Kodingareng Keke, Hatiku Tertinggal di Sana


Aku mendongak menatap gelembung-gelembung berbagai ukuran yang keluar dari alat bantu nafasku. Di antara birunya air laut di sekitar Pulau Kodingareng Keke, aku menikmati warna-warni terumbu karang di bawah tubuhku yang terus bergerak-gerak mengikuti arus.


 

farah6
Menyelami keindahan alam bawah laut Pulau Kodingaring Keke, Makassar. ( ©Alyaa Farah Qonitah/Palawa Unpad)

Sore itu, 18 Oktober 2016, aku bersama lima belas orang peserta TWKM (Temu Wicara Kenal Medan) ke 28 divisi diving dari berbagai mapala dari Indonesia, bersama sekitar delapan belas orang panitia dan enam orang tim medis tiba di Pulau Kodingareng Keke dengan diantar menggunakan kapal perang KRI. Sebuah pengalaman yang luar biasa bagiku bisa berdiri di atas kapal perang bersama para awak angkatan laut Makassar.

Sesuai dengan namanya, “Keke” yang berarti kecil, Pulau Kodingareng hanya berupa dataran kecil yang memanjang dari timur laut ke barat daya, dengan luas daratan sekitar satu hektar. Pulau kecil ini terletak di sebelah utara Pulau Kodingareng Lompo (Lompo berarti besar). Saking kecil Pulau Kodingareng Keke, jika kita berdiri di ujung pulau kita masih dapat melihat ujung pulau sebelahnya lagi. Saat ini sudah berdiri satu bangunan sederhana tiga lantai di tengah-tengahnya.

 

farah7
Peserta Kenal Medan TWKM 28 Divisi Selam (Istimewa)

Pasir putih dan patahan karang pucat menyapa kami ketika pertama kali menjejakkan kaki ke Pulau Kodingareng. Setelah menikmati indahnya gradasi warna air laut selama beberapa saat, kami mulai mengeset alat selam yang sudah disediakan. Hari ini, kami akan mencoba penyelaman pertama hanya untuk melihat tingkat pemahaman dan kepanikan masing-masing peserta.

Pelaksanaan penyelaman ini akan dilakukan di bagian barat Pulau Kodingareng Kecil, karena perairannya cukup landai. Namun, pantai sebelah barat yang bersedimen pasir ini banyak dipenuhi karang-karang yang dipenuhi bulu babi. Tak sedikit dari kami yang menjadi korban hewan hitam berduri itu.

Teriknya matahari yang langsung membakar kulit tak mengurangi semangat kami untuk melakukan penyelaman di hari kedua ini. Kali ini penyelaman dilakukan secara berkelompok. Beruntungnya kelompokku adalah kelompok yang pertama turun dengan  dipandu oleh seorang pendamping. Kali ini, aku bersama anggota kelompokku yang lain, Bang Kakarlak, Bang Sogi, Bang Biongan, dan Bang Denni, kami akan menyelam ke kedalaman lima meter. Bang Yogo, pendamping kami dengan sabar membimbing kami untuk tenggelam dan menikmati indahnya terumbu karang di dasar laut.

Perlahan, Bang Yogo mengajak kami ke kedalaman sepuluh meter. Di sini, terumbu karang yang hidup mulai beragam. Bentuknya bermacam-macam dengan warna yang cantik. Kami berusaha untuk tak menyentuh terumbu karang yang berjajar indah di sekeliling kami, karena pertumbuhannya berjalan sangat lambat. Seperti halnya pembentukan ornamen dalam gua, terumbu karang sangat rentan dan mudah rusak serta membutuhkan waktu yang sangat lama untuk tumbuh kembali.

Selama penyelaman, beberapa kali  Bang Yogo menanyakan keadaan kami dengan kode tangannya.  Perlahan, setiap kami menambah kedalaman dengan dibantu gerakan kaki yang mengepak di dalam air, telinga kami merasakan tekanan kuat dari luar. Untuk menahan tekanan tersebut, kami harus melakukan equalizing, satu teknik yang membantu penyelam untuk menstabilkan tekanan pada gendang telinganya. Bila hal ini tidak dilakukan, gendang telinga penyelam dapat pecah dan mengalami pendarahan.

