Catatan dari SpeleoTalks


Berbagai fauna dan flora yang hidup tersebar di semua lanskap karst merupakan anugerah yang sangat patut untuk disayangkan jika semua itu rusak dan hilang. Setidaknya kita saat ini menjadi saksi atas pemiskinan, perusakan, dan langkah menuju penghilangan semua kekayaan tersebut. Apakah kita akan tetap tinggal diam?


speleotalks mozaik

Oleh : Mirza Ahmadhevicko *

Acara dua hari (4 – 5 Mei 2016) bertajuk SpeleoTalks (Protection and Management of Caves and Karst) yang digelar oleh Indonesian Speleological Society bekerjasama dengan Pusat Penelitian Biologi LIPI dan Perkumpulan Mahasiswa Pecinta Alam Institut Pertanian Bogor (Lawalata IPB) diisi dengan diskusi panel dan kunjungan lapangan yang berlangsung cukup meriah dengan peserta yang lumayan banyak. Para narasumber pun terlihat bersemangat, mengimbangi antusiasme yang terlihat pada wajah-wajah peserta yang hadir di Gedung Kusnoto P2 Biologi LIPI, Jl. Juanda No. 18, Kota Bogor.

Pada sesi diskusi panel di hari pertama, Dr. Jean-Pierre Bartholeyns (Adjunct Secretary UIS and President of the UIS Department of Karst Protection), memaparkan makalah berjudul “Protection and Management of Caves and Karst” sebagai pengantar dan selanjutnya berfokus pada pembicaraan “Good Practices for the Management Show Caves”. Paparan komprehensif dari Dr. Jean-Pierre tentang show caves memperoleh padanannya sehingga peserta dapat memperoleh ilustrasi yang klop melalui pemaparan Ibu Yuniat Irawati dari Kemendagri yang bercerita tentang Manajemen Wisata Gua Pindul: antara harapan dan realita. Indonesia masih harus banyak belajar dalam hal pemanfaatan karst dan gua-gua sebagai obyek wisata dalam arti yang sesungguhnya. Narasumber berikutnya, Sigit Wiantoro, M.Si., seorang peneliti dan ahli kelelawar LIPI, memberi paparan ihwal peran penting dan kontribusi biodiversitas kawasan karst Indonesia bagi kehidupan manusia. Dan narasumber terakhir, Mas Fredy Chandra, S.T., Coordinator of Research, Development and Expedition of Indonesian Speleological Society, memberi pemaparan menyeluruh tentang kondisi dan tantangan dunia speleologi dan karst di Indonesia.

Di awal acara, Presiden Indonesian Speleological Society, Dr. Cahyo Rahmadi, dalam pidato sambutannya, menyoroti RPP Ekosistem Karst yang pembahasannya sudah begitu berlarut-larut dan tak kunjung usai. Beliau berharap semoga RPP dapat segera dituntaskan menjadi Peraturan Pemerintah. Selain itu Mas Cahyo, di atas podium, menyampaikan ketersanjungannya atas kehadiran para peneliti senior, para profesor, dan Dokter Ko. Khusus mengenai nama yang terakhir disebut, sebagaimana disampaikan oleh Mas Cahyo, “Bagaimana pun beliau adalah pelopor dan eksponen penting dalam lahir tumbuh kembang gerakan speleologi di Indonesia.” Ketua Lawalata dalam pidato pembukaan acara menyampaikan betapa SpeleoTalks sekurangnya akan menyinggung karst dan speleologi dari perspektif sosial, lingkungan, dan akademik. Meski demikian, menurutnya, kita sebagai para pencinta alam sudah pasti akan terusik dan bahkan marah ketika tempat bermain kita dirusak. Lebih lanjut, “Kami dapat berkontribusi dengan mengumpulkan data, memetakan, dan semoga melalui kegiatan ini potensi kami dapat semakin diperkaya.”

