Bagaimana Kami Memandang Pabrik-Pabrik

Rasanya nama Citatah sudah melekat dalam benak setiap individu pencinta alam sebagai kawasan karst. Secara fungsional, karst merupakan sumber mata air bagi wilayah di sekitarnya karena karakteristiknya yang berpori membuat air dapat terserap ke dalam tanah. Tak hanya tentang bagaimana karst dapat menjaga keseimbangan ekologis, nilai historis yang terkandung dalam artefak di sana seperti alat-alat batu juga tulang, gerabah, sisa tulang dan gigi binatang juga merupakan dasar dari mengapa kawasan tersebut menjadi kawasan yang perlu dijaga. 

Di sisi lain, kawasan karst juga menjadi wadah yang bermanfaat bagi para pencinta alam untuk melatih diri dalam beroperasional di julangan tebing dan dalamnya gua. Di daerah kawasan karst Citatah sejatinya terdapat keduanya, namun kini eksistensinya mulai terkikis dengan keberadaan pabrik-pabrik penambang batuan karst yang berada di sekitarnya, mengitari tebing, berdampingan dengan pemukiman warga Citatah.

Dalam hal ini, terdapat dua entitas yang sama-sama memanfaatkan kawasan karst, antara pencinta alam yang mendamba suasana alamnya dengan penambang yang mendamba batuannya. Entah siapa yang memulainya terlebih dahulu, mereka yang memegang tebing dengan tangan polos atau mereka yang menambah retakkan di tebing dengan mata besi. Namun, perihal yang pasti adalah rasa kepemilikan tersebut tumbuh pada setiap individu di kedua entitas tersebut.

Rasa untuk memiliki tersebut menyebabkan adanya polemik tentang siapa yang sejatinya berhak? Kondisi ini sedikit banyak dapat tergambar dengan cerita Garrett Hardin tentang tragedy of the common di mana mereka menghiraukan fungsi-fungsi ekologis kawasan karst demi kepentingan sesaat kelompok atau masing-masing individunya karena merasa alam merupakan milik bersama (common goods). Meski begitu, secara administratif seharusnya polemik ini tidak terjadi karena kawasan tersebut sudah diatur oleh negara sebagai sebuah kawasan khusus yang kegunaannya telah ditetapkan dalam undang-undang.

Kami, para mahasiswa pencinta alam, turut terlibat dalam segala dinamika rasa di Citatah ini. Tebing dan gua di sana merupakan tempat dalam meraba keindahan alam dengan cara mengeksplorasinya. Dengan begitu, segala polemik yang terjadi pada tempat bermain kami pasti akan menjadi perhatian.

Tepat pada natal 2022, kami melakukan perjalanan ke Tebing Citatah 125. Agenda awal bermula dari niatan untuk mengajarkan Fauzi dalam melakukan operasional panjat tebing langsung di bebatuan, dengan tujuan lain untuk mencapai titik tertinggi di Citatah. Operasional ini banyak yang ikut, terdapat 11 anak Palawa yang menyertai.

Adlan, Iman, Ijan, Nuri, Ahli, dan Fauzi berangkat sehari sebelumnya dari Sekretariat ke Cimahi untuk menginap di Rumah Ijan, saya dan Tiara menyusul keesokan harinya. Sementara itu, Isti, Suar, dan Zaki berangkat dari rumahnya masing-masing.

Sedari pagi, Fauzi mempraktikkan materi-materi pemanjatan mulai dari bolting sambil menggantung di samping tebing. Sementara itu, yang lainnya membuat fix rope untuk jumaring-an dan jalur sport untuk manjat-manjat ceria. Materi selanjutnya yang dilakukan  adalah jumaring-an yang dilanjut dengan mencoba artificial climbing dengan menggunakan pengaman yang telah dibawa seperti sling webbing dan pengaman sisip. Di sela-sela waktu tersebut, saya dan yang lainnya turut panjat-panjat ceria di jalur yang ada. 

Setelah semua materinya selesai, Adlan pun mewujudkan gagasannya untuk mencapai top 125 dengan lead pemanjatan menuju ke puncak. Pada hari pertama, ia berhasil membuat sampai 3 pitch. Di sore hari pun, saya bersama Ijan dan Tiara menyusul dengan berjalan ke gua lalu jumaringan sampai ke pitch 1 yang telah dibuat. Dari gua tersebut, kami dapat melihat panorama Padalarang yang dipenuhi oleh pabrik-pabrik tambang dengan desing mesin bak polusi suara.

Sesekali terjadi ledakan, seketika kami tersentak atas suara itu, tetapi melihat jauh ke bawah, keheningan pun sudah turut menjawab apa dentuman tadi, pasti ulah pabrik tambang. Alat-alat seperti dinamit lah yang dipakai untuk mencomot batuan gamping tersebut. Tentu, saya prihatin terhadap kondisi ini, tetapi bagaimana menanggulanginya? Apapun caranya sesuatu yang merusak itu perlu dilawan dengan tindakan yang rasional. Di tempat inilah, kami bermain dan berlatih, jika habis ditambang lalu ke lubang batuan mana lagi jari ini akan masuk dan bergantung?

Malam harinya, kami melakukan evaluasi kegiatan lalu dilanjut dengan briefing untuk keesokan harinya. Menyesuaikan dengan 6 harness panjat yang dibawa, orang ketujuh pun akhirnya perlu rela menunggu sejenak untuk pergi ke puncak dari Tebing Citatah 125. Fauzi sebagai orang ketujuh menunggu di tenda sedangkan yang lainnya melanjutkan pemanjatan, onto the top.

Setelah semua anggota tim sampai di terasan pitch 2, pitch 1 pun dibongkar dan tali statis dibawa menuju ke pitch 2. Dari sana, Adlan dan Ijan pergi terlebih dahulu untuk melakukan pemanjatan artificial dengan menggunakan tali dinamis. Sementara itu, saya dan yang lainnya harus menunggu di pitch 2 untuk transfer sepasang ascender dari atas. Proses menunggu ini juga cukup memakan waktu yang lama dalam pemanjatan.

Sedari Gua atau menuju pitch 1, kami sudah melakukan transfer sepasang ascender berulang kali untuk jumaring-an di tali statis yang telah dijadikan fix rope. Di sela waktu menunggu itu, kami banyak berbincang, memandang, mendengar, merasakan… Sampai saya merasa tebing ini hidup, ia menjalin hubungan dengan kami, para pemanjat yang berpegang erat dan bergantung nyawa padanya.

Akhirnya, kami semua pun sampai di pitch 3, pemberhentian terakhir sebelum mencapai puncak 125. Waktu itu jam 15.30 ketika Adlan telah sampai terlebih dahulu di puncak serta memasangkan fix rope dengan tali statis. Orang kedua yang memanjat adalah Ijan dengan jumaring-an, tetapi sekaligus cleaning semua tambatan yang dipakai saat Adlan artificial.

Dengan memandang ke atas memang mungkin jalur jumaring yang dilalui tidak akan mencapai 30 meter, tetapi tetap saja hal tersebut tidak memungkiri fakta bahwa kita akan jumaring-an di ketinggian sekitar 100 meter. Dari ketinggian itu, panorama Padalarang memang terlihat jauh lebih indah karena perspektifnya menjadi lebih luas, semuanya terlihat: kendaraan lalu lalang, anak-anak bermain bola di lapang, julangan Tebing 90, sampai Fauzi di jalan setapak. Saya masih berpikir bahwa pemanjatan ini tidak akan terlalu menakutkan, “bayangkan saja seperti sedang jumaring-an di papan” kataku meyakinkan yang lain, dan diri sendiri tentu.

Suar pun menjadi orang selanjutnya yang jumaring-an ke atas. Setelah sampai di atas, 2 pasang ascender yang telah di atas pun di transfer terlebih dahulu ke bawah sehingga lengkap sudah alat untuk naik. Giliran Nuri sebagai satu-satunya pemanjat puan dalam tim untuk ke atas. Meskipun banyak ketakutan, tetapi ia sampai juga dengan naik perlahan sampai ke puncak. Setelah itu, Ahli pun mulai jumaring-an ke atas, meninggalkan diri di bawah bersama tali dan desing pabrik.

Dingin dan berangin, kelam dan kemerlap, batuan dan ketinggian. Sekarang saatnya, tuk mencapai puncak, onto the top. Saya pun bersiap dengan memasangkan kedua ascender pada tali setelah sinyal free rope terdengar. Pada 5 meter awal, jalur pemanjatannya masih bisa dilakukan dengan menapaki sisi-sisi tebing yang datar. Namun, setelahnya tebing sudah mulai vertikal, saatnya untuk benar-benar melakukan jumaring.

Seperti di papan, seperti di papan

Kata-kata itu saja ternyata tak cukup untuk menyingkirkan rasa takut saya akan ketinggian. Fakta bahwa saya sedang bergantung pada hanya seutas tali kernmantel di ketinggian 100 meter itu nyata. Memang ada benarnya ketika berada di ketinggian janganlah melihat ke bawah agar tidak merasa takut. Meski panorama gemerlap lampu kota itu indah, tetapi tetap saja.

Momen-momen pemanjatan ini membuat saya makin yakin untuk bahwa memang alat sama dengan nyawa, bagaimana hidup mati bergantung pada kondisi alat yang dipakai. Mungkin juga ada bantuan tangan Tuhan yang memegang.Setelah jumaring-an selama 20 menit, saya pun sampai ke puncak. Meneriakkan kode untuk menandakan kehadiran saya. Pindah pengaman dengan tenang ke safety line. Lalu, turut membuka simpul-simpul ke terasan yang lebih atas. Sampai juga di top 125, sedikit banyaknya rasa tenang mulai menyelimuti diri karena telah memijak tanah yang datar. Hal ini diiringi dengan rasa puas yang menggebu-gebu dalam diri.

Sedari awal masuk ke jalan raya Padalarang, saya sudah melihat banyak truk operasional pabrik yang berlalu-lalang, mengantar batu dari tempat penambangan ke pabrik. Aktivitas pabrik membuat debu-debu berterbangan yang mengganggu pandangan. Suara dinamit yang menggelegar pertanda ada bagian tebing yang dirusak. Rusaknya tebing berarti menghilangnya fungsi kawasan karst dalam menjaga keberlangsungan ekologis lingkungan di sekitarnya.

Dari jalan menuju tebing sampai ketika di atas tebing, saya memandang tebing-tebing ini merupakan tempat bermain kami yang patut dipertahankan. Sementara dari jalan menuju tebing sampai ketika di atas tebing, saya memandang bahwasanya pabrik turut merusak lingkungan ini dengan aktivitas tambangnya.

Lalu, bagaimana kalian memandang pabrik-pabrik?

Penulis : Muhamad Pandya Janitra Maguantara (PLW 24382 206 YA)

Editor  : Teressa Deviani Pramana (xPLW 003 AU)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *