Mengarungi Cikandang, Saya Puas!


Kami para pengarung mulai tidak tenang. Kami takut bila mana tiba-tiba ada air bah. Jika yang terjadi di hulu adalah hujan deras, maka kemungkinan itu besar adanya. Langit mendung. Gerimis turun.


Tim melakukan Portaging

Pengarungan ini diawali dengan semangat dari diri saya. Saya ingin mengarungi Sungai Cikandang. Diajak oleh teman KMPA Ganesha ITB, dan tahu bahwa Teh Yona turut pula dalam pengarungan ini, semangat saya semakin besar untuk melampiaskan keinginan tersebut. “Akhirnya target sedari menjadi siswa Palawa terpenuhi.” semangatku berteriak di dalam hati.

Ya, memang betul! Sedari awal saat saya masih siswa, ketika mengikuti materi arung jeram dan mendengar cerita pengarungan Sungai Cikandang, saya merasa sangat ingin untuk mengarungi sungai ini. Kesempatan pun datang. Segera saya persiapkan peralatan, surat jalan, data subjek, berlatih fisik dan mental.

Membawa nama Palawa Unpad, saya dan Teh Yona berangkat sore-sore menuju Garut. Untuk pengarungan besok, kami dari tidak diharuskan membawa perahu. Begitu arahan dari teman KMPA Ganesha ITB. Seperti biasa kami turun di bundaran Tarogong-Garut, yang dilanjutkan dengan membeli santapan malam. Di Garut ini ada nasi goreng favorit saya. Letaknya warungnya dekat dengan bundaran Tarogong. Nasi goreng ini memiliki cita rasa yang khas, rasa kari India. Nasi goreng unik ini memanjakan lidah saya dan memberi semangat tambahan untuk pengarungan besok.

Setelah makan, di bundaran Tarogong kami dijemput oleh teman-teman di Garut. Berboncengan di kendaraan dua roda, kami menuju rumah Uwak Yana (Penggiat Arung Jeram Senior di Garut). Sudah biasa rumah ini kami jadikan sebagai basecamp pengarungan sungai-sungai di Garut. Bertegur sapa merupakan hal yang kami lalukan ketika sampai di sana. Sisanya adalah menghabiskan waktu menunggu keberangkatan menuju titik start pengarungan besok. Susunan rencana operasional sudah dibuat oleh teman-teman KMPA Ganesha ITB.

Karena satu dan lain hal, malam itu Uwak Yana menyatakan tidak bisa ikut di pengarungan besok. Hal ini membingungkan kami. Ketidak-ikut-sertaan Uwak Yana akan banyak mengubah rencana. Apakah pengarungan ini diundur? dibatalkan? diubah tujuannya? atau tetap dijalankan sesuai rencana namun tanpa keikut sertaan Uwak Yana? Kami bingung.

Sesungguhnya keberangkatan saya untuk ikut mengarungi Sungai Cikandang ini juga didukung oleh keikut-sertaan Uwak Yana. Sepengalaman saya, beliau adalah sosok yang bisa diandalkan dan dipercaya sebagai tim dalam setiap pengarungan sungai. Namun apa daya. Keputusan sudah dibuat. Kami tinggal menunggu besok datang. Saya  membulatkan tekad untuk tetap melanjutkan pengarungan walau beliau tak turut serta. Saya meyakinkan diri bahwa rekan-rekan pengarung yang lain juga memiliki kemampuan yang cukup dalam bidang ini. “Besok kita akan mengarungi Sungai Cikadang tanpa Uwak Yana”, saya mengultimatum diri saya. Saya putuskan untuk segera menenangkan diri. Kami akan lewati malam ini dengan beristirahat di dekat rumah Uwak.

Esok hari pukul empat subuh kami bangun. Kami bersiap-siap untuk pengarungan. Setelah berpamitan dengan Uwak, kami pun berangkat. Di titik start kami mengganti baju dan makan sarapan pagi yang enak. Sebelum menuju tepi sungai, kami melakukan pemanasan dulu dan memanjatkan doa setelahnya. Tim siap mengarung. Alat-alat pengarungan kami bawa turun ke sungai.

Tim gabungan KMPA Ganesha ITB, Palawa Unpad, dan para penggiat arung jeram di Garut.

Beberapa jam meluncur di atas sungai, pengarungan kami terbilang berjalan mulus. Hal yang tidak saya sangka adalah air sungainya ternyata sedang surut. Tiap perahu kami berkali-kali mengalami wrap (kandas/tersangkut). Namun walau airnya terbilang surut, jika dibandingkan dengan sungai lain yang pernah saya arungi, kecepatan air mengalir di sungai ini masih lebih deras dan jeram-jeramnya tetap lebih menantang.

Saya pernah mendegar cerita mengenai musibah-musibah yang pernah terjadi di sungai ini. Air bah adalah salah satu yang pernah terjadi katanya. Saya sulit membayangkan air sebanyak apa yang bisa membuat bah setinggi tujuh meter. Penampang sungai ini begitu luas dan dipagari tebing. Sepanjang sungai saya melihat ada banyak undercut (jeram berputar yang mematikan) besar yang akan sangat membahayakan pengarung jika air sedang tinggi. Ternyata yang berbahaya di sini bukan hanya undercut. Berdasarkan cerita dari anggota Nikreuh (yang juga ikut dalam pengarungan ini), di bawah salah satu batu besar di sungai ini ada terowongan air. Akan sangat berbahaya bila pengarung sampai tersedot dan melewati terowongan tersebut. Saya tidak habis pikir menebak besar debit dan volume air yang mungkin melewati sungai ini jika curah hujan sedang tinggi.

Di tengah perjalanan, kami beristirahat. Langit mulai gelap. Gerimis pun turun. Kami para pengarung mulai tidak tenang. Kami takut bila mana tiba-tiba ada air bah. Jika yang terjadi di hulu adalah hujan deras, maka kemungkinan itu besar adanya. Atas pertimbangan titik finish yang sudah tidak jauh lagi, kami tetap melanjutkan pengarungan sampai akhir.

Perjalanan kami tiba di ujungnya. “Tenang. Lega.”, dua kata melintas dalam pikiran saya sesampainya di sana. Saya puas sudah mengarungi Sungai Cikandang ini. Saya puas meski sebagian diri saya masih menyimpan rasa penasaran akan keseruan yang lebih dari sungai ini. Pengarungan berikutnya saya ingin ikut lagi. See you soon!

645775

About Maria Teresia Erika

Anggota Palawa Unpad Angkatan Nawa Ayaskara

Maria Teresia Erika

Anggota Palawa Unpad Angkatan Nawa Ayaskara