Menyapa Derasnya Jeram Amin

Baptized in the river, I see a vision of my life

and I want to be delivered in the city was a sinner

i’ve done a lot of things wrong

but

I swear i’m a believer like a prodigal son

I was out on my own and I got to find my way back home

Baptized in the river I’m delivered I’m delivered

(The River – Good Charlote)

 

“Di Sungai Merangin ada tuh yang namanya Jeram Amin, wajib dicoba soalnya gak akan ketemu jeram kayak begitu di Cimanuk atau Cikandang,” ujar Kang Eman saat bercerita pengalamannya mengarungi Batang Merangin dalam obrolan ringan di sekretariat. Cerita Kang Eman ini menggugah rasa penasaran saya, penggiat arung jeram mana yang tidak akan tergoda jika diberi cerita seperti itu, saya berjanji dalam hati bahwa kapanpun datang kesempatan untuk menyambangi Sungai Merangin ini saya harus menjajal derasnya Jeram Amin.

Kesempatan itu akhirnya datang melalui sebuah kabar dalam percakapan di telepon, “Kata Kang Ferry kamu cari orang pengganti buat kegiatan caving di Tasik, kamu ditarik ke Merangin untuk bantu melatih calon guide arung jeram di sana, siap?”  Kang Eman memberitahukan kabar yang secara spontan bisa saya jawab, “Siap Kang!!!” Nah, akhirnya kesempatan itu datang juga, segera saya pun mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan sambil membayangkan serunya perjalanan nanti.

Batang Merangin atau Sungai Merangin merupakan salah satu sungai di Propinsi Jambi yang sering digunakan para penggiat olahraga arung jeram untuk menyalurkan hobinya, perjalanan untuk mencapai tempat tersebut bisa dimulai dari Kota Jambi menuju Kota Bangko dengan menggunakan transportasi darat yang berjarak sekitar 310 km lalu dilanjutkan menuju Desa Air Batu yang berjarak kira-kira 20 km dan bisa ditempuh dalam waktu 30 menit. Jika dikalkulasikan, perjalanan dari Kota Jambi menuju Desa Air Batu, sebagai tempat start pengarungan, bisa memakan waktu sekitar 6 jam.

Kegiatan yang saya lakukan sekarang di sini memang bukan murni kegiatan pengarungan sungai melainkan pelatihan guide arung jeram, tetapi bukan berarti di kegiatan ini saya tidak bisa menjajal jeram amin yang sering diceritakan itu, pada jadwal pelatihan direncanakan bahwa di hari terakhir adalah materi pengarungan sungai, di situlah waktu yang saya bayangkan dapat membawa saya menjajal derasnya Jeram Amin yang merupakan jeram ‘andalan’ Sungai Merangin ini.

Hari demi hari pelatihan sudah dijalani, besoklah saatnya materi pengarungan yang direncanakan akan dilakukan sepanjang Desa Air Batu sampai ke Teluk Wang, tapi sore hari itu datang berita yang cukup membuat blundersituasi, satu perahu karet yang ada mengalami kebocoran di bagian dasarnya dan kemungkinan pengarungan besok hari batal karena mempertimbangkan jumlah peserta yang tidak akan bisa terfasilitasi hanya dengan menggunakan dua buah perahu. Semua peserta, instruktur bahkan pengantar dari Dinas Pariwisata Kabupaten Merangin pernah merasakan jeram amin dan hanya saya saja di sana yang belum pernah, alhasil semalaman itu saya jadi bahan ledekan mereka.

Ketika arah obrolan sudah mulai membicarakan jeram-jeram di bagian lebih hilir dari desa ini mereka melirik saya sambil salah satu dari mereka berkata, “Sudah jangan bicarakan jeram lain, cukup sampai Jeram Tilan saja jangan diteruskan apalagi ngomongin Jeram Amin, kasihan nih ada yang belum pernah, orang jauh pula…” lalu disambut tawa lepas orang-orang dan saya hanya bisa tersenyum pasrah.

Pagi hari saya bangun dan membuat secangkir kopi untuk memulai hari ini, walaupun kemungkinan pengarungan tidak jadi tetapi kegiatan tetap terus berjalan dengan mengambil lokasi di bagian sungai sekitar desa ini. “Wah si Dayat semalam tidur sambil mengigau Jeram Amin… Jeram Amin euy….” ujar Abo bercanda dan disambut gelak tawa orang-orang di sekitar sana yang mendengarnya, ah ternyata pagi ini ledekan itu masih berlanjut. Sambil mengisi pagi dengan obrolan-obrolan ringan dan ditemani oleh secangkir  kopi panas, salah satu peserta pelatihan datang ke tempat kami, “Ayo Bang kita pengarungan, anak-anak udah siap tuh,” begitu ujarnya tiba-tiba yang langsung disambut pertanyaan dari Abo,  “Perahunya bisa dipakai?” lalu peserta tersebut mengangguk dan menjelaskan kalau perahu tersebut masih bisa dipakai asalkan saat pengarungan nanti kita berhenti untuk memompa ulang perahu tersebut.

“Gimana Kang Abo, jadi?” Saya bertanya penuh harap, “Derrr ah,” jawab Abo sambil tersenyum. Akhirnya jadi juga pengarungan hari ini, sebentar lagi saya akan ikut menjajal derasnya Jeram Amin, saya reguk lagi kopi di cangkir, entah kenapa rasanya menjadi lebih nikmat.

Semua peralatan standar arung jeram beserta personil yang akan menggunakannya telah lengkap berada di sisi sungai, setelah diadakan doa bersama dan briefing pra-pengarungan kami semua mengambil posisi dan bersiap untuk memulai pengarungan sungai yang berhulu di Danau Kerinci ini. Satu dari tiga perahu yang kami gunakan diposisikan sebagai perahu rescue dan berjalan terlebih dulu diikuti oleh dua perahu yang lain, hal ini dimaksudkan agar jika terjadi sesuatu pada perahu lain para rescuer bisa lebih efektif menyelamatkan mengingat air bergerak dari arah hulu menuju hilir.

Beberapa standing wave (jeram berbentuk gelombang berdiri akibat dari arus bawah yang lebih deras dibandingkan arus permukaan) menyambut kami di awal-awal pengarungan. Ketika saya melihat perahu yang bocor -dan hampir menggagalkan pengarungan hari ini- saya melihat sebuah pemandangan menarik, perahu tersebut berisikan 6 orang awak dengan pembagian tugas : 1 orang menjadi skipper, 4 orang sebagai pendayung dan 1 orang lagi bertugas sebagai pemompa yang sepanjang jalan bertugas untuk terus menerus memompa perahu sementara yang lain mendayung, ternyata bukan hanya karakteristik jeramnya yang khas, di sini pembagian tugas personil juga khas dan jarang terlihat di sungai lain.

Ketika arus sungai mulai tenang, terlihat bebatuan besar di pinggir sungai, di depan terdengar suara gemuruh air yang cukup besar, perahu merapat ke sisi sungai untuk melakukan scouting. “Ini jeram amin?” tanya saya yang dijawab salah seorang peserta, “Iya Bang, yuk kita lihat dulu….” Sampai juga akhirnya saya di Jeram Amin, jeram ini adalah sebuah jeram yang berbentuk hole atau jeram yang terbentuk karena adanya penurunan yang tiba-tiba sehingga mengakibatkan munculnya arus balik, di beberapa sungai yang pernah saya arungi banyak saya temui jeram berbentuk hole tetapi belum pernah saya menemui yang sebesar ini. Hole pada Jeram Amin membentang dari kedua sisi sungai dengan penurunan sekitar ¾ panjang perahu, arus kuat dari sisi kanan sungai membentuk arus balik pada dinding sebelah kiri jeram tersebut, besar kemungkinan terdapat  undercut, jika perahu atau awak perahu terjebak di sana sulit untuk bisa keluar, kemungkinan resiko yang lain dari karakteristik jeram seperti ini adalah perahu tersedot ke belakang atau tertahan.

Penamaan jeram ini menurut beberapa orang diakibatkan karena seorang wartawan yang bernama Amin pernah terjatuh di sini, ada yang bilang dia meninggal ada juga yang bilang dia masih hidup setelah keluar dari jeram ini, kabar simpang siur tersebut belum sempat saya verifikasi. Ada juga cerita baru-baru ini dari warga desa di dekat Air Batu yang pernah berarung jeram di sini, saat memasuki jeram amin, perahu yang ditumpangi olehnyawrap (tersangkut di batu) maka untuk menghindari perahu terbalik dia loncat keluar dari perahu, malangnya dia malah tersedot ke dalam hole sampai ke bagian dasar, bapak itu keluar dengan selamat tetapi yang tersisa hanya tubuh dan celana dalamnya saja.

Perahu rescue yang pertama masuk, perahu diposisikan sudutnya lurus menghadapi jeram lalu aba-aba dayung kuat diberikan oleh skipper dan tampak para pendayung mengayuh perahu dengan sekuat tenaga, perahu melewati jeram tersebut dan terlihat salah satu awak terlempar keluar dari perahu lalu dengan sigap ditarik kembali oleh rekannya yang lain. Setelah sampai di sisi sungai, para rescuer bersiap memegang tali lempar untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, terlihat ada dua titik lokasi berdirinya para rescuer, sisanya berada di dalam perahu untuk antisipasi penyelamatan yang membutuhkan perahu.

Giliran kedua adalah perahu yang saya tumpangi, posisi duduk dengan kuda-kuda saya siapkan sekuatnya agar saat masuk ke jeram nanti saya tidak akan terlempar keluar perahu. Perahu mengarah ke hulu untuk mengambil posisi sudut yang pas, setelah dirasa lurus dengan jeram aba-aba diberikan, “Maju kuat!!” lalu semua mendayung sekuat tenaga, untuk jeram seperti ini memang diperlukan laju awalan perahu yang cepat untuk menghindari kejadian perahu terbalik karena terkena stopper, menyadari keadaan tersebut walaupun otot terasa lelah tetapi dayungan kami tidak boleh kendor.

Perahu semakin mendekati jeram, tampak penurunan gradient sungai, penurunan sungai ini tampak lebih dalam jika dilihat dari atas perahu dibandingkan dari sisi sungai tadi, perahu mulai masuk ke dalam jeram dan penurunan sungai mengakibatkan tubuh merasa terhenyak seperti saat menaiki roller coaster, sisi depan perahu menabrak arus balik dari jeram dan menembusnya, muka tersiram air dan spontan kami semua berteriak antara gembira dan puas karena perahu masuknya pas dan semua aman terkendali, tetapi tidak lama di depan kami menanti sebuah standing wave, belum saatnya untuk berhenti mendayung, kami terus mendayung sekuat tenaga sampai perahu mencapai sebuah eddies di sisi kanan sungai.

Setelah itu, perahu ketiga menyusul memasuki jeram tadi dengan mulus, kami berkumpul di eddies sambil mengatur nafas, terdengar salah seorang awak dari perahu rescue berteriak kepada saya, “bang, sekarang sudah bisa pulang ke Bandung dengan tenang ya”, semua tertawa lalu saya mengacungkan jempol sambil tersenyum sebagai tanda bahwa saya setuju, terbayar sudah rasa penasaran saya. Ada yang bilang bahwa belum ke Merangin kalau belum merasakan jeram amin, maka kalau begitu bisa dikatakan bahwa saya sudah ‘resmi’ pernah ke Sungai Merangin, Jeram Amin ‘membaptis’ saya sebagai pengarungnya.

About Hidayat Adhiningrat

Anggota Palawa Unpad Angkatan Darmaga Bodas

Hidayat Adhiningrat

Anggota Palawa Unpad Angkatan Darmaga Bodas