Take Your Pen, Let’s Go To Rock


“Tumbuhan-tumbuhan dengan karakter tertentu saja yang akhirnya dapat bertahan hidup di permukaan tebing.”


Oleh : Muhammad Rausyan Fikry

Kawasan karst sebagai salah satu kawasan yang memiliki banyak bukit batuan, berfungsi seperti spons yang menyerap air dan menyimpannya. Karena itu sekitar 25% penduduk di dunia mendapatkan air dari kawasan karst. Namun sayangnya kawasan ini dikenal sebagai tempat untuk pertambangan batu kapur. Pertambangan tersebut tidak dapat disalahkan sepenuhnya, karena manusia membutuhkan batuan kapur untuk membangun infrastruktur. Namun kebutuhan itu patutnya diimbangi pula dengan kesadaran terhadap kepentingan lingkungan, sebuah kepentingan yang sulit ditakar oleh nilai finansial atau pun ekonomis.

Di Jawa Barat, terdapat kawasan karst yang tidak luput dari eksploitasi pertambangan batu kapur. Kawasan karst Citatah Padalarang, sebagai sebuah kawasan yang terbentuk sejak jutaan tahun lalu itu, ternyata memiliki nilai ekonomis yang tercium masyarakat di era pembangunan ini. Hal tersebut ditambah pula dengan kondisi kawasan karst Citatah yang dipotong oleh jalan raya antarkota, membuat Citatah menjadi kawasan pertambangan batuan karst yang efisien.

Tebing 90 adalah salah satu bukit kapur yang terkena dampak eksploitasi pertambangan batu kapur di kawsan karst Citatah. Dari nilai historis, Tebing 90 (Karang Penganten) merupakan salah satu tebing di Citatah yang pertama kali merasakan eksploitasi manusia. Tebing yang namanya pernah disebut dalam novel ‘Bilangan Fu’ karya  Ayu Utami ini, menjadi lokasi penambangan batu sejak awal tahun 1980. Kondisi tebing 90 saat ini tentu sudah tidak alami lagi. Kawasan tebing yang memiliki tiga tower ini,  bahkan sudah direkomendasikan untuk tidak dipanjat oleh para pegiat panjat tebing karena batuannya sudah banyak yang rapuh karena pengeboman.

Di sisi lain, Tebing 90 sedang mencoba tumbuh hijau kembali. Patahan-patahan batu hasil pengeboman memang masih tampak jelas di setiap sudut Tebing 90. Namun disela-selanya tampak tumbuhan sudah rindu menyemai tebing yang gersang itu.

Tumbuhan dapat hidup pada berbagai media seperti tanah, air, bahkan bebatuan. Salah satu medan bebatuan yang dapat ditumbuhi adalah tebing. Tidak semua tumbuhan dapat hidup di batuan tebing.

Melihat fenomena tersebut, PMPA PALAWA UNPAD bekerjasama dengan mahasiswa biologi Unpad mencoba melakukan inventarisasi tumbuhan di kawasan karst Citatah. Selama masa tahun 2010, tim operasional tersebut mulai menelusuri batuan menjulang di Citatah. Diawali dengan survey, tim menginventarisasi tumbuhan di permukaan tebing Gunung Pabeasan atau yang terkenal dengan nama tebing 125 pada  bulan September. Pada bulan Desember, giliran Gunung Karang Penganten atau populer dikenal dengan tebing 90 yang mulai diinventarisasi tumbuhannya.

Dalam hal operasional, tehnik yang kami gunakan sebenarnya agak berbeda dengan tehnik yang biasa digunakan saat menghadapi tebing. Untuk melakukan pengambilan contoh tanaman di permukaan tebing, tehnik yang digunakan memang lebih cocok Single Rope Tehnic (SRT), karena tehnik tersebut memungkinkan pengambil contoh tumbuhan untuk bergerak dalam kondisi menggantung.

About Palawa Unpad

Redaksi Website Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam Palawa Universitas Padjadjaran

Palawa Unpad

Redaksi Website Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam Palawa Universitas Padjadjaran