Peringatan Hari Air Sedunia


Jawa Barat sering disebut sebagai lumbung padi, kenyataannya banyak sawah yang dialih fungsikan menjadi pabrik. Jawa Barat juga dikenal sebagai tatar parahyangan dengan sumber air yang melimpah, kenyataannya saat musim kemarau masih ada yang kekurangan air.


2016_0322_17595900

Salam lestari..

Sapaan hangat bagi para pecinta alam. 22 Maret 2016, bertepatan dengan Hari Air Sedunia, Mapala se-Jawa Barat mengadakan sebuah kegiatan dengan tema “Mapala Aksi Lingkungan”. Kegiatan ini berlangsung pukul 13.00 WIB sampai dengan pukul 22.30 WIB. Bertempat di Kampus Unisba (Universitas Islam Bandung).  Mapala Aksi Lingkungan merupakan sebuah kegiatan yang diadakan oleh seluruh Mapala di Indonesia dalam rangka memperingati hari air sedunia dan hari pohon sedunia. Dalam kegiatan kali ini Mapenta Unisba didaulat sebagai tuan rumah.

Sebagaimana telah disepakati dalam rapat komisi Temu Wicara dan Kenal Medan (TWKM) ke-27, bahwa seluruh Mapala akan membuat sebuah aksi lingkungan yang pelaksanaannya dikoordinir oleh Pusat Koordinasi Daerah (PKD) masing-masing daerah. Palawa Unpad saat ini menjadi PKD Jawa Barat, sehingga Palawa menjadi pusat koordinasi untuk program kerja yang disepakati dalam TWKM tersebut. Hasil TWKM 27  juga bersepakat untuk membuat sebuah hastag secara bersamaan : #mapalaaksilingkungan.

Dalam kegiatan kali ini Mapala Jawa Barat mengadakan sebuah diskusi yang berkaitan dengan isu lingkungan yang ada di Jawa Barat.  Dimana isu yang diangkat merupakan isu berdasarkan PKW (Pusat Koordinasi Wilayah) yang ada di wilayah masing-masing. Jawa Barat sendiri memiliki 5 PKW yaitu Ciayumajakuning (Cirebon-Indramayu-Majalengka-Kuningan), Priangan Timur (Garut-Tasik-Ciamis-Pangandaran), Subang-Purwakarta, Cianjur-Sukabumi, dan Bandung Raya (Kota Bandung-Kabupaten Bandung-Bandung Barat-Cimahi-Sumedang).  Kegiatan ini dimulai dengan diskusi antar sesama Mapala Jawa Barat untuk menghasilkan sebuah ide yang nantinya akan dilakukan oleh Mapala.

Berbagai isu muncul dan tanggapan pun mulai memanas. utamanya terkait dengan isu yang ada di Jawa Barat. Mulai dari isu bencana, isu kerusakan hutan, pencemaran air, pengelolaan pihak pemerintah, peran Mapala dalam pelestarian lingkungan, pengaruh masyarakat terhadap lingkungan sampai pada pembahasan legalitas Mapala di pemerintahan. Pada dasarnya semua bahasan dan isu yang disampaikan dalam diskusi ini memiliki keterhubungan antar satu dengan yang lainnya.  Sangat disayangkan, akibat keterbatasan waktu, diskusi ini tidak menghasilkan sebuah benang merah. Sehingga, diputuskan bahwa kesimpulan sementara akan dikaji ulang dan akan ditindaklanjuti dalam kegiatan peringatan hari bumi tanggal 22 April 2016 nanti.

2016_0322_17511400

Selesai diskusi, peserta beristirahat sejenak untuk menunaikan ibadah shalat Ashar. Acara dilanjutkan dengan talkshow bersama Kang Dadan dari Walhi. Dalam talkshow yang berlangsung selama 2 jam ini Kang Dadan menjelaskan kondisi lingkungan dan ketersediaan air di Jawa Barat. Dimulai dengan sebuah kalimat dari seorang filusuf Romawi yaitu Cicero “Air adalah pangkal kehidupan”, Kang Dadan mulai bercerita tentang kondisi Jawa Barat. Berbagai penamaan di daerah ini dikaitan dengan air, seperti nama tempat, warna dan peristiwa.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Walhi, dari luas wilayah Jawa Barat yang mencapai 35.378 km², 18% nya merupakan kawasan hutan, 5% kawasan hutan konservasi, dan 13% kawasan alih lahan. Dapat kita bayangkan, Jawa Barat yang merupakan sebuah wilayah dengan mata air yang banyak dan hutan luas ternyata belum dikelola dengan baik. Sebesar 5% kawasan hutan konservasi belum sepenuhnya mendapat perhatian untuk pelestarian. Dengan kondisi ini, maka Jawa Barat bisa dibilang masuk dalam masa krisis pelestarian lingkungan. Padahal hutan merupakan cadangan air paling banyak untuk Jawa Barat.

Sementara itu hutan Jawa barat sendiri terus mengalami menurunan. Salah satunya, penurunan fungsi hutan karena beralihnya hutan menjadi kawasan pabrik ataupun pengalihan lahan untuk perkebunan warga. Jelas ini akan memperparah kondisi lingkungan Jawa Barat. Padahal isu HAPE (Hutan, Air, Pangan, Energi) selalu menjadi isu utama Jawa Barat. Namun kenyataan tidak sejalan dengan apa yang menjadi cita-cita Jawa Barat. Jawa Barat sering disebut sebagai lumbung padi. Kenyataannya banyak sawah yang dialih fungsikan menjadi pabrik. Jawa Barat juga dikenal sebagai tatar parahyangan dengan sumber air yang melimpah, kenyataannya saat musim kemarau masih ada yang kekurangan air.

Dengan kondisi saat ini wajar jika bencana seperti longsor dan banjir terus melanda Jawa Barat. Kondisi ini sudah berlanjut hampir 30 tahun dan belum mampu diatasi. Saat musim kemarau masyarakat kekurangan air dan saat musim hujan masyarakat kebanjiran. Sebuah keadaan yang tidak seimbang. Pada akhirnya air tidak mampu hidup padahal air juga makhluk hidup.

Permasalahan air bukan lagi masalah lingkungan semata, bukan lagi permasalahan etika tapi sebuah permasalahan politik. Begitu banyak permasalahan lingkungan, selanjutnya tinggal bagaimana peran Mapala untuk melestarikannya?Padahal hutan, Air dan segala yang ada di bumi ini merupakan sarana untuk belajar dan bermain bagi Mapala pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Acara terakhir pada peringatan hari air kali ini live music. Sebuah penampilan dari anak-anak Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung mampu menghibur para Mapala yang hadir dalam acara tersebut. Semua terhayut dalam alunan lagu-lagu yang dinyanyikan diatas stage. Satu persatu, secara bergantian,  mereka yang hendak menyumbangkan suaranya naik keatas stage. Tawa, canda terus mewarnai kondisi disana. Ada yang ngobrol dengan kawan-kawan lama ada juga yang baru bertemu kawan baru. Ada yang pulang lebih dulu ada juga yang baru datang. Semua terlihat ceria dan bahagia, begitu nyata kekeluargaan terjalin disini.

#Mapalaaksilingkungan #Pkdjabar

About muniarsih

Anggota Palawa Unpad Angkatan Bajra Karana

muniarsih

Anggota Palawa Unpad Angkatan Bajra Karana