Mengembara di Sungai Ketahun, Bengkulu (Bagian II)

Desa paling ujung itu bernama Desa Tik Sirong, dahulu sempat berganti nama menjadi Bantar Agung sehingga beberapa warga masih sering menyebutnya demikian. Setelah titik koordinat cocok dengan lokasi di lapangan, kami menyempatkan diri untuk mampir di salah satu rumah warga. Dari obrolan kami dengan masyarakat setempat, kami mendapat wawasan bahwa dahulu masyarakat sering dan sudah terbiasa melakukan aktivitas mengarungi sungai.

Namun, alat yang mereka gunakan adalah getek yang tersusun dari bambu sebagai perahunya dan sebuah bambu satu lagi sebagai dayungnya. Mereka menceritakan bagaimana kesulitan getek saat melewati jeram, pasti akan tersangkut. Mau tidak mau mereka harus turun dan mendorong getek tersebut. Tanpa pelampung ataupun peralatan lainnya, mereka mengarungi Sungai Ketahun. Kini hal tersebut sudah jarang dilakukan karena kemudahan akses yang meningkat dari sebelumnya, hanya segelintir orang saja yang pernah melakukannya.

Saat kami kembali ke basecamp, di sana sudah ada semua anggota tim ditambah dua orang rekan yang akan turut bergabung bersama kami dalam pengarungan ini. Mereka dari Mapala Pulkanik Universitas Bengkulu, Ihsan dan Hamka. Sore itu kami pun masak untuk makan malam. Selesai makan malam adalah waktunya evaluasi dan briefing. Dan keputusannya bahwa besok akan ada tim advance yang terlebih dahulu berangkat ke titik start untuk mengurus perizinan yang dirasa perlu, sebab kemarin pada saat plotting kita tidak menemukan bahwa desa tersebut bernama Tik Sirong sehingga belum ada suratnya. Selain mengurus izin, tim tersebut juga memesan mobil milik bapak yang kemarin mengobrol juga.

Tim advance berjumlah 4 orang dan akan bergerak menggunakan 2 motor, kemudian 2 orang akan ditinggal di titik start untuk menyiapkan camp dan masak sedangkan 2 orang lagi kembali ke basecamp dan berangkat bersama anggota tim yang lain dengan mobil. Peralatan pengarungan, pemetaan, dan river camp telah rapi dipacking apalagi ditangani oleh ahli packing dan peralatan kami, yaitu Mimi. Keesokan harinya, pukul 2 siang tim advance telah berangkat menuju Desa Tik Sirong, mereka adalah Petrus, Hamka, Yandi, dan aku. Perjalanan tidak terdapat masalah hanya saja beberapa kali Hamka harus turun dan sedikit berjalan untuk mengurangi beban motor. Tiba di Desa Tik Sirong, kami langsung mencari rumah kepala desa. Ternyata kades sedang tidak ada sehingga kami dilempar untuk menemui kepala dusun. Beliau menyarankan untuk mengurus izin dengan pak sekdes, namun rumahnya berada di desa transmigrasi yang jaraknya masih agak jauh lagi ke atas. Pak kadus (kepala dusun) bersedia mengantarkan kami ke sana.

About Palawa Unpad

Redaksi Website Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam Palawa Universitas Padjadjaran

Palawa Unpad

Redaksi Website Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam Palawa Universitas Padjadjaran