Pernyataannya mengingatkan saya pada pernyataan salah seorang senior Lawalata, Dr. Suryo Adiwibowo, yang disampaikannya di tengah acara Indonesian Speleologi Gathering 2014 yang silam. Menurutnya, hubungan penelusur gua dengan kawasan karst dan gua-gua yang ada di dalamnya berada pada tingkat sekunder atau bahkan tersier, berbeda halnya dengan hubungan para petani pegunungan Kendeng yang bersifat primer karena berkaitan dengan mata pencarian yang menjadikan mereka begitu erat terkait dengan lingkungan karst. Fenomena “penyerobotan” bentang lahan karst yang akan diubah menjadi areal pertambangan dan pabrik semen menjadi ancaman bagi kehidupan mereka dalam artian harfiah sehingga warga pegunungan Kendeng yang berprofesi sebagai petani akan berjuang mempertahankannya meski harus bermandikan darah dan bahkan menjemput ajal. Mengapa hal itu dapat terjadi? Karena urusan tersebut berkaitan dengan soal hidup dan mati. Lain ceritanya bagi para penelusur gua yang dalam kondisi tertentu, boleh jadi, akan mengikhlaskan beroperasinya pabrik dan tambang dengan, misalnya, kompensasi perusahaan mengucurkan dana untuk mensponsori ekspedisi penelusuran gua ke tempat-tempat yang jauh, sebut saja Eropa atau Australia, ke Vietnam, Laos, atau Filipina. Penelusur gua di Indonesia mungkin akan menjadi tidak peduli akan keberadaan karst di tanah airnya sendiri selama aktivitas penelusuran gua yang menjadi hobi dan kegemarannya tetap dapat dilakukan dan itu tidak terbatas di tanah tumpah darahnya. Acara diskusi dimoderatori oleh Dr. Hari Nugroho dari LIPI.

Manusia banyak mengambil manfaat terhadap alam karst, demikian Mas Sigit M.Si membuka paparannya. “Kita memang begitu kaya, kaya sumberdaya, kaya akan biodiversitas. Dan kita seyogyanya dapat memanfaatkannya secara bijak sana dan berkelanjutan.” Mas Sigit memberi bukti-bukti hasil penelitian yang menunjukkan betapa Indonesia memang begitu kaya melalui tabel dan angka-angka yang dipampang di atas layar proyektor digital. Berbagai fauna dan flora yang hidup tersebar di semua lanskap karst merupakan anugerah yang sangat patut untuk disayangkan jika semua itu rusak dan hilang. Setidaknya kita saat ini menjadi saksi atas pemiskinan, perusakan, dan langkah menuju penghilangan semua kekayaan tersebut. Apakah kita akan tetap tinggal diam dan hanya menonton terjadinya semua itu? Kegiatan SpeleoTalks atau yang semacamnya antara lain juga menjadi ajang untuk memperkaya dan menguatkan potensi kita sehingga diharapkan dapat sedikit berbuat untuk menyelamatkan kerusakan alam, khususnya dalam konteks ini adalah kawasan karst dan kehidupan yang ada di dalamnya. Sedikitnya hal itulah yang saya maknai dari uraian panjang Mas Sigit Wurianto M.Si. Interaksi harmonis antara alam dan manusia seyogyanya menjadi perhatian dan layak untuk diupayakan keberadaannya, keberlangsungannya.

Mendapat giliran terakhir, Mas Fredy S.T. dengan cukup menarik membuat paparan panjang yang dengan baik berusaha menyajikan gambaran menyeluruh dan besar ihwal potensi Speleologi Indonesia. Dia memulainya dengan membuka peta sebaran batugamping di Indonesia. Keunikan alam, keunikan flora dan fauna, tata kelola, fungsi karst (spesifiknya resource sumberdaya alam), tourisme, hazard/risiko, sains, politik, hukum, dan antropologi menjadi subyek-subyek yang disinggung di bagian awal. Pemaparannya disajikan secara dialogis dengan melibatkan peserta untuk bertanya jawab. Diskursus karst. Ketersediaan beberapa microfon dan soundsystem yang cukup baik menambah asyik bergulirnya diskusi.

Mas Fredy meninjau produk hukum yang berkaitan dengan tata kelola karst di Indonesia. menurutnya semua masih sering terjadi tumpang tindih sehingga hal tersebut perlu diaudit. Dia memberikan ilustrasi, misalnya mengenai info luasan batugamping di Indonesia masih saling berbeda-beda. Mengepa hal tersebut dapat terjadi? Lebih lanjut, Mas Fredy menginformasikan bahwa nyatanya baru 15% kawasan karst yang diproteksi secara legal formal oleh negara. Baru empat lokasi yang diproteksi melalui KBAK: Gn Sewu, Gombong Selatan, Sukolilo, dan Pangkalan Karawang. Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Konstelasi politik yang ada di baliknya jelas menyumbangkan perannya yang cukup signifikan. Mengapa hanya daerah-daerah tersebut yang dengan segera ditetapkan menjadi KBAK? Apakah berkaitan dengan industri ekstraktif? Khusus mengenai Jawa Barat, saya mengingat hasil sebuah acara FGD Penetapan KBAK yang diinisiasi oleh dinas ESDM Jabar. Badan Geologi merencanakan akan segera menyurvei potensi di Kabupaten Bogor dan Sukabumi untuk persiapan penilaian kelayakan. Merujuk pada informasi yang disebarkan melalui laman situs caves.or.id, Mas Fredy menyampaikan bahwa sampai saat ini setidaknya terdapat 1375 gua di Indonesia. Tentu saja angka yang sesungguhnya akan jauh lebih besar lagi; ASC juga memiliki setidaknya 1000-an data gua. Dan salah satu lembaga yang cukup konsisten mendata dan mengeksplorasi karst Indonesia secara sistemis dan berkelanjutan adalah LIPI. Sampai saat ini hampir semua kawasan karst di pulau-pulau besar telah dijelajahi dan didata oleh LIPI melalui berbagai ekspedisi saintifik.

Menyangkut isu air di kawasan karst, dipaparkan pula oleh Mas Fredy potensi dan pemanfatannya. Sistem Gua Bribin di Gunung Kidul menjadi contoh baik yang dapat dikemukakan, menurutnya. Mikrohidro dengan skala besar telah diupayakan agar dapat mencukupi kebutuhan air bersih bagi warga. “Dan di Sumba juga banyak sistem yang lebih besar, di Papua apalagi, di Gombong juga. Artinya apa?” Mas Fredy memberi penjelasan betapa konservasi karst benar-benar penting jika kita menggunakan akal sehat dan memandang persoalan pembangunan dan peningkatan ekonomi negara secara lebih utuh dan menyeluruh. Pemanfaatan berkelanjutan menjadi salah satu kata kunci yang dapat saya serap dari uraian pemakalah terakhir ini selain mengenai kebutuhan kita bersama akan open data, kerja partisipatif dalam mendata, serta berjejaring baik dalam skala nasional maupun internasional.

***

Pada sesi kunjungan lapangan, para peserta bersama narasumber mendatangi kawasan karst Cigudeg. Lebih dari 20 orang peserta yang mengikuti sesi di hari kedua ini. Gedung Kusnoto P2 Biologi LIPI, Jl. Juanda No. 18 menjadi titik kumpul. Menjelang pukul 08.00 pemberangkatan pun dimulai. Perjalanan setidaknya memakan waktu hampir 2 jam dengan catatan apabila lalu lintas normal dan tidak terjadi kemacetan di titik-titik penting seperti di Pasar Ciampea dan Pasar Leuwiliang. Mulanya panitia merencanakan kunjungan lapangan ke dua lokasi, selain Cigudeg atau Kompleks Gua Gudawang peserta juga akan dibawa ke karst Cibodas atau yang lebih terkenal dengan nama karst Ciampea. Rencana tersebut dibatalkan mengingat waktu yang tersedia begitu terbatas.

Menjelang gerbang kompleks wisata Gua Gudawang terlihat perubahan mencolok yang menimbulkan tanda tanya: ada apa? Jalan menuju gerbang mengalami pembangunan. Selain diperlebar juga ada upaya meratakan jalan masuk menuju gerbang. Tidak hanya itu, sisi kira dan kanan jalan yang semula berpagar alam, yakni deretan pepohonan kecil dan besar, kini terlihat berbeton setinggi lebih kurang 3 meter. Suara bising kendaraan alat berat yang sudah terdengar sejak pangkal jalan kemudian mulai dapat terlihat di lokasi yang tidak jauh dari gerbang kompleks wisata. Pertanyaan “ada apa” yang sudah berkecambah di dalam hati segera menginginkan jewaban. Mobil yang saya tumpangi menjadi mobil terakhir yang sampai di lokasi.

Segera saja saya tanyakan kepada beberapa peserta lainnya ihwal pelebaran jalan, pagar beton, dan mesin-mesin alat berat yang terlihat dari pelataran parker Gua Gudawang. Mungkin karena sama-sama tidak tahu, meski telah sampai terlebih dahulu, beberapa peserta mengaku belum dapat mengetahui persoalan yang saya tanyakan. Meski demikian dari desas-desus yang mereka dengar, semua itu berhubungan dengan akan dibukanya perusahaan pertambangan, tepat bermuka-muka dengan gerbang kompleks wisata. Jika apa selentingan yang beredar adalah benar maka sudah dapat dipastikan lokasi wisata alam kompleks perguaan Gua Gudawang segera akan mengalami penurunan nilai yang begitu drastis. Suara bising, debu yang beterbangan, hilir mudik kendaraan berat, dan kerusakan ekosistem sudah terbayang di pelupuk mata. Jika desas-desus yang saya dengar benar, maka hal itu dapat dikatakan sebagai musibah.

Selain perubahan yang saya sebutkan pada paragraph sebelumnya, saya hampir tidak melihat perubahan lain. Semua terlihat masih sama dengan apa yang pernah saya lihat beberapa tahun yang lampau. Ya, kunjungan ke lapangan kali ini merupakan kedatangan saya untuk yang kedua kalinya. Beberapa saat setelah kedatangan mobil terakhir, seluruh peserta diarahkan oleh panitia untuk berkumpul di muka loket pendaftaran pengunjung. Mbak Tiara, salah seorang anggota Lawalata IPB yang bertugas menjadi panitia, memberi penjelasan awal mengenai aktivitas yang akan kami hadapi selama berada di sana.

Gua pertama yang kami datangi bernama Gua Sipahang. Setelah melewati tepian hutan lebih kurang 5 menit, pengunjung harus menuruni puluhan anak tangga yang mengarah ke mulut gua. Keteduhan pepohonan menambah lembabnya keadaan perjalanan menuju gua. Di sekitar lokasi mulut gua, Mbak Tiara kembali memberi pengarahan terkait deskripsi Gua Sipahang. Presiden ISS, Mas Dr. Cahyo Rahmadi, juga memberi paparan-paparan yang berkaitan dengan biospeleologi serta mengajak peserta untuk lebih aktif mengamati dan mengajukan pertanyaan kepada narasumber.

Hampir satu jam kami berada di areal mulut Gua Sipahang, terlibat dalam pengamatan, diskusi, dan mendengarkan uraian-uraian ilmiah ihwal geomorfologi karst dan lain sebagainya dari Pak Prof. Otto, juga perihal aspek-aspek yang perlu diperhatikan mengenai gua wisata dari Dr. Jean Pierre, sebelum kami bergeser ke arah gua lainnya, yakni Gua Simenteng.

Beberapa soal yang mendapat perhatian para peserta dan narasumber antara lain mengenai sampah pelastik yang terlihat banyak berserakan, modifikasi lubang mulut gua yang dinilai mengurangi segi keindahan, bentuk tangga yang juga dianggap berbahaya, instalasi pencahayaan artifisial yang hampir semua ditempatkan di tempat-tempat “yang salah” karena bukan memperindah malah justru mengganggu pengunjung. Singkatnya masih banyak hal yang perlu dibenahi untuk perbaikan pengelolaan di kompleks wisata tersebut. Di bawah saung dan keteduhan pepohonan, semua berbagi apresiasi tentang kegiatan sesi kedua hari itu dalam suasana santai. Untuk melengkapi gambaran tentang berlangsungnya kegiatan SpeleoTalks, sebuah video klip berikut ini dapat disimak di sini.

 

*Penelusur gua amatir, anggota Palawa Unpad, PLW24382118TB.

 

About Palawa Unpad

Redaksi Website Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam Palawa Universitas Padjadjaran

Palawa Unpad

Redaksi Website Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam Palawa Universitas Padjadjaran