CATATAN PERJALANAN MASA BIMBINGAN PANJAT TEBING DAN SUSUR GUA

Pada tanggal 14 Februari 2023, kami melakukan persiapan untuk melakukan perjalanan menuju tebing Citatah 125 yang terletak di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Dalam ROH, kami berencana berangkat pada pukul 15.00 WIB. Namun ternyata ketika masuk waktunya, kamu masih mengemas perlengkapan dan bahan makanan, sedangkan yang lainnya melakukan vertikal joging. Kami selesai melakukan pengemasan barang dan memasukkannya ke dalam angkot carteran ketika waktu Maghrib. Kami lalu melakukan apel keberangkatan sebelum akhirnya meluncur menuju Cileunyi untuk menaiki bus ke arah Padalarang. Kami berangkat dengan anggota mabim berjumlah lima orang; saya, Zaenal, Ali, Errly, dan Zaki; sedangkan pembimbing yang ikut adalah Teh Tiara dan Kang Iman

Kami turun dari angkot lalu menurunkan barang yang akan dibawa menuju medan operasional. Lalu kami didatangi oleh kenek bus yang melewati tempat tujuan kita. Ketika kami ingin menaiki bus tersebut, ternyata ongkosnya melebihi biaya yang telah dianggarkan sebelumnya. Akhirnya kami tetap menaiki bus tersebut karena saat itu sulit mencari tumpangan lain, menimbang sudah terlalu malam untuk menunggu tumpangan yang lebih murah.

Ketika kami telah menaiki bus, kami mengatur posisi duduk supaya tidak berjauhan. Saat itu, saya menyuruh Errly untuk duduk di dekat jendela dan Zaki duduk di sebelahnya karena khawatir jika ada penumpang lain yang berbuat apa-apa. Bus dengan jurusan Sukabumi pun berjalan memasuki gerbang tol. Kami pun tertidur sebentar saat perjalanan tersebut. Saya, seperti biasa, terbangun karena tidak tenang takutnya bus melewati tujuan kami. Akhirnya kami sampai di tempat tujuan kami,  meskipun turun tidak tepat di depan jalan menuju tebing Citatah 125 karena terhalang sebuah truk. Kami pun berjalan menyusuri jalan raya hingga memasuki jalan kecil menuju tempat kemah.

Sebelum kami mencapai tempat kemah, kami mengeluarkan headlamp yang kami bawa karena penerangan semakin berkurang seiring mendekati tebing. Kami sampai di tempat kemah lalu beristirahat sejenak dan segera memasang flysheet. Ketika sampai, ternyata terdapat Teh Nuri dan Kang Ijan yang telah memasang tali untuk pemanjatan di esok hari. Setelah selesai memasang flysheet, kami bersama kedua pembimbing (Kang Iman dan Teh Tiara) makan malam di dalam flysheet lalu dilanjutkan dengan evaluasi dan briefing untuk hari selanjutnya. Ketika evaluasi, kami mencoba untuk mengontak tukang galon yang nomornya diberikan oleh Teh nada namun tidak ada balasan. Setelah selesai evaluasi, kami kemudian bersiap-siap untuk istirahat, beberapa dari kami melaksanakan solat lalu bergegas memasang sleeping bag meskipun udara hangat. Saya mendapatkan tempat tidur beralaskan matras termal di medan miring yang membuat saya sering merosot hingga sulit untuk tidur.

Saya bangun ketika adzan subuh belum berkumandang lalu segera melakukan cek alat bersama Ali. Setelah selesai, saya kemudian membantu memasak lalu pergi ke bawah untuk

mengisi ulang galon bersama Zaenal. Kami turun ke jalan raya untuk mencari depot galon namun pada pagi tersebut tidak ada satu pun yang buka meskipun telah berjalan menyusuri jalan raya. Kami pun menunggu di warung karena katanya akan ada yang mengantarkan galon namun tak kunjung datang. Lalu kami dihampiri seorang ibu-ibu yang membantu kami mengontak tukang galon dan menyuruh kami menunggu saja di dekat tebing. Akhirnya kami kembali ke tebing dan kembali menyiapkan sarapan. Kami sarapan bersama lalu datang tukang galon yang ditunggu. Akhirnya kami mengisi botol air minum dan mulai memakai peralatan pemanjatan. Tak lama, Danish datang diantar oleh orang tuanya dan ikut bersiap-siap. Setelah siap, kami mendapatkan arahan dari pembimbing bagaimana cara memasang pengaman sisip di bagian bawah tebing. Setelah selesai, kami dibagi kelompok berjumlah masing-masing tiga orang. Saya satu kelompok dengan Danish dan Errly. Saya pun menjadi leader saat itu.

