Menyapa Sawarna


Penyusuran dimulai dari Pantai Legon Pari melewati Pantai Tanjung Layar sampai berhenti di Pantai Sawarna. Kembali dengan selamat, karena sejatinya itulah tujuan perjalanan kami.


7

Open Season Masa Bimbingan Anggota Muda PMPA Palawa UNPAD dimulai dengan menyusuri garis pantai sisi selatan Jawa Barat, tepatnya di Pantai Sawarna. Garis pantai yang kami susuri kali ini berjarak 8 km. Jarak segitu rasanya bukan apa-apa bagi anak Palawa. Tapi belum tentu bagi saya dan saudara-saudara saya yang lain. Kami membayangkan teriknya matahari di bibir pantai tanpa ada pohon-pohon tinggi menjulang seperti di medan gunung hutan.

Kami berangkat dari sekretariat Palawa pada hari Jum’at, 26 Februari 2016 pukul 17.00 WIB. Namun, karena kesulitan mendapatkan angkutan menuju terminal Bandung, keberangkatan kami tertunda hampir satu jam. Akhirnya kami memutuskan untuk menyewa salah satu angkot yang biasa ngetem di depan kampus, tentunya setelah melalui proses tawar menawar telebih dahulu.

Perjalanan ke terminal menghabiskan waktu kira-kira satu jam karena kami menemui kemacetan –yang untungnya tidak terlalu parah. Bak melihat “uang berjalan” satu rombongan tak sedikit kenek-kenek bus yang menghampiri, bahkan menarik-narik kami, untuk menaiki angkutan mereka. Karena keterbatasan biaya dan mengingat perjalanan kami masih panjang, kami memutuskan untuk menumpang bus yang berfasilitas standar, se-standar isi dompet kami. Ah, yang penting mah bisa sampai tujuan dengan selamat weh…Ya kan?

Perjalanan menuju Sukabumi ditempuh selama tiga setengah jam. Beruntung, kami yang sebelumnya sempat kebingungan akan melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Ratu menggunakan apa –dan juga mengingat malam yang semakin larut–, ditawari elf kepunyaan kawan sang supir bus. Tanpa berpikir panjang kami langsung bersepakat untuk menaiki elf tersebut. Apalagi, hanya tinggal itu satu-satunya elf yang tersedia.

Sekitar pukul 02.00 WIB dini hari, kami sampai di Pelabuhan Ratu. Perjalanan panjang yang kami tempuh cukup membuat badan kelelahan. Alhasil kami beristirahat sejenak di terminal Pelabuhan Ratu sambil melakukan briefing untuk melanjutkan perjalanan ke titik start penyusuran pantai. Satu jam beristirahat  kami rasa cukup untuk mengumpulkan sedikit energi. Sekitar pukul 03.00 WIB kami menuju titik start dengan menyewa salah satu elf lagi di terminal Pelabuhan Ratu. Jalan menuju titik start melalui perkampungan-perkampungan kecil. Sebagaimana jalan-jalan kampung, kami melalui jalan yang berbelok-belok, sempit, naik turun, hingga beberapa jalan yang berlubang tidak kecil.

Sampai tujuan ada satu kesalahan yang disebabkan oleh ketidaksepahaman tempat tujuan yang kami maksud dengan pemahaman sang supir. Kami diantar langsung menuju titik finish penyusuran. Artinya titik start sudah terlewat jauh. Ternyata nama pantai yang kami maksud (Pantai Karang Taraje) terdapat di dua tempat yang berbeda. Terpaksa kami harus memutar balik arah. Tapi, mengingat waktu kami tidak banyak dan hari yang sudah mulai terang, kami memutuskan untuk tidak start di rencana awal. Kami start sekitar 3 km lebih dekat dari rencana sebelumnya.

1

What a surprise sunrise!!!

Hari sudah mulai terang, kami jalan menuju bibir pantai melewati pemukiman, jembatan dan semak yang tak begitu tinggi. What a surprised!! Inilah yang namanya jodoh. Kami sampai di bibir pantai seiring dengan munculnya sang mentari subuh. Bau air laut mengobati kepenatan selama perjalanan. Tak banyak berleha-leha kami langsung memasak sarapan. Kami harus bergegas, karena semakin siang kami berjalan air laut akan semakin pasang dan tentu matahari juga akan sangat terik. Menu sarapan pagi itu adalah ayam goreng, tumis kangkung, sambel terasi, plus kopi dan susu hangat. Lebih spesialnya lagi, semua masakan khusus dimasak oleh para pejantan tangguh Palawa. Jangan salah lho! laki-laki Palawa pada jago masak.

Seusai sarapan, kami langsung packing barang dan bersiap memulai penyusuran. Penyusuran dimulai dari Pantai Legon Pari melewati Pantai Tanjung Layar sampai berhenti di Pantai Sawarna. Banyak “bonus” yang kami dapatkan saat menyusuri pantai. Pemandangan batu karang besar yang dihempas oleh ombak, kepiting-kepiting kecil yang berlarian dikejar ombak, dan tentu saja jalan yang datar tanpa ada pendakian. Walaupun datar, tetap saja kami harus melewati bibir pantai yang penuh karang-karang, yang mewajibkan kami untuk sangat berhati-hati agar tidak terpeleset.

2
3

 Hello Mr. Crab!!

Semakin siang matahari semakin terik. Pergerakan jadi semakin melambat. Kami beristirahat sejenak di tempat duduk di bawah pohon pinggir pantai. Momen istirahat tetap harus menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Kami melakukan navigasi darat untuk mengetahui posisi kami saat itu di dalam peta. Supaya lebih seru dan bersemangat, kami bertanding antara tim cewek dan tim cowok, siapa yang lebih dahulu menemukan posisi yang tepat. Hasilnya? Seri! kami sama-sama salah dalam menentukan posisi. Tapi kami harus mencari sampai tepat, sampai ditemukan. Kegiatan navigasi darat ini terus dilakukan hingga kami menemukan posisi kami di dalam peta dengan benar.

4

Sedang melakukan navigasi darat

Titik finish sudah terlihat dari tempat kami beristirahat, kira-kira 1-2 Km lagi. Kami melanjutkan penyusuran dengan santai supaya tidak cepat lelah dan dehidrasi. Sebelum sampai di titik finish yang akan menjadi basecamp kami hari itu, kami harus melewati muara yang kedalamannya mencapai pinggang orang dewasa. Sebenarnya, ini yang kami tunggu-tunggu dari tadi, ada tantangannya dan bisa sekalian basah-basahan.

Supaya tidak terjadi hal yang tak diinginkan kami menyebrang dengan menggunakan teknik penyebrangan yang telah diajarkan. Caranya, kami saling berpegangan dan membentuk lingkaran, lalu kami berjalan berputar menuju ke sebrang. Beberapa saudara kami menggunakan pelampung karena postur tubuhnya yang sedikit “mengkhawatirkan”, hihihi peace sau!

Kami sampai di basecamp — sekitar 500 M dari muara– pukul 13.00 WIB. Kebayang kan gimana teriknya matahari pukul segitu? Kami pun memutuskan menunggu sore untuk mendirikan tenda. Sambil menunggu, kami memanfaatkan waktu istirahat dengan tidur di pondokan warga yang ada disana. Tidur sambil ditiup sepoi-sepoi angin pantai.

Pukul 15.30 kami mulai membagi tugas. Ada yang mendirikan tenda, ada juga yang memasak untuk makan malam.  Kami harus bergegas, karena setelah semua pekerjaan selesai baru kami diperbolehkan untuk bermain air oleh pendamping. Sekitar pukul 17.00 WIB tugas kami selesai dan kami langsung berhamburan ke pantai. Semuanya bertingkah bak anak-anak yang sedang liburan dengan keluarganya. Adapun di pinggir pantai pendamping kami mengawasi.

5

waktunya bermain

Hari mulai gelap, kami sudah diwanti-wanti untuk keluar dari air oleh pendamping. Makan malam sudah menunggu. Sebelum makan kami membersihkan badan terlebih dahulu. Malang sekali, hujan mengguyur tenda kami. Sedikit kebasahan sih, tapi karena bersama-sama jadi tidak masalah. Kedinginan di dalam satu tenda bersama membuat suasana menjadi hangat. Untungnya, hujan mereda saat kami akan tidur. Kami pun membersihkan matras-matras yang kotor terkena pasir dan air hujan lalu beranjak ke peraduan.

Pukul 02.00 dini hari kami bangun dan bersiap-siap kembali ke Jatinangor. Menurut penduduk setempat, angkutan menuju Pelabuhan Ratu hanya ada sekali dalam sehari, kami harus bergegas supaya tidak ketinggalan angkutan. Setelah makan dan packing kami menuju jalan raya tepat pukul 05.00 WIB. Sekitar sejam kami menunggu angkutan lewat. Pukul 06.00 WIB kami berangkat menuju Pelabuhan Ratu.

Selama perjalanan banyak penduduk yang juga menaiki angkutan tersebut. Mungkin karena jumlah kendaraan yang terbatas setiap harinya, jadinya kenek angkutan memaksakan semua penumpang untuk masuk ke dalam elf. Sedikit risih memang, tapi mau bagaimana lagi, kalau tidak mau berdesakan kami tidak akan bisa pulang.

Dari Pelabuhan Ratu kami langsung menaiki angkutan menuju Sukabumi. Begitu seterusnya sampai kami tiba di Jatinangor, Alhamdulillah tidak ada hambatan. Kembali dengan selamat, karena sejatinya itulah tujuan perjalanan kami.

6

About Rahmi Aziz

Anggota Palawa Unpad Angkatan Nawa Ayaskara

Rahmi Aziz

Anggota Palawa Unpad Angkatan Nawa Ayaskara