Menelusuri Pantai Priangan Timur bersama Ardi Wirasana

How Far I Go

Nada Aulia Azzahra

xPLW 005 AW

Langit diatas, pasir dibawah, kedamaian didalam. Pantai, tempat yang sering saya anggap sebagai rumah. Seperti ombak yang mengantarkan pecahan karang menuju daratan, begitupun catatan perjalanan ini yang saya harapkan bisa mengantarkan pembaca dalam sebuah kebahagiaan. 

Tak terasa musim masa bimbingan sebentar lagi berakhir. Dengan berakhirnya operasional susur pantai ini maka berakhirlah masa bimbingan kami, angkatan Ardi Wirasana. Setelah 3 bulan kurang kami berlatih dan belajar, banyak pengalaman dan cerita seru yang kami dapat selama masa bimbingan ini. Ditutup dengan hal manis dan menyenangkan. Jangan senang dulu tapi, masih ada ujian mabim. 

Beberapa orang mungkin tidak senang dengan operasional yang satu ini. Panas, membawa beban yang lumayan berat, medan yang cukup membuat kaki lelah. Perjalanan yang terbilang amat jauh dengan kondisi cuaca yang terik memang membuat suasana hati terkadang menjadi campur aduk. Tapi, untuk saya justru ini menyenangkan. Memang jika sesuatu bagi kita itu menyenangkan maka kita akan amat menikmatinya. Ya, walau sebenarnya rasa lelah itu memang ada saya pun terkadang juga tidak selalu semenikmati itu. Berjalan sejauh 20 km kurang lebih melewati beberapa macam medan hingga kaki yang sudah lelah dan sakit untuk melangkah. 

Di hari pertama hal yang paling membuat  saya amat kesal adalah saat melewati hutan. Kondisi tubuh yang mulai lelah dan mengapa rasanya amat lama keluar dari hutan itu. Kalau lewat bibir pantai setidaknya ada pemandangan yang bisa di lihat, ombak, ikan-ikan kecil, kelomang, kepiting. Ya, setidaknya ada yang bisa dilihat sebagai cuci mata. dengan suasana hati yang mulai tak karuan akhirnya kami keluar dari hutan tersebut tepat sebelum pukul lima sore. Saat keluar terlihat pancaran matahari berwarna ke orange – orange an dari sebelah barat. Padahal hal itulah yang saya tunggu, sunset. membayangkan berjalan di bibir pantai sembari menikmati tenggelamnya matahari. Namun tertutup oleh hutan karena kita berjalan ke arah Timur. 

Setelah melewati hutan Sancang kami akhirnya berlabuh dan mendirikan camp di pantai Sancang. Kondisi pantai yang sepi dengan sedikit pancaran matahari tenggelam dari sebelah kanan, sangat pas untuk dinikmati. Duduk di hamparan pasir menikmati deburan ombak dan hembusan angin di sore hari adalah hal terfavorit pada saat itu, amat tenang rasanya. Kegiatan ini tak hanya menyusuri pantai berjalan ke titik finish. Kami juga banyak belajar dari mulai bagaimana cara kita menyebrang melewati muara, berjalan diatas karang, melewati lumpur, melambung ke dalam hutan, melewati tebing, dan bagaimana caranya memetik buah kelapa. xixi ini materi bonus. Kami melakukan penyebrangan basah sebanyak 3 kali, seru tapi ada hal yang sebenarnya saya sedikit tidak suka. Membuat pelampung survival, tapi mau bagaimana? kalau kita tidak membuatnya mau dibawa seperti apa, tidak mungkin hanya kita gendong di pundak. basah, bisa juga tenggelam karena berat. Terkecuali kalau memang muaranya dangkal. 

Itulah hal-hal menyenangkan yang terjadi dalam 3 hari. Hingga akhirnya kami sampai di titik finish. Sejauh itu kami melangkah, benar-benar menyusuri pantai. Puas untuk saya 3 hari bisa menikmati keindahan, suasana di tempat favorit. Terimakasih untuk pengalaman memakan buah kelapa yang dipetik langsung dari pohonnya. Terimakasih Palawa, untuk penutupan yang manis. Dalam setiap pantai yang melengkung, dalam setiap tanjung yang menjorok keluar, dan setiap butiran pasir di pantai, ada suatu cerita tentang bumi yang sangat indah. Sampai bertemu di catatan perjalanan selanjutnya.

Bidang Media Informasi dan Relasi

Dewan Pengurus XXXIII

PALAWA UNPAD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *