Radio Dorf dan Omni Tech Penggiring Mair


Benar saja, di tengah perjalanan pulang kecemasan itu pun terjadi. Ia tiba-tiba lenyap di tengah pelariannya. Seluruh badannya bergantungan di dinding jurang.


Gerbang Masuk Wana Wisata Gn. Puntang, Foto oleh: Ronni Simbolon

 

Mengendap menembus dinding tenda, angin gunung itu perlahan masuk. Tenda tua dengan satu pintu yang bermuatan 2 orang ini kondisinya terbilang sangatlah sederhana. Bagian dinding terbuat dari kain tipis yang sudah terlihat lusuh. Rangkanya berbentuk silinder berdiameter setengah senti berwarna hitam, berbahan viber sedikit ringkih yang dirakit sendiri dari kumpulan rangka ‘bekas’ serta flysheet biru penutup luarnya yang dibuat sedemikian rupa dengan rancangan sendiri.

Matras hitam sedikit tebal menjadi lantai shelter peristirahatan malam ini, pun sekaligus menjadi penangkal dinginnya tanah pasundan di kaki Gunung Puntang. Sensasinya diam-diam menjalar dan perlahan masuk melalui pori-pori kulit, merasuk ke raga, dan puncaknya terciptalah getaran kecil pada tubuh ini. Kehangatan yang diharapkan dari kantong tidur berbahan polar, kaos kaki hitam tebal, kupluk rajutan berbahan wol, dan jaket serta celana panjang polar pun tidak secara maksimal menunaikan tugasnya. Hembusan angin semakin dahsyat mendekati larut malam. Tenda pun sudah mulai bergoyang mengikuti irama ayunan angin gunung malam itu. Sepintas lalu terbayang-bayang kehangatan dari nyala api unggun yang beberapa saat lalu kami ciptakan dari tumpukan beberapa ranting pohon mati dan dedaunan kering. Jam ditangan kiri ini sudah menunjukkan waktu subuh pukul tiga lebih sepuluh menit. Sudah seharusnya saya bergegas bangun, memasak makanan untuk sahur.

Pendakian di bulan suci Ramadhan memang menjadi pengalaman unik tersendiri bagi para pelakunya, begitupun dengan saya dan rekan setim lainnya, Ronni. Alam saat itu menjadi penentu segalanya. Keganasannya mengurungkan niat ini yang semakin lama semakin menciut. Jadilah pada akhirnya si tangan hanya mampu meraih beberapa keping biskuit lemonia tipis bergula yang ada di dekat pintu masuk di pojok tenda.

Obrolan pengantar tidur tak terlewatkan tentunya. Dalam gelap, wajah ini diterpa sinar dari nyala api unggun. Teh manis hangat dan kopi hitam menjadi pelengkap perbincangan kala itu. Obrolan malam pinggiran seunggun api kayu ditengah belantara hutan menjadi satu momen tersendiri yang sayang untuk dilewatkan. Nyala api memancarkan radiasi gelombang panas yang memberi kehangatan disekeliling tubuh dan sang minuman tak kalah penting menghangatkan bagian dalamnya. Jadilah badan ini seketika siap tempur menghadang tiupan angin malam yang berhembus dengan bagasnya dari punggungan Gunung Puntang. Tembang lagu nasional, mancanegara, dan tak ketinggalan juga lagu daerah medan pun bersenandung dari telepon genggam dan menjadi backsong sekaligus penyemarak suasana yang sebenarnya sangatlah sepi. Kebetulan sang empunya telepon genggam berasal dari Tanah batak.

Sejauh mata memandang tak satupun terlihat rombongan pendaki lain atau semisal tanda-tanda kehidupan. Sangat hening. Riuhnya angin malam dapat terdengar kentara. Memang butuh niat, motivasi dan kemauan kuat untuk melakukan pendakian gunung saat menunaikan ibadah saum. Peralatan tempur tidur berangsur-angsur mulai dikenakan. Badan perlahan terkulai ditengah dinginnya malam, semakin terasa lemas dan akhirnya terlelap hanyut dalam mimpi yang kosong.

Pemandangan di salah satu spot perhentian pendaki, foto oleh: Ikhsan Rizky

Gunung Puntang sebenarnya sangat unik dengan sejarahnya. Memiliki geomorfologi yang sangat luar biasa sampai menyadarkan bangsa kolonial Belanda terdahulu akan keuntungannya. Berbentuk seperti antena raksasa menyerupai tapal kuda. Dahulu pernah dibangun sebuah Kampung Radio (Radio Dorf) yang menjadi stasiun radio transmitter terbesar se-Asia Tenggara dengan fasilitas yang mewah. Gunanya adalah untuk berkomunikasi dengan Kantor pusat di negara band legendaris Tielman Brothers. Bagi yang belum tahu, band ini adalah band rock ‘n roll keturunan Indonesia yang sangat tenar di benua biru di tahun 1950-an, jauh sebelum tenarnya The Beatles atau Rolling Stones. Radio ini hanya bisa memancarkan sinyal saja (transmitter), sedangkan penerima sinyal radionya (receiver) berada di daerah Padalarang dan Rancaekek. Panjang antena buatan yang digunakan 2 km dengan ketinggian dari dasar lembah mencapai 500 meter. Dan radio ini pun mampu menjadi alat komunikasi canggih yang dapat menghubungkan 2 negara yang terpisah di 2 benua berbeda pada tahun 1920-an.

