga kami membuat pitch. Biasanya pittch dibuat karena tali yang digunakan tidak mampu menjangkau puncak secara langsung atau karena jarak leader dan anggkta lain sudah terlalu sangat jauh. Namun pada kasus ini, kami membuat pitch dengan tujuan sebagai pembelajaran. Hal yang mengagetkan tiba ketika kami saling berganti peran. Saudara saya menjadi leader dan memulai pemanjatan lagi, tiba-tiba dia tergelincir dari pijakannya dan jatuh ke bawah dengan posisi kepala di bawah. Naas, tambatan yang dibuat untuk membelay ikut terlepas, dan saya sebagai pembelay ikut terbawa. Kami berdua sempat sedikit menggantung di tengah tebing, namun untungnya tambatan yang telah dibuat di bagian atas memiliki kekuatan yang baik dan dapat menahan beban kami berdua. Dengan kerja keras dan proses selama latihan, akhirnya kami berdua dapat menyelesaikan masalah yang kami hadapi itu, kami dapat menyelesaikan pemanjatan artificial yang telah kami mulai.

Ditulis oleh Shahiban Muzaki (xPLW 001 AW)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *