Saya Menghadapi Citatah


Perjalanan ke puncak tidak ada yang mudah. Dari menahan rasa sakit memanjat sampai rasa sakit jatuh karena kedogolan semata. Saya bersama saudara – saudara saya, untuk pertama kalinya sampai di puncak tebing.


13000267_10207474346950422_5684167169112797090_n

Waktu menunjukan pukul 5 sore, sesekali saya melihat jam tangan dengan resah. Sesuai jadwal yang ada seharusnya saya sudah berangkat. Nyatanya, saat ini, saya dan personil tim mabim panjat tebing Nawa Ayaskara masih saja mengemasi barang-barang  ke dalam 5 carrier besar berukuran lebih dari 65 liter. Pukul 5 pun lewat. Kami tahu bahwa kami harus bergegas.

Tidak lama kemudian kami berkumpul di depan sekretariat. Suasana kompleks Unit Kegiatan Mahasiswa cukup ramai saat itu. Di tengah keramaian ini kami berkumpul, melingkar untuk berdoa, dan melakukan perpisahan dengan anggota Palawa lain yang tinggal di sekre. Dengan masing-masing personil membawa  dua buah carrier —  kecuali saya yang hanya membawa 1 carrier terberat — kami pun berangkat. Tiga anggota muda, dibimbing oleh tiga anggota biasa, memulai perjalanan menuju Tebing Citatah 125.

Kami semua berangkat dari Jatinangor menggunakan angkutan umum. Perjalanan menuju Tebing Citatah 125 bisa dibilang cukup mudah, akses masuk ke kaki tebingnya juga tidak sulit. Setelah perjalanan yang cukup cepat, kami bergerak menuju basecamp. Karena waktu sudah malam, visibility jadi sangat terbatas. Kami tidak bisa melihat dengan jelas kondisi tebing dan jalanan. Namun dari kejauhan terlihat sebuah bendera besar. Itu adalah bendera organisasi pecinta alam lain. Sepertinya kami sudah kalah cepat dan tidak akan dapat “lapak” untuk melakukan pemanjatan.

Kami langsung melakukan lobi-lobi dan negosiasi dengan mereka. Syukurlah, akhirnya kami bisa menggunakan jalur pemanjatan esok hari, meski hanya sampai jam 9 pagi. Maka dari itu kami langsung makan malam dan beristirahat agar besok kami tidak terlambat.

 

26760

Kami bangun pagi-pagi buta, harus memasak, makan, dan menyiapkan peralatan sebelum matahari terbit. Kami dikejar waktu untuk bergantian memakai tebing ini dengan kelompok lain. Sekitar pukul 6 kami sudah berada di bawah tebing, siap melakukan pemanjatan artificial. Kami antusias dan sangat bersemangat pagi itu. Matahari masih bersembunyi di balik awan, pagi masih sunyi. Ditemani dinginnya embun dan kabut Padalarang kami memulai pemanjatan hari ini.

Yang pertama kali bertugas menjadi leader adalah Timothy. Saya pemanjat ketiga, menjadi seorang cleaner. Saat menjadi leader, Timothy  tampak kebingungan untuk sampai ke pitch pertama. Dengan semangat, bantuan, serta bimbingan teh Anisa, ia mampu juga ke pitch awal itu. Petrus menyusul memanjat ke sana, dan akhirnya saya. Sebagai cleaner saya tidak mendapati masalah. Saya bergegas menyusul ke pitch bersama mereka.

Segeralah setelah sampai di pitch, kami berganti posisi. Saya yang menjadi leader sekarang. Ujung ke ujung tali masih tersambung, masih saling mengaitkan kami dengan batas simpul-simpul. Kira-kira talinya sepanjang lima puluh meter. Saya bertambat di ujung tali, Petrus bertambat di tengah, dan Timothy di ujung yang lain. Saya pun kembali memulai pemanjatan seketika selesai beristirahat di pitch pertama.

13012833_10207474346070400_3607267763755211587_n

Saat memasang pengaman pertama yang adalah pengaman emas, saya tidak mendapati masalah. Menuju ke pengaman ke-dua, saya juga tak menemukan masalah. Saya memasang pengaman menggunakan lubang tembus di sana. Setelahnya, sampailah di mana saya harus sedikit berjalan menyamping – atau disebut juga traversing – untuk mencari pengaman ke-tiga. Saya melihat sebuah rekahan yang mungkin cocok dipasangi pengaman. Rekahan tebing itu tidak besar, juga tidak terlalu kecil. Saya punya ide untuk menambat sebuah friend flexible di sana. Mungkin karena saya berjalan menyamping, rekahan untuk pengaman ke-tiga ini cukup jauh jaraknya dari pengaman ke-dua. Posisi saya di tebing jadi seperti kura – kura. Kedua kaki terbuka lebar, satu tangan memegang rekahan di tebing, sedangkan tangan satunya lagi meraih pengaman.

Banyaknya sling, carabiner, serta peralatan memanjat lainnya seperti berebut tempat di bahu. Akibatnya, saya kesulitan menggapai pengaman friend. Dengan usaha yang keras, akhirnya sebuah friend flexible bisa saya pegang. Saya mencoba memasang friend dengan ukuran yang lumayan pas ke dalam rekahan menggunakan satu tangan, sedangkan tangan lainnya memegang tebing. Ketika friend sudah menambat di rekahan, segera saya jerat dengan sling untuk diinjak, memastikan pengaman tersebut cukup aman.

Sebelum saya mengambil footloop, saya yang merasa yakin dengan kekuatan pengaman tersebut, langsung menarik friend dengan kedua tangan. Belakangan saya merasa tindakan itu adalah kedogolan belaka. Ternyata pengaman tersebut tidak kuat dan terlepas. Alhasil, saya pun terjatuh. Saya menghantam tebing dengan cukup keras. BHAK! Saya bergelantung seusai membentur tebing.

Saat saya jatuh, kedua saudara saya sedang berbincang dan tidak melihat ke atas. Mereka kaget melihat saya mendarat tepat di sebelah mereka. Tali masih menjuntai, bertambat di pengaman ke-dua tadi. Terbukti kalau pengaman ke-dua tadi, lubang tembus, memang pengaman yang baik. Setelah jatuh, tanpa basa – basi saya pun kembali memanjat.

Setibanya di atas, saya membuat pengaman utama dekat goa, pengaman back up, dan instalasi bellay supaya pemanjat kedua, Petrus, bisa naik. Saat itu kita sudah sangat dikejar waktu. Kami semua menyemangati Petrus yang macet di tengah perjalanan naik. Ia tampak kurang percaya pada dirinya, terlebih kepada alat. Setelah ia melihat saya yang jatuh dari pengaman ketiga tadi, ia menjadi ragu.

Dari atas Petrus disemangati dan diberi teriakan oleh Teh Anisa, Kang Najib, dan saya. Dari bawah juga terdengar teriakan teh Acil dan juga Timothy. Petrus mendapatkan tekanan dari berbagai arah. Apalagi kami berlomba dengan waktu agar pemanjatan bisa selesai jam sembilan pagi. Ternyata kami pun kalah oleh waktu. Dari bawah terdengar suara 44 orang mendekat ke arah tebing sambil menyanyikan lagu. Singkat cerita, akhirnya Petrus menggunakan tali statis yang ada di sebelahnya untuk membantunya naik. Timothy turun dengan teknik rapelling down.

Sorenya kami melanjutkan materi ascending dan descending. Konsepnya tidak jauh berbeda dengan ascending dan descending pada caving. Bedanya adalah pada panjat tebing kami memakai dua buah hand ascender untuk ascending dan sebuah figure eight saat descending. Setelah itu kami berlatih sport climbing.

Keesokan harinya, targetan kami adalah puncak. Pagi itu kami kedatangan anggota biasa lainnya, yaitu Kang Ronni dan Kang Ichsan. Kami memulai pemanjatan dari goa pada hari ketiga. Di awal pemanjatan, ternyata kami harus melewati rekah besar dengan teknik chimneying dan juga bridging. Sebelumnya, kami dibagi menjadi dua tim. Tim pertama terdiri dari saya, Kang Ichsan, dan Timothy. Tim kedua terdiri dari Teh Acil, Petrus, dan Kang Ronni.

Tim pertama tidak mengalami kendala saat melewati rekah gua tersebut. Kendala muncul pada saat Petrus sebagai leader tim berikutnya naik. Petrus cukup lama chimneying karena masih ragu akan kemampuan dirinya. Setelah berkali-kali disemangati oleh Kang Ronni dan yang lainnya, Petrus pun sampai ke pitch dengan bersusah payah. Perjalanan setelah rekah gua itu relatif mudah. Hampir sama seperti mendaki gunung. Medannya tidak curam, tapi juga tidak datar. Perjalanan akan terus seperti itu hingga beberapa meter sebelum puncak.

Perjalanan ke puncak tidak ada yang mudah. Medan yang dihadapi semuanya berbentuk face dan hang. Di tim pertama, saya kembali menjadi leader, membuat saya menjadi orang yang pertama sampai di puncak. Memang sulit untuk mencapai puncak. Medan yang dilalui terjal dan rekahan yang ditemui pun hanya sedikit. Beruntung ada beberapa hanger yang bisa dipasangi runner. Beberapa kali saya beristirahat karena posisi tangan yang selalu menggantung membuat sebagian tubuh terasa pegal. Tak lama kemudian sampailah saya di puncak. Saya menjadi orang pertama yang tiba di puncak dari kedua tim kami. Segera saya menarik tali statis yang ada pada pinggang saya dan membuat rangkaian sistem agar saudara saya lainnya terbantu untuk naik ke atas.12961623_10207474346390408_765624379498888050_n

Sebagai yang pertama tiba di puncak, saya bingung harus apa. Tak ada ide di mana akan membuat tambatan, belum lagi alat saya sudah terpakai sebagian. Saya mencoba kreatif dan mencari akal untuk memaksimalkan alat yang ada. “Bellay Ready!” saya berteriak dari atas, sebagai penanda kalau saya siap untuk mem-bellay. Karena faktor angin dan perbedaan jarak, komunikasi jadi sangat susah. Suara kami nyaris tidak terdengar. Sore itu, puncak tebing Citatah jadi ramai karena kami, kami berteriak sana sini untuk berkomunikasi. Tapi tetap saja masih kurang terdengar.

Akhirnya, kami semua sampai di puncak dengan selamat pada pukul 19.00 WIB. Kami beristirahat sejenak di puncak tebing Citatah 125, minum dan makan secukupnya untuk mengisi kembali tenaga yang habis dihajar oleh tebing ini. Sungguh pengalaman yang menegangkan. Dari menahan rasa sakit memanjat sampai rasa sakit jatuh karena kedogolan semata. Saya bersama saudara – saudara saya, untuk pertama kalinya sampai di puncak tebing.

Hari menjelang malam, kami tidak bisa berlama – lama di puncak. Masih ada perihal UTS yang butuh perhatian kami esok hari. Tiga puluh menit kemudian kami pun turun dari tebing lewat jalan belakang, jalan yang landai. Tapi tetap saja. Kami menyadari kesalahan fatal pada saat itu. Kami tidak membawa headlamp. Terpaksa kami menuruni tebing hanya mengandalkan mata di dalam kegelapan. Untungnya tidak ada yang terluka serius, hanya lecet saja. Sesampainya di camp, kami langsung cek kembali peralatan, beres – beres, dan pulang ke Jatinangor.

About Ignatius Abraham

Anggota Palawa Unpad Angkatan Nawa Ayaskara

Ignatius Abraham

Anggota Palawa Unpad Angkatan Nawa Ayaskara