Sambil menikmati indahnya anemon yang menyembunyikan ikan clownfish atau yang lebih dikenal dengan sebutan ikan nemo, aku mengatur nafasku pelan-pelan agar keseimbanganku tetap terjaga. Namun ternyata sulit sekali untuk tetap tenggelam di sana. Berada di kedalaman sepuluh meter  cukup sulit kulakukan, karena arus laut yang cukup kencang membuat tubuhku menjauh dari penyelam lainnya.

Setelah menyelam hampir selama tiga puluh menit, kami pun menyelesaikan kegiatan penyelaman hari ini.  Begitu keluar dari dinginnya air, rasa lelah langsung menyergapku. Tubuh terasa pegal ditambah rasa lapar yang membuat kami bergegas berganti pakaian. Padahal  sebelum  menyelam tadi kami sempat sarapan dulu.


Tak lama kami membereskan alat, kami sudah dihadapkan dengan sajian makan siang yang luar biasa menggoda, sepiring besar ikan bakar dan sayur daun kelor khas makassar sudah menunggu untuk kami santap. Aku betul-betul bersyukur, karena selama berada di pulau, makanan kami terjamin sehat dan dapat memanjakan lidah kami. Bagaimana tidak, ikan bakar dan cumi bergantian setiap hari mengisi perut kami yang kosong.

Malam harinya, kami berkumpul kembali, karena di hari kedua ini bertambah satu lagi saudara kami, Bang Lubis dari Medan, kami pun melakukan perkenalan singkat kembali. Di depan api unggun, suasana begitu cepat menjadi akrab, kami saling ngobrol dan bercanda. Saling mengenal lebih dekat satu sama lain. Hangatnya api kalah dengan kehangatan yang kurasa bersama peserta dan panitia saat itu. Baru kusadari, ternyata rasa persaudaraan antar pencinta alam, meskipun baru saling kenal, terjalin begitu cepat dan dekat.

Kodingareng Keke terkenal dengan taman lautnya. Jika kalian menelusuri laman internet dengan kata kunci Kodingareng Keke, akan muncul spot-spot diving yang cukup memukau. Mobil VW combi, jetski, patung-patung Yunani, sampai bangkai kapal yang entah sudah berapa lama teronggok  di sana.

Di hari ketiga, kami menggunakan kapal kayu untuk menuju tempat penyelaman kami. Penyelaman dengan dengan teknik backroll. Teknik ini dilakukan dengan cara menjatuhkan badan ke belakang.

farah3
Backroll, salah satu teknik masuk ke dalam air (Istimewa)

Penyelaman kali ini dilakukan selama hampir setengah jam. Lagi-lagi dengan dibantu oleh Bang Yogo, aku, Bang Kakarlak, Bang Sogi, dan Bang Biongan turun menuju taman laut yang terkenal dari Pulau Kodingareng Keke. Spot diving pertama yang kami kunjungi ialah satu tempat yang di dalamnya terdapat bangkai jetski. Ketika kamera yang dipegang Bang Yogo mengarah padaku, spontan aku tersenyum walau aku tahu tidak mungkin terlihat senyumanku itu di balik alat SCUBA (Self Contained Underwater Breathing Apparatus, alat selam) yang kupakai untuk bernafas.

Tak sampai di sana, Bang Yogo mengajak kami  menyelam ke tempat lebih dalam. Tak jauh jadi situ, kami melihat bangkai mobil vw combi yang pernah kulihat di internet sebelumnya. Wow… rasanya aku benar-benar tak percaya bisa melihat langsung semua pemandangan yang tadinya hanya bisa kulihat melalui internet. Alhamdulillah…akhirnya sampai juga aku ke sini…

Meski hanya sebentar di sana tapi membuatku begitu terkesan. Kami kembali menambah kedalaman untuk melihat patung Yunani yang cukup terkenal dari Pulau Kodingareng Keke. Di antara samar-samar arus bawah air laut, aku melihat dua patung berdiri menjulang di hadapanku. Salah satu patung yang sedang meniup terompet itu terekam jelas di memoriku.

 

Atlantis garden, dua patung Yunani kuno yang berdiri dalam diam (©Alyaa Farah Qonitah/Palawa Unpad)

Ya, aku memang sempat mendengar cerita tentang  hidden paradise atau atlantis garden di kota Makassar ini yang ternyata memang cocok setelah aku melihatnya secara langsung. Indah, memesona, lautnya menghanyutkan, dan berhasil membuatku lupa daratan. Sekali turun, ingin lanjut lagi jika tak ingat bahwa tabung udaraku semakin sedikit isinya.  Akhirnya kelompok kami naik ke permukaan, setelah melakukan safety stop di kedalaman lima meter selama tiga menit. Safety stop dilakukan untuk menetralisir nitrogen yang masuk ke dalam tubuh penyelam melalui udara yang dihirup dari tabung.

Selain penyelaman, detik-detik terakhir kami di pulau ini dihabiskan dengan kegiatan pembersihan pulau. Kami mengambil sampah-sampah anorganik yang bertebaran di pinggir pantai dan membakarnya. Menurut koordinator lapangan kami, sampah yang ada di pulau ini merupakan sampah yang terbawa arus laut dari kota Makassar. “ Daripada kita bawa sampahnya ke Makassar, mending dibakar saja. Kalau kita bawa, belum tentu sampahnya diolah toh?” ucapnya dengan logat khas Makassarnya.

Agak miris melihatnya, pulau tak berpenghuni dan sekecil itu harus menampung sampah yang begitu banyak. Bagaimana dengan pulau yang besar? Akan sebanyak apa sampah yang teronggok di sana? Bukan hanya itu, sampah-sampah yang terbawa arus air laut akan merusak ekosistem laut. Bahkan di sela-sela terumbu karang yang hidup, sampah juga terlihat. Sungguh kasihan ikan-ikan yang tinggal di sana. Tak hanya sampah yang membuatku kecewa, karena banyak terumbu karang yang patah akibat orang-orang yang datang dan bermain di pantai kurang berhati-hati.

Patahan-patahan terumbu karang itu  menumpuk dan membuat ‘lahan daratan’ baru di ujung pulau. Itulah mengapa terdapat beberapa papan petunjuk yang berisi imbauan kepada para turis untuk berhati-hati ketika bermain atau menyelam. Karang-karang itu pun butuh kita lestarikan. Saudaraku, yuk kita lestarikan terumbu karang dan ekosistemnya agar kelak kita masih dapat menikmati keindahannya!

 

farah8
Pembersihan sampah di kawasan Pulau Kodingareng Keke (Istimewa)

Seorang pecinta alam sudah selayaknya ikut mencintai dan menjaga alam bawah laut, tidak hanya keindahan yang ada di darat. Buka matamu, jelajahi lebih dalam dan kau akan melihat keindahan kebesaran Tuhan yang dititipkan pada kita. Mengapa kita tidak berusaha menjaganya? Jangan terpaku pada ‘luar’nya saja, di dalamnya terdapat harta karun yang luar biasa indahnya. Ayo kawan, lampaui batasmu!

PS: Terima kasih untuk para peserta: Teh Anisya, Bang Puhun, Bang Kakarlak, Bang Bayu, Bang Yusuf, Bang Reinold, Bang Arif, Bang Sogi, Bang Biongan, Bang Kutu, Bang Mami, Bang Delta, Bang Amor, Bang Denni, Bang Isis, Bang Suwardi, dan Bang Lubis. Para panitia: Bang Yogo, Bang Nandar, Bang Wahyu, Bang Ganteng, Bang Fajar, Bang Ancha, dan yang lain yang ga bisa kusebut semuanya. Medis; Teh Fira, Teh Sukma, Bang Ori, dan yang lain.

Sampai ketemu lagi!

About Alyaa Farah Qonitah

Anggota Palawa Unpad Angkatan Nawa Ayaskara

Alyaa Farah Qonitah

Anggota Palawa Unpad Angkatan Nawa Ayaskara