Bocah Soanggama yang Berkharisma

Anak lelaki kekar itu memberontak dengan memberikan isyarat lewat dada yang dibusungkan dan kepalan tangan melayang di udara. Rupanya Lau tak cukup takut dengan situasi semacam itu. Cukup dengan satu gerakan mata yang ia buka lebih lebar, seketika itu jua anak lelaki kekar itu kalang-kabut, balik badan, duduk manis kembali ke tempatnya

 

Kawan, dari sekian pengalaman yang saya dapatkan selama di Papua, cerita anak-anak SDN Soanggama adalah yang jadi favorit. Berbaur dengan anak-anak dan menciptakan pengalaman dengan mereka selalu menyenangkan. Diam-diam saya mengagumi salah seorang siswanya. Berikut kisahnya!

            Ada seorang bocah lelaki yang usia persisnya tak ada yang tahu. Mafhum, di Soanggama atau mungkin di beberapa daerah di Papua tanggal kelahiran rupanya bukan menjadi riwayat yang penting. Merayakan momen ulang tahun juga bukan sesuatu yang lumrah disana. Sepintas dari postur dan keluguannya, tebakan saya mungkin usianya sekitar 6 atau 7 tahun. Ia masih duduk di kelas 1, dengan wali kelas bernama Pak Arnoll, seorang guru yang merangkap sebagai kepala sekolah SDN Soanggama. Konon Pak Arnoll ini punya ilmu yang bisa mengakselerasi anak didik pandai membaca. Tentunya standar pendidikan di Papua berbeda dengan di Jawa. Skala cepat membaca di tengah-tengah pedalaman Papua biasanya berada di kelas dua atau tiga sekolah dasar.

Saya pertama kali menemui bocah lelaki itu ketika sedang bertugas mengamati situasi belajar di kelas satu. Saya masih ingat pelajaran saat itu adalah mengenai penjumlahan. Sudah menjadi kebiasan bahwa selesai Pak Guru menerangkan, akan ada sesi latihan menjawab soal-soal di buku catatan. Kemudian Pak Guru akan berkeliling memeriksa hasilnya satu persatu. Di saat kondisi seperti itulah bisanya keadaan kelas menjadi kacau balau. Biasanya anak-anak dengan mudahnya keluar dari bangku belajarnya, lari kesana-kemari, dan menciptakan keributan. Seringkali Pak Guru mengingatkan kalau anak-anak harus duduk manis menunggu ia berkeliling. Namun sesering itu pula anak-anak mengabaikan peringatan tersebut.

Saat itu saya sedikit panik melihat kekacauan yang sepertinya sudah menjadi santapan sehari-hari bagi Pak Guru. Tak butuh waktu lama, di sela-sela Pak Guru yang sibuk memeriksa tugas, secepat angin musim barat tiba-tiba anak-anak mulai rapi, satu per satu barisan di bangkunya masing-masing. Saya heran, kebingungan melihat situasi yang begitu cepat berubah. Rupanya ada sesosok peran bocah ingusan di baliknya. Setelah lama baru kutahu namanya adalah Lau Tabuni! Dari nama belakang saya tahu bawa ia berasal dari suku Dani.

Ya, Lau merepresentasikan mayoritas anak-anak Soanggama. Berkulit hitam, rambut keriting, sedikit ingus tapi sepanjang hari. Biasa berangkat sekolah tanpa mengenakan alas kaki, kalaupun pakai biasanya hanya sebelah di kaki kanannya, gemar makan ubi, baik ketika sarapan, makan siang atau makan malam. Berseragam dengan kancing yang tidak lengkap dan noken (tas tradisional Papua) yang berisi satu buku catatan untuk seluruh mata pelajaran. Sepintas tak ada yang istimewa dari dirinya. Namun kau akan benar-benar terpana ketika ia mulai bertingkah.

About admin