Kami awalnya melakukan artificial climbing dengan jalur berbeda dari kelompok lain. Namun setelah berjam-jam kami mencoba jalur pemanjatan, tidak membuahkan hasil yang berarti. Sebagai leader, saya bertugas membuat jalur yang akan digunakan. Dengan bantuan Errly dan Danish, saya mencoba memasang beberapa pengaman sisip ke banyak celah hingga mencapai ketinggian sekitar 4 meter di atas tanah. Ketika saya mencoba menaiki teras, pengaman yang saya pasang terlepas dan saya terayun ke bawah. Untungnya pengaman yang saya pasang sebelumnya tidak membuat saya jatuh menghantam tanah. Setelah jatuh, saya beristirahat sejenak lalu mencoba menaiki kembali namun terlanjur lemas. Akhirnya Danish menjadi leader menggantikan saya namun tetap tidak membuahkan hasil. Akhirnya kami menunggu kelompok lain menyelesaikan pemanjatan.

Makan siang dilaksanakan ketika Zaki sedang memasang pitch di tebing. Zaenal pun membawakan jatah makan siangnya dan beberapa pelatih dengan mulai memanjat menyusul Zaki. Mereka pun makan siang di atas. Sambil menunggu, kelompok kami tetap mencoba jalur awal namun tetap saja tidak bisa hingga kami membersihkan jalur dan menunggu kelompok sebelah menyelesaikan pemanjatan. Mereka pun turun dengan repling doble rope. Setelah jalur mereka kosong, Kelompok saya mulai melakukan artificial climbing dengan Danish sebagai leader. Saat itu, dia memasang terlalu banyak pengaman hingga jalur menjadi zigzag dan tali yang terhubung pada badan Errly dilepas terlebih dahulu karena tidak membuat pitch terlebih dahulu.

Setelah Danish sampai di titik pemanjatan terakhir, Errly langsung memasang simpul kupu-kupu dari sisa tali yang masih menjuntai ke bawah. Ia pun memulai pemanjatan yang diiringi oleh Kang Ijan dan diinstruksikan untuk merapikan jalur yang awalnya zigzag menjadi nyaris lurus secara vertikal. Saya saat itu menunggu lumayan lama karena menjadi sweeper dalam tim, ditambah hujan yang membuat saya menjadi pemanjat basah. Sebelum melakukan pemanjatan, saya disuruh membawa headlamp karena akan melakukan pemanjatan malam. Saya melakukan pemanjatan ketika adzan Magrib berkumandang. Celah demi celah saya naiki. Namun setiap pocket yang dipegang mayoritas menjadi licin karena berlumut dan terkena air hujan. Hal itu membuat saya bingung karena takut tergelincir, ditambah jalurnya berubah karena ketika Errly menaiki tebing, banyak pengaman dilepas karena dianggap tidak perlu. Beberapa kali saya diam membeku karena angin dingin berhembus kencang ditambah hujan di malam hari. Terkadang saya menangis karena merasa tidak bisa kemana-mana. Akhirnya saya diberi arahan oleh Teh Tiara dari bawah dan Teh Nuri dari atas sampai mencapai teras sebelum finis. Di teras tersebut saya banyak mengeluh hingga akhirnya tangan saya ditarik oleh Teh Nuri. Pemanjatan yang saya lakukan merupakan pemanjatan basah, gelap, licin, dan dingin.

