Menjadi Seorang Samurai di Gunung Cijambu

Ketika telah melewati bukit yang tinggi dengan hiasan tanaman tanaman yang telah dipotong kami melakukan penebasan, dengan saya sendiri sebagai penebas, sebelum penebasan dimulai saudara nada mengarahkan arah yang akan dituju oleh saya sebagai penebas “ zi, lurus kedapan “ dengan gagah berani layaknya seorang samurai dengan pedangnya saya menebas apapun yang menghalangi hingga terciptanya jalur yang diinginkan.

Pada hari jumat saya dan dua saudara saya melakukan kegiatan Masa bimbimngan,jam 2 siang saya dan saudara saya melakukan persiapan dengan segala keribetannya karena keterlambatan dalam mempersiapkan apa yang akan dibawa untuk kegiatan, setelah selasai kami besiap siap bersama pembingbing, kami melakukan upacara pelepasan yang diakhiri dengan teriakan “TIGA KALI UNTUK PERHIMPUNAN! PALAWA,PALAWA,PALAWA.

Setelah melakukan perjalanan dari sekre ke desa genteng, yang dihiasi pemandangan sawah, yang seakan menyapa kedatangan kami ke gunung cijambu, ketika sudah sampai saya dan saudara saya membangung tenda dari flysheet hingga berdiri kokoh layak apartemen yang nyaman untuk dipakai tidur,  zaki “ zi kita buat flysheet nya aga bawah aja biar angin ga masuk” itulah percakapan kami untuk mempernyaman tidur kami di malam pertama

Pagi cerah menyambut kami di esok harinya, kami memulai dengan melakukan oreintasi medan, menelusuri punggungan, menaiki bukit dan melakukan penebasan layaknya seorang samurai, menbas pohon, dan tumbuhan yang menghalangi jalan kami bahkan tumbuhan berduri pun tak luput menjadi korban penebasan saya, lelahnya penebasan terbayarkan dengan pemandangan yang ada, hiasan gunung dan bukit menjadi obat untuk rasa lelah setelah penebasan, nada “ ihhhhh bagus pisan, mau foto dulu “ itu yang disampaikan oleh saudaraku nada sebgai pdd di kegiatan hari ini.

7 jam lamanya perjalanan kita, dengan diiringi lagu lagu yang tercipata dari mulut seorang musisi yang bisa dikatan calon seorang musisi ahahahhaha, akhirnya kita dapat mencapai titik puncak, dan pada malam harinya kita berbincang kesana kemari detemanin api unggun yang merah merona,

Besoknya jam 07.20 kami melukan perjalanan pulang dengan senang dan gembira ria, dan sampai menuju sekre pukul 12 siang.

Ditulis oleh Asyrurifa Fauzi (xPLW 004 AW)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *