Menyulut Memori Pengembaraan Pangkalan


Karawang, sebagai wilayah yang letaknya tidak begitu jauh dengan ibu kota negara dan merupakan kawasan industri internasional, rupanya masih memiliki desa seperti yang terbayang ada di pedalaman-pedalaman Papua sana.


Di malam yang sedang diguyur hujan, segelas teh tawar hangat menemani saya. Saya sedang asyik membaca artikel-artikel yang diposting oleh sebuah aplikasi komunikasi bernama line. Meski lebih dikenal sebagai aplikasi chat, namun belakangan line juga sering digunakan sebagai media promosi dan memuat artikel berita viral di kalangan masyarakat seperti line today.

Sedang asik membaca, tiba-tiba ada satu berita yang menarik perhatian saya. Judulnya: ”Warga Satu Kampung di Kota Tasikmalaya Tak Punya WC Sendiri”. Artikel berita tersebut dilansir dari Kompas.com. Membaca judulnya, saya langsung teringat memori dua tahun silam.

Memori yang saya maksud adalah memori pengembaraan yang saya lakukan bersama saudara-saudara saya di Palawa Unpad, sebagai syarat untuk memperoleh nomor pokok anggota. Saat itu, kami -yang terdiri dari 7 orang anggota tim (Najib, Rizky, Cibeng, Muni, Dien, Qonita, dan saya) dengan 2 orang pembimbing lapangan (Aulia dan Polin)- melakukan ekspedisi susur gua di daerah Pangkalan, Karawang, Jawa Barat.

Definisi ekspedisi menurut kamus Bahasa Indonesia adalah perjalanan penyelidikan ilmiah di suatu daerah yang kurang dikenal. Saya sendiri punya definisi (tambahan) tentang ekspedisi, yaitu suatu perjalanan mandiri baik individu atau kelompok yang merencanakan segala sesuatunya untuk mewujudkan visi dan misinya melakukan suatu perjalanan yang bersifat ilmiah atau yang bersifat menyumbangkan pengetahuan baru. Terlebih lagi, sebagai anggota mahasiswa pecinta alam, sudah sepatutnya kita bisa memberikan manfaat kepada lingkungan dan juga masyarakat sesuai asas Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Pada pengembaraan dua tahun silam itu, kami memberi nama pengembaraan kami: “Penelusuran, Pemetaan, dan Pendataan Lingkungan Gua Kawasan Karst Pangkalan, Kabupaten Karawang”. Lokasi Pangkalan dipilih karena eksistensi gua-gua di lokasi tersebut sedang terancam keberadaannya. Selain itu Palawa Unpad juga sedang mengumpulkan data persebaran gua di daerah Jawa Barat.

Dalam konteks penelitiannya, kami ingin mengetahui keadaan endokarst dan eksokarst di Pangkalan. Dalam hal endokarst, pada intinya, kami melakukan penelusuran, pemetaan dan pendataan biota serta ornamen di beberapa gua di Pangkalan. Hasilnya dari beberapa gua yang kami telusuri, terdapat 2 gua yang kondisinya sangat memprihatinkan yaitu Gua Bagong dan Gua Haji.

Gua Bagong sudah tidak layak untuk di telusuri, sebab kini menjadi tempat pembuangan air limbah pabrik yang tidak tahu darimana asalnya. Kemudian Gua Haji kini hanya tersisa chamber atau ruangan saja, karena disekelilingnya sudah dikeruk oleh aktivitas pertambangan. Alasan Gua Haji tidak dikeruk habis adalah karena terdapatnya sebuah makam tokoh agama yang dikeramatkan.

Yang menarik, menurut saya justru pada konteks eksokarst nya. Kami melakukan pendataan sosial di wilayah tempat kami melakukan penelitian, baik pada masyarakat sekitar lokasi penelitian maupun terkait keterlibatan pabrik semen. Karena pada saat itu gembar-gembor “selamatkan Karst Pangkalan” sedang meluap di berbagai media.

Banyak media yang menyoroti eksistensi Karst Pangkalan akibat eksploitasi pertambangan dan pabrik-pabrik semen di wilayah Karawang. Bagaimana tidak, setiap bentang alam karst pasti memiliki permasalahan yang hampir serupa. Yaitu eksploitasi pertambangan.

Kawasan karst pada dasarnya adalah kawasan yang kaya akan keberlimpahan sumber daya alam. Harusnya, dengan melimpahnya sumber daya alam di kawasan karst, masyarakat yang tinggal diatas kawasan karst itu juga memiliki kehidupan yang dekat dengan kata sejahtera. Namun faktanya, hampir disetiap wilayah yang memiliki permasalahan serupa -termasuk wilayah pangkalan-, justru banyak masyarakatnya yang tidak merasakan potensi kekayaan kawasan karst tersebut.

Para kapitalis, dalam hal ini, berperan besar karena memanfaatkan alam untuk semata menarik keuntungan yang sebesar besarnya tanpa memikirkan dampak lingkungan yang ditimbulkan. Tidak bisa dipungkiri, karst memang mempunyai banyak manfaat. Selain bagi para kapitalis itu, juga bagi manusia modern seperti kita.