Saya sampai di titik finis lalu memasang cowstail di tali pengaman dan beristirahat sejenak. Teh Nuri saat itu turun dengan cara repling. Setelah merapikan tali karmantel dinamis, kami diberi pilihan bagaimana cara kami menuruni tebing tersebut. Kami pun memilih untuk menuruni tebing dengan cara scrambling (melewati bagian belakang tebing) yang ternyata lebih sulit dari yang kami kira. Kami berlima (Saya, Kang Ijan, Teh Vio, Errly, dan Danish) pun mulai menuruni belakang tebing dengan hati-hati karena tanpa ada pengaman yang tertambat. Urutan orang yang turun adalah Kang Ijan, Danish, Errly, Teh Vio, lalu saya di paling belakang. Di belakang tebing tersebut kami melalui tangga besi yang licin dan kecil. Setelah sampai di bawah, Danish meninggalkan beberapa peralatan karena merasa lelah (meskipun kami semua lelah). Akhirnya kami kembali ke kemah dan mengecek alat bersamaan ketika melepas perlengkapan panjat.

Kami kemudian makan malam dengan masakan yang disiapkan kelompok yang telah selesai di awal. Sebelum makan, ada Kang Zaki dan Teh Nada di tempat makan malam. Saya saat itu menghabiskan nasi paling banyak karena terlalu banyak yang tersisa dalam nesting. Setelah makan, kami melakukan evaluasi dan briefing. Saat evaluasi, saya merasa masuk angin dan meminta Tolak Angin kepada Errly. Setelah selesai evaluasi, ternyata saya terkena maag dan menghambat pergerakan saya. Saya pun tertidur dengan keadaan sakit perut yang menyebabkan sulit tidur.

Saya bangun pertama lalu membangunkan yang lain namun tidak langsung keluar flysheet karena masih sakit perut. Errly kemudian memberi saya air panas dan obat maag. Saya tidur kembali karena merasa tidak akan benar jika langsung berkegiatan. Saya kemudian bangun dan langsung mengecek alat. Setelah selesai, saya langsung ikut berkumpul untuk sarapan.

Setelah sarapan, kami kemudian mengenakan perlengkapan panjat. Kami lalu berkumpul untuk pengarahan cara bolting yang dibawakan oleh Kang Zaki. Setelah selesai, saya kemudian melakukan jumaring sampai titik finis hari sebelumnya. Sesampainya di atas, saya mengobrol secara menggantung cukup lama dengan Kang Zaki. Saya lalu turun dengan cara repling. Setelah saya sampai di atas tanah saya kemudian pergi menuju Ali untuk melakukan top rope yang talinya telah dipasang oleh Kang Iman. Saat itu saya menjadi belayer dan Ali sebagai pemanjat pertama. Ali melakukan pemanjatan dengan satu kali percobaan dan berhasil. Sedangkan saya perlu tiga kali percobaan untuk berhasil melakukan pemanjatan. Setelah selesai melakukan top rope, Saya sedikit memberi arahan kepada saudara-saudara yang lain untuk melakukan pemanjatan yang telah saya lakukan sembari menunggu giliran untuk bolting. Saya pun akhirnya mendapat giliran untuk bolting dan bertanya terlebih dahulu kepada Zaenal bagaimana caranya. Setelah paham saya langsung memulainya dan merasa terlalu menikmati sehingga keasyikan dan menghabiskan waktu lama. Setelah disuruh oleh teh nada menyelesaikan bolting tersebut, juga karena hujan mulai turun, akhirnya saya melepaskan perlengkapan lalu mulai merapikannya di tempat cek alat. Ketika saya ingin melakukan packing pribadi, saya diinstruksikan untuk membantu Zaki yang sedang merapikan dua buah tali sepanjang 100 m. Kami pun merapikannya berdua tanpa ada seorang pun yang membantunya karena ketika Ali dipanggil, dia hanya melirik lalu kembali berjalan ke toilet. Banyak simpul tali yang kusut yang membuat kami memakan waktu lama. Setelah selesai kami membawa tali tersebut ke tempat cek alat lalu mengemasnya dan saya melakukan packing pribadi yang belum selesai.

Setelah barang selesai di packing kami kemudian berjalan menuju gua Hawu menggunakan jalur ilegal yang dibuat oleh Kang Ijan sebelumnya. Jalur tersebut digunakan karena jika kita melewati jalan raya akan memakan waktu kira-kira dua kali lebih lama. Meskipun demikian jalur yang kami lewati cukup menguras tenaga karena terdapat tanjakan dan turunan yang cukup menguras tenaga. Saat itu saya berada di paling belakang sebelum diikuti oleh pembimbing-pembimbing. Saya sempat tertinggal namun tetap di backup oleh pembimbing yang ada di belakang yaitu Kang iman.

