Meneliti Literasi Ekspedisi Padjadjaran Nemangkawi


Angka buta huruf di Provinsi Papua, dari data Susenas 2013, mencapai kisaran 32,69 %. Angka ini besar kemungkinan menunjukkan kemampuan membaca di Kampung Adat, salah satunya Kampung Suanggama masih minim, padahal kemampuan membaca adalah penting mengingat semakin hari dunia semakin berkembang.


Sumber foto : Blog Indonesia Hebat (http://explorelocalwisdom.blogspot.co.id)
Ilustrasi (Blog Indonesia Hebat – http://explorelocalwisdom.blogspot.co.id)

Tim peneliti Ekspedisi Padjadjaran Nemangkawi bertolak menuju Desa Suanggama, Papua, 18 November 2016. Ekspedisi Palawa Unpad yang bertemakan ‘Petualangan dan Pendidikan’ ini, dalam kegiatannya, turut memasukan aktivitas penelitian yang akan mencari tahu faktor penghambat literasi di Desa Suanggama, Papua.

Penelitian ini merupakan satu rangkaian kegiatan dengan pendakian Gunung Nemangkawi (Carstenz Pyramid) yang mengusung konsep zero waste mountaineering (pendakian minim sampah). Tim peneliti berangkat terlebih dahulu dan tim pendaki akan berangkat di waktu yang berbeda.

Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode observasi dan wawancara yang ditelaah dari segi psikologi dan sosial. Hasil dari penelitian diharapkan bisa mendorong pengembangan pendidikan alternatif bagi masyarakat adat Desa Suanggama dalam menghadapi perubahan tanpa meninggalkan tradisi dan budaya yang diyakininya.

Tim peneliti yang berangkat adalah Rizki Mulia P. (Fakultas Psikologi), Anisa Asri Sundoro (Fakultas Psikologi), Syarif Nur (Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan), dan Maria Teresa Erika (Fakultas Teknologi Industri Pertanian). Kegiatan ini sendiri akan berlangsung dari tanggal 18 November 2016 hingga 2 Desember 2016.

Selama ± 14 hari tinggal di tengah-tengah kehidupan masyarakat Desa Suanggama, tim peneliti akan coba memahami persoalan faktor penghambat literasi dari aspek sosial seperti sumber daya manusia (orang tua, guru, dan kepala suku), infrastruktur, dan budaya. Sedangkan dari aspek psikologi akan ditinjau bagaimana kesiapan anak usia sekolah dasar dalam belajar membaca.

Di tahap persiapan, tim peneliti sendiri telah melakukan simulasi pengambilan data di Desa Sukarame, Kabupaten Bandung dan uji coba alat ukur kesiapan membaca pada anak usia sekolah dasar di SDN Sinarjati, Kabupaten Sumedang. Simulasi ini dilakukan untuk memberikan gambaran mengenai metode dan alat ukur dalam penelitian yang dilakukan di Desa Suanggama.

***

Sekilas tentang Desa Suanggama, desa ini adalah sebuah desa adat yang berada di pedalaman Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua. Terletak tepat di tengah Pulau Papua. Dibutuhkan waktu sehari semalam untuk sampai ke Desa Suanggama apabila ditempuh dengan berjalan kaki dari pusat Distrik Sugapa.

Kondisi di Desa Suanggama jauh dari kesan modern dibanding kota-kota di Pulau Jawa ataupun kota lainnya di Pulau Papua. Tak ada listrik yang mengaliri Desa Suanggama, air untuk kebutuhan sehari-hari pun masih diambil dari sungai terdekat yang mengalir.

Hanya ada satu bangunan Sekolah Menengah Pertama yang terdapat di Pusat Distrik Sugapa dan diperuntukan untuk satu Distrik. Mayoritas penduduk Suanggama menganut Agama Kristen sebagai kepercayaannya, dan terdapat sebuah Kapel untuk beribadah. Penduduk Suanggama disusun oleh orang-orang Suku Moni dan Suku Dani, sedangkan mata pencaharian rata-rata Penduduk Suanggama adalah bercocok tanam dan berburu.

Kondisi alam yang masih berupa hutan hujan tropis melingkupi hampir seluruh wilayah desa. Akses menuju Desa Suanggama pun masih terbilang buruk, dan hanya dapat ditempuh dari pusat Distrik Sugapa dengan berjalan kaki atau menumpang ojek.

Desa Suanggama merupakan satu dari Sembilan desa yang tersebar di Distrik Sugapa, Desa Suanggama juga merupakan salah satu akses untuk pendakian menuju titik tertinggi Indonesia yaitu Puncak Nemangkawi (Carstenz Pyramid) selain Desa Ugimba, dan Desa Ilaga. Hal ini menjadikan Suanggama sebagai desa yang strategis dalam wacana penjelajahan.

Nilai strategis tersebut membuat Kampung Suanggama menjadi tujuan kunjungan pendaki mancanegara dan para peminat wisata khusus. Namun, nilai strategis dari Desa Suanggama tersebut tidak didukung oleh kemampuan literasi masyarakatnya. Literasi atau kemampuan baca tulis merupakan salah satu kemampuan dasar bagi individu untuk bisa mengembangkan pengetahuannya.

Angka buta huruf di Provinsi Papua, dari data Susenas 2013, mencapai kisaran 32,69 %. Angka ini besar kemungkinan menunjukkan kemampuan membaca di Kampung Adat, salah satunya Kampung Suanggama masih minim, padahal kemampuan membaca adalah penting mengingat semakin hari dunia semakin berkembang. Oleh karena itu dirasa perlu untuk menelaah faktor penghambat literasi khususnya kemampuan membaca di Kampung Suanggama dari aspek sosial-psikologis

Tim Ekspedisi Padjadjaran Nemangkawi bersama Rektor Universitas Padjadjaran ( © Palawa Unpad)
Tim Ekspedisi Padjadjaran Nemangkawi bersama Rektor Universitas Padjadjaran (© Palawa Unpad)

Pihak Rektorat Unpad telah menyatakan dukungannya secara penuh pada kegiatan ini. Dalam audiensi antara Palawa Unpad bersama Rektor Unpad Prof. Dr. med. Tri Hanggono Achmad, dr., yang diadakan pada 8 September 2016, Rektor Unpad mengatakan akan mendukung penuh kegiatan ekspedisi ini dan berharap hasil dari penelitiannya akan berguna bagi data Universitas Padjadjaran.

Ekspedisi Padjadjaran Nemangkawi diharapkan mampu mengulas banyak tentang Fenomena Petualangan dan Pendidikan di Tanah Papua. Wujud nyata yang diharapkan adalah dihasilkannya buku dan film tentang Zero Waste Mountaineering dan fenomena pendidikan di Desa Suanggama. Semua hasil tersebut akan dipaparkan dalam Seminar Ekspedisi Padjadjaran Nemangkawi sebagai penutup kegiatan

***


About Syarif Nur

Syarif adalah anggota Palawa Unpad Angkatan Fajar Wening. Kuliah di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran.

Syarif Nur

Syarif adalah anggota Palawa Unpad Angkatan Fajar Wening. Kuliah di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran.

  • Erwin Abdulrahman

    Selamat jalan. Semoga lancar dan bermanfaat.

    • Palawa Unpad

      Terima kasih kang, mohon doanya untuk kesuksesan ekspedisi padjadjaran nemangkawi 🙂