Fajar mulai menyongsong dari ufuk timur. Sang surya pun memulai rutinitasnya. Kaki perlahan melangkah menjejaki punggungan Gunung Puntang yang terbilang masih rimbun. Jalur setapak bertanah menggiring langkah awal perjalanan. Matahari saat itu bersinar terang namun hangatnya tak terasa sampai ke kulit. Rindang pepohonan menjadi penyebab utamanya. Atmosfirnya sangat lembab. Sepanjang perjalanan banyak ditemukan serangga sebesar lalat yang tiba-tiba mengerubung di bagian kepala. Kata sang rekan, binatang ini di tanah kelahirannya bernama ‘Agas’. Ia pun juga nampak kewalahan mengusir kerumunan makhluk ini yang semakin dibiarkan semakin mengganas menghampiri wajah. Hawa hangatlah yang mengundang kedatangannya.

Sempat terbayangkan serangga itu akan masuk melalui hidung, hinggap dan menetap di paru-paru, berkembak biak dan lama kelamaan membangun sarangnya sendiri. Namun bayangan itu segera dihalau sejauh mungkin dan berusaha lebih fokus dulu mengusir kerumunan mereka sebelum khayalan buruk itu menjadi realistis.

Saya berada di belakang Ronni yang berjalan lumayan cepat. Kadar asupan kalori kami sebenarnya tidak sebanding. Pun ditengah perjalanan, sang rekan ini dengan lancangnya merebus sebungkus mie instan yang tentu aroma rebusan, kombinasi bumbu dan minyak sayurnya merangsang Hipothalamus dalam otak ini agar sesegera mungkin mengurungkan niat melanjutkan ibadah saum yang baru saja dimulai beberapa saat yang lalu.

Perjalanan sudah semakin menjauhi titik awalnya. Batas kerimbunan pohon pun kami temukan pada akhirnya. Dari kejauhan sudah terlihat titik tertinggi yang menjadi tujuan akhir. Namun anehnya, saat dihampiri tidak ada satupun petunjuk atau semacam plang yang meyakinkan bahwa ini adalah Puncak Mega (Puncak tertinggi Gunung Puntang). Saat itulah ingatan akan foto pendaki terdahulu yang sempat dilihat saat berselancar di dunia maya mulai bermain. GPS Garmin 62s juga mempertegas perjalanan ini sudah sampai pada tujuan akhirnya. Namun titik yang lebih tinggi masih terlihat didepan. Rasa penasaran ini pada akhirnya menemukan sebuah jawaban menggembirakan. Ternyata titik yang dimaksud adalah Puncak Gunung Malabar yang dengan kata lain bukan tujuan dari perjalanan kali ini. Tuhan memang Maha Tau akan batas kemampuan umatnya.

Pemandangan dari Puncak Mega (2223 Mdpl), Foto oleh: Ronni Simbolon

Semakin sore perut ini semakin meronta-ronta. Dengan tenaga sisa, saya langkahkan kaki ini menuruni punggungan dengan perlahan. Kalori lumayan sudah terkuras habis. Berbeda dengan Ronni yang terlihat masih semangat. Dengan enteng dan bahagia ia berlari menuruni lereng yang gradiennya cukup lumayan. Terbayang jika jatuh akan seperti apa repotnya mengevakuasi rekan ini sampai ke bawah untuk mendapatkan pertolongan.

Benar saja ditengah perjalanan pulang, kecemasan itu pun terjadi. Ia tiba-tiba lenyap seketika ditengah pelariannya. Saat dihampiri, seluruh badannya sudah bergelantungan di dinding jurang. Kedua tangannya tampak memegang sangat erat pada akar pepohonan pinggiran jurang. Tenaga yang masih berlebih dan didukung dengan sepatu trekking teknologi terkini saat itu bermerek Columbia dengan sol Omni tech yang konon katanya memiliki cengkraman kuat, sukses meningkatkan kepercayaan dirinya dan hampir mengantarkanya pada sang ilahi. Suara adzan yang ditunggu akhirnya berkumandang. Mie instan, kopi dan rokok menjadi santapan berbuka yang sangat aduhai saat itu.

Gunung ini memang tidak setinggi Everest di Tibet, Puncak Carstenzs di Papua, bahkan tidak masuk dalam seven summit-nya gunung di Jawa Barat. Namun kekayaan sejarahnya menjadi nilai tambah yang akan tercatat dan selalu dikenang abadi sepanjang masa dan semestinyalah diceritakan secara turun temurun kepada generasi penerus, anak cucu, agar mereka tahu histori penting yang pernah terjadi dahulu kala.

Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa pendakian gunung bukan saja tentang bagaimana mencapai titik elevasi tertingginya, disamping itu masih ada hal penting semisal sejarah yang menyertai keberadaannya sehingga dapat menjadi bagian yang tidak kalah menarik untuk diekplorasi.

About Muhammad Ikhsan Rizky

Anggota Palawa Unpad Angkatan Bajra Karana

Muhammad Ikhsan Rizky

Anggota Palawa Unpad Angkatan Bajra Karana