Kita sebagai manusia modern, rupanya juga konsumtif dalam memanfaatkan kekayaan sumber daya alam yang ada. Pada dasarnya, manusia-manusia serakah dan manusia-manusia yang mementingkan diri sendiri itulah penyebab eksploitasi pada kekayaan sumber daya alam yang tidak terukur.

Saya tidak akan banyak membahas si kapitalis dan si manusia modern itu. Tulisan ini dibuat karena judul artikel berita yang saya baca dari Kompas.com berhasil membangkitkan memori saya yang pernah live in di desa Pangkalan Karawang selama 9 hari.

Kondisinya hampir serupa dengan desa di daerah Tasik yang diberitakan oleh Kompas.com tersebut, namun saya rasa kondisi di salah satu desa di Pangkalan Karawang yang bernama Dusun Tanah Bereum jauh lebih memprihatinkan.

Masyarakat dusun yang dihuni oleh 110 kepala keluarga ini rata-rata bermata pencaharian sebagai petani sayur, berternak, dan kuli tambang. Tidak jarang warga yang memanfaatkan gua untuk mengambil sarang walet sebagai salah satu sumber mata pencahariannya. Seperti yang kita ketahui sarang walet memiliki nilai jual yang tinggi sebagai bahan utama untuk obat atau kosmetik.

Karawang, sebagai wilayah yang letaknya tidak begitu jauh dengan ibu kota negara dan merupakan kawasan industri internasional, rupanya masih memiliki desa seperti yang terbayang ada di pedalaman-pedalaman Papua sana. Tidak teraliri listrik, tidak ada sumber air bersih yang dekat, tidak ada MCK, jalanan yang rusak parah, dan sarana dan prasarana yang tidak memadai.

Pertama kali datang, kami begitu kaget karena warga di Dusun Tanah Bereum tidak memiliki MCK di hampir setiap rumah. Mereka membuang hajat, khususnya buang air besar, di kebun-kebun sekitar rumah. Kami mengetahui hal tersebut karena saat beberapa kali mencari spot untuk membangun basecamp kami harus cermat mencari tempat yang bebas “ranjau”.

Bila malam tiba Dusun Tanah Bereum begitu gelap, tidak ada penerangan lampu di sepanjang jalan, hanya obor dari botol kratindaeng yang menyala di beberapa teras rumah. Untuk memperoleh air bersih, hampir semua warga membeli air di jerigen atau galon isi ulang untuk memenuhi segala jenis kebutuhan seperti minum, masak, mandi, dan mencuci. Meski sebenarnya, menurut mereka, terdapat sumber air yang biasa digunakan, yaitu air cekdam.

Cekdam adalah kolam besar seperti danau yang diperuntukkan sebagai kolam penampungan air hujan. Jadi, tidak terdapat aliran sungai atau sumber air yang memenuhi cekdam tersebut. Kondisi air cekdam berwarna kehijauan dan agak berbau. Aktivitas mandi, mencuci, dan buang hajat adalah hal yang biasa dilakukan di cekdam. Biasanya aktivitas tersebut dapat dijumpai jika di pagi dan sore hari.

Sebenarnya masih banyak cerita tentang pengembaraan kami dan cerita tentang Dusun Tanah Bereum ini. Namun kalian bisa membaca selengkapnya di laporan kami yang terdapat di sekretariat. Saya hanya intermezo usai membaca artikel berita yang hampir mirip kondisinya dengan Dusun Tanah Bereum.

Saya tidak habis pikir, bagaimana bisa mereka merelakan diri hidup dan tinggal di tempat seperti itu? Padahal jarak menuju desa yang teraliri listrik dan terdapat sumber air tidaklah begitu jauh. Sayapun tidak bisa berasumsi, karena setiap warga Dusun Tanah Bereum tentunya memiliki alasannya masing-masing.

Maksud saya menulis kembali memori pengembaraan di Pangkalan ini adalah untuk mengenang Dusun Tanah Bereum yang harusnya bisa kami bantu juga untuk diangkat ke media -seperti desa di Tasik yang dilansir Kompas.com tersebut-. Namun, karena keterbatasan satu dan lain hal saya dan tim tidak bisa mengangkat isu ini ke permukaan media dalam skala besar.

Misi dan harapan saya serta tim pada mulanya memang mengangkat isu ini ke permukaan dan bisa mendapat respon dari pemerintah Karawang tentang eksploitasi karst di Pangkalan dan menyoroti Dusun Tanah Bereum yang jauh dari kata sejahtera. Kami ingin menjadi mahasiswa pecinta alam yang dapat membawa isu ini, bahkan menjembataninya, hingga ke pemerintah Karawang. Namun setidaknya, kami telah menyumbangkan data -yang diharapkan- bermanfaat.

Semoga kelak saudara-saudara saya terutama adik-adik penerus selanjutnya dapat melakukan kegiatan ilmiah yang lebih dari ini. Dan bisa mengangkat isu-isu lingkungan maupun sosial yang dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan juga bagi banyak orang.

About Fika Indriani

Anggota Palawa Unpad Angkatan Bajra Karana

Fika Indriani

Anggota Palawa Unpad Angkatan Bajra Karana