Kami kemudian sampai di tempat kemah selanjutnya di sebuah lahan yang terdapat tembok karst yang rata. Kemudian kami membagi tugas untuk memasak dan mendirikan flysheet. Saat itu saya menjadi bagian memasak yang dibantu oleh teh nada dan teh Vio. Saat itu kami sedikit kebingungan karena beras ternyata kurang dan terdapat sayur-sayuran yang layu. Akhirnya kami memasak seadanya saat itu dan memaksimalkannya. Ketika masakan selesai, kami bergegas mengambil buku catatan dan headlamp untuk persiapan melakukan evaluasi pada malam itu. Kami kemudian makan malam dengan masakan seadanya. Setelah selesai makan malam, kami kemudian melakukan evaluasi dan briefing untuk hari esok. Dalam evaluasi tersebut, saya diharuskan untuk membersihkan kamera. Setelah evaluasi selesai, kami memandang langit yang penuh bintang-bintang dan akhirnya memutuskan untuk memotret langit dengan kamera DSLR milik Ali. Setelah selesai memotret langit, saya masuk ke dalam flysheet lalu mulai membersihkan kamera dan akhirnya tidur. Saat itu saya menjadi penanggung jawab untuk bangun tidur pada pagi esoknya.

Saya bangun sedikit terlambat namun tetap memaksimalkan waktu yang ada. Saya dan Zainal kemudian turun ke tebing Citatah untuk mengambil air bersih yang ada di sana karena galon sudah terlanjur kosong. Ketika selesai mengambil air, ternyata Kang Ijan mengikuti kami dan kami pun naik kembali bersamanya. Kami kemudian melanjutkan memasak lalu mempersiapkan peralatan yang akan dipakai untuk SRT. Setelah selesai memasak, kami mengemas makan siang dan saya mempersiapkan peralatan dokumentasi berupa action cam yang akan dipasangkan kepada helm yang dipakai oleh Danish. Kami kemudian pergi menuju gua Hawu dan mulai orientasi Medan untuk membuat jalur. Akhirnya kami membuat pengaman dengan webbing dan Ali sebagai rigging Man. Jalur yang dibuat Ali ternyata terlalu banyak yang berbentuk horizontal sehingga tidak maksimal dalam pengaplikasian materi yang telah diajarkan sebelumnya. Saat itu saya menjadi tim kedua bersama dengan Zaenal dan Zaki.

Sebelum Ali melakukan rigging, kami telah memasuki waktu makan siang dan mulai mengeluarkan snack siang. Ternyata snack yang kami bawa yaitu puding sedikit berlendir  dan rasanya sedikit berubah. Namun saya cuek dan tetap memakannya karena lapar. Setelah makan siang kegiatan kembali dimulai. Saya mengajak Zainal untuk pergi ke tempat di seberang untuk mengambil gambar dari jarak jauh. Setelah menimbang bahwa gambar yang diambil tidak akan bervariasi, akhirnya kami kembali turun ke bawah lalu mencoba memotret kelompok yang sedang melakukan SRT.

Jalur yang saat itu tertutup oleh banyak dahan ranting dan pohon membuat sulit untuk mengambil gambar hingga akhirnya kelompok saya mengobrol dengan Kang Zaki dan Kang iman. Setelah beberapa lama, saya diinstruksikan untuk mengambil peralatan SRT yang masih tersisa di tempat kemah. Saya pun pergi namun ternyata jalan yang diambil salah dan saya sedikit tersesat namun bisa kembali lagi. Setelah sampai di tempat kemah, ternyata perlengkapannya sudah habis dipakai oleh tim sebelumnya. Akhirnya saya menunggu Danish melepaskan peralatannya berhubung dia sudah selesai naik kembali.

Setelah kelompok sebelumnya selesai, saya mulai melakukan SRT setelah peralatan yang ada terpasang di tubuh saya. Dalam menuruni gua tersebut, tidak ada kesulitan yang berarti dan saya sampai di titik paling bawah. Saya menunggu Zainal menuruni tali dan dia pun memasang cowstail untuk beristirahat di bawah. Tak lama, Kang Iman sampai di bawah lalu menginstruksikan Zaki menuruni tali. Dia langsung disuruh naik kembali karena tidak cukup pengaman jika harus beristirahat terlebih dahulu. Akhirnya dia pun naik disusul oleh saya. Ketika saya menaiki tali, watercase yang saya kenakan talinya lepas dan membuat handphone milik Danish terjatuh ke tanah. Ketika saya ingin mengambil handphone tersebut, saya disuruh naik terlebih dahulu. Saya pun akhirnya naik dan menunggu Kang Iman memberikan handphone yang jatuh tersebut. Saya pun kemudian merapikan tali yang sudah tidak dipakai. Ketika Zaenal sudah merapikan tali sebagai sweeper, saya membantu melepaskan pengaman yang telah dibuat sebelum melakukan SRT. Saat itu Zaenal kebelet BAB dan saya yang merapikan webbing-webbing yang tertambat pada batu.

Keberangkatan kami cukup lambat karena barang-barang saya tidak di packing rapi sebelumnya. Kami berangkat ke gua lalai menggunakan angkot yang sudah dicarter oleh Errly. Sebelum sampai di gua kami mencari toko beras dan isi ulang galon. Setelah mendapatkan dua item tersebut kami segera menuju gua lalai yang ternyata jalanan yang kami tempuh jelek yang menyebabkan supir angkotnya mengeluh. Setelah sampai kami langsung membagi tugas untuk membangun flysheet dan memasak. Pemasangan flysheet sudah selesai lebih dulu dibandingkan memasak. Kami lalu berkumpul di tempat memasak untuk membantu dan makan malam di sana. Ternyata tempat tersebut banyak serangga berhubung kami makan di tengah kebun. Kami makan di sana lalu melanjutkannya dengan evaluasi dan briefing untuk hari esok. Setelah evaluasi dan briefing selesai kami segera merapikan alat masak lalu pergi ke flysheet untuk tidur.

Kami bangun lalu segera bersiap-siap untuk melakukan penyusunan gua lalai dengan mempersiapkan peralatan dan memasak untuk sarapan terlebih dahulu, juga menyisihkan makanan untuk dimakan di dalam gua. Kami makan cukup banyak karena telah memberi beras pada malam sebelumnya. Kami kemudian bersiap-siap untuk pergi ke gua dengan menggunakan wearpack dan sepatu boot juga membawa beberapa dry bag untuk menyimpan perlengkapan dokumentasi, peralatan pemetaan, dan konsumsi. Kami melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum memasuki gua lalai. Kami kemudian memasuki gua lalai dengan melakukan eksplorasi terlebih dahulu sebelum akhirnya pemetaan dengan sistem bottom to top. Kami mendapat peran secara merata seperti menjadi leader, stasioner, pointer, descriptor, sketcher, dan logistik. Kami makan siang di dalam gua lalu melanjutkan perjalanan untuk melakukan pemetaan. Kami keluar dari gua ketika mulai turun hujan. Kami lantas langsung pergi packing dan mengangkut barang-barang ke mobil yang telah disiapkan oleh Errly dan Ali. Saat itu saya merupakan orang yang paling lambat dalam packing.

Kami pergi menaiki mobil bak menuju Jalan raya untuk mencari bus ke arah Cileunyi. Mobil tersebut awalnya pergi ke pom bensin karena mengira kita akan mandi atau belanja sesuatu. Namun kami berlanjut ke jalan raya untuk mencari bus. Kami menunggu kedatangan bus cukup lama hingga teh Tiara mendapatkan bus tersebut. Kami menaiki bus tersebut dan sampai di Cileunyi hanya dalam waktu 1 jam. Kami kemudian naik angkot lalu sampai di sekre. Sesampainya di sekre, saya dan Zaki mencari makan malam.

Ditulis oleh : M. Bilghi Arroyan (xPLW 003 AS)
Editor : Teressa Deviani Pramana (xPLW 003 AU)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *