Pemanjatan Tebing Bukit Daya


Teras itu dilindungi oleh semacam gundukan batu. Lagi-lagi aku merasakan pertama kalinya tidur dengan kondisi badan terkait dengan pengaman yang terpasang. Sungguh pengalaman yang luar biasa selama hidupku.


Oleh: Mas Oktavian

“Wah gila kamu Mas.”

Kata-kata itu terlontar dari Bonk kepadaku sambil geleng-geleng kepala ketika dia baru sampai di tempat penambatanku. Aku langsung teringat bahwa sebelumnya aku tidak begitu yakin ketika memasang beberapa piton di rekahan dinding. Terlintas olehku ketika aku memasang pengaman buatan (artificial) bahwa jikalau pengaman yang kupasang itu terlepas 10 meter jarak lintasan dikali dengan 2 maka sejauh itu aku akan jatuh bebas wuiiiiih… ngeri banget… terbayang olehku di pitch ke 7 tersebut ketika lagian memang ketika aku hampir saja jatuh tak kuat tangan dan kakiku menahan keseimbangan tubuhku tetapi dikarenakan dengan penuh kesadaran bahwa aku tidak begitu yakin dengan kedua pengaman yang dipasang maka keluarlah semacam tenaga yang didorong oleh ketakutan akhirnya aku bisa lolos dari jatuh.

Pengaman yang kamu pasang perunggu semua Mas, begitu kata Bonk sambil menghela napas, aku hanya menggaruk kepala yang tidak gatal sama sekali sambil cengengesan hehehe jawabku. Seperti biasa Bonk hanya bisa geleng-geleng kepala tanpa ada suatu penghakiman (judgement) kepadaku. Itulah salah satu yang aku sukai dari seorang pribadi Bonk yang aku kenal selama ini. Pertama kali aku mengenal Bonk adalah pada saat Pra-Pendidikan dan Latihan Dasar, tepatnya setiap latihan bina jasmani. Pada saat calon siswa tengah cape-capenya boleh dibilang sekarat melakukan bina jasmani, datanglah seorang dengan perawakan badan besar dan kepala botak dengan gaya ketawa-ketawa sambil ngacai menggunakan setelan celana training “merecet” merek adidas –belakangan aku ketahui itu semacam celana kebangsaan para pemanjat jaman dahulu (jadul), dengan enaknya orang ini bertanya, “Sedang apa Tuan?” hmm… menyebalkan sekali makiku pada saat itu dalam hati. Desas-desus yang beredar di calon siswa pendidikan pada saat itu adalah cerita mengenai orang ini tentang perilakunya pada saat di Medan Operasi… ihhh menyeramkan sekali, tak usah aku ceritakan takut kena sensor.

Pertemuan selanjutnya adalah ketika Diklatdas, terutama di Medan Operasi panjat tebing, lagi-lagi si badan besar dan kepala botak muncul sebagai pemberi materi. Tetap memakai celana training “merecet” kebanggaanya, bedanya kali ini ia tanpa menggunakan baju alias “buligir” dalam bahasa Sundanya. Terpangpanglah suatu pemandangan seni di sekujur tubuhnya, sebagian tubuhnya dipenuhi dengan tato. Semakin bergetarlah hati para siswa pada saat itu tetapi kemudian ternyata cerita desas-desus mengenai orang ini tidak sedikitpun terjadi selama pendidikan itu.

Bulan Juni 2007 kami yang terdiri dari Aku, Bonk, Eris, Rahwa melakukan kegiatan pemanjatan atau istilah kerennya rock climbing di Provinsi Kalimantan Barat yaitu di Batu Daya atau dikenal juga dengan Batu Unta. Kegiatan ini dilakukan sebagai pelipur lara dari tidak terlaksananya Ekspedisi Himalaya yang rencananya akan dilaksanakan pada tahun itu. Awalnya Bonk yang sebelumnya merupakan Project Manager dari Ekspedisi Himalaya menawarkan alternatif kegiatan lain pengganti kegiatan ekspedisi.  Kepada semua, ditawarkanlah siapa anggota aktif yang tertarik untuk mengikuti kegiatan pemanjatan tersebut. Dari beberapa kandidat yang tertarik terpilihlah Aku dan Eris sebagai atlet untuk mengikuti kegiatan tersebut. Tak berselang lama kemudian, Rahwa yang selama ini merupakan simpatisan organisasi PALAWA UNPAD dan merupakan anggota dari Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Propinsi Jawa Barat menyatakan ketertarikannya untuk terlibat sebagai atlet dari kegiatan ekspedisi ini maka diputuskanlah oleh Bonk sebagai Project Manager bahwa jumlah orang yang akan menjalani kegiatan pemanjatan ini adalah 4 orang.

About Palawa Unpad

Redaksi Website Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam Palawa Universitas Padjadjaran

Palawa Unpad

Redaksi Website Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam Palawa Universitas Padjadjaran