Cerita Sunyi Dari Ban Non Ping


Nam Lot menjadi sumber air bersih utama penghuni Ban Non Ping, yang menjadikannya suatu tabu untuk membuang sampah dan kotoran, termasuk buang air kecil dan air besar, ke dalam jernihnya Xe Bang Fai. Dari sini, air kehijauan Xe Bang Fai mengalir melewati jantung propinsi Khammouane dan Savannakhet di selatan, sebelum bermuara dan menyatu di sungai Mekong.


Oleh: Eno Gita

“Kami mengenalnya dengan dua nama: Tham Nam Lot dan Tham Xe Bang Fai.” Kalimat itu terucap dari mulut Lung Siyone, kepala desa nomor satu Ban Non Ping. Tidak ada yang tahu pasti tentang legenda Tham Nam Lot –nam berarti air, lot berarti terowongan –  bahkan oleh Lung Siyone dan sesepuh Ban Non Ping lainnya. Meski orang Makong di Ban Non Ping meyakini spirit Nam Lot sebagai sosok yang baik, menelusuri Tham Nam Lot bukan hal yang wajar dilakukan penduduk desa.

Ban Non Ping merupakan desa terdekat dari lokasi Tham Nam Lot. Jaraknya kurang lebih tiga ratus meter dari mulut gua. Daerah ini mulai dihuni sejak para sesepuh mendapat wangsit roh leluhur untuk mencari wilayah baru karena wabah penyakit yang menyerang penduduk desa. Ban Non Ping juga menyimpan peristiwa perang saudara dan salah satu daerah jatuhan UXO atau unexploded ordnance dalam sejarah Lao PDR.

Orang Makong penghuni Ban Non Ping termasuk ke dalam sub-etnik Lao Theung, kelompok etnis besar Lao yang menghuni kaki pegunungan. Dalam bahasa Lao, non berarti danau, dan ping berarti pacet. Setiap hujan tiba di bulan Mei-September, air Xe Bang Fai meninggi dan menyeret pacet-pacet kecil di atas tanah Ban Non Ping. Penduduk Ban Non Ping lebih sering menyebut sungai ini dengan kata Nam Lot, nama yang sama dengan cara mereka menyebut gua Khoun Xe. Nam Lot menjadi sumber air bersih utama penghuni Ban Non Ping, yang menjadikannya suatu tabu untuk membuang sampah dan kotoran, termasuk buang air kecil dan air besar, ke dalam jernihnya Xe Bang Fai. Dari sini, air kehijauan Xe Bang Fai mengalir melewati jantung propinsi Khammouane dan Savannakhet di selatan, sebelum bermuara dan menyatu di sungai Mekong.

SIAPA YANG TAHAN TERPAAN ANGIN DINGIN MUSIM KERING BAN NON PING? Dalam lingkaran mengelilingi api unggun, Mee ditemani dua orang tentara jaga dan Lung Siyone –lung berarti paman – serta Lung Ke Liunaley, salah satu sesepuh desa, bercakap-cakap sambil mendekatkan tangan mereka di atas tumpukan kayu yang terbakar. Tak jauh dari situ, Kod, Khampodi Khamchan – Kepala  Polisi Turis untuk Propinsi Khammouane yang mengawal kami selama ekspedisi ini – asyik  bermain kartu semirip permainan poker bersama Nam dan Lot, sopir kami. Pemain yang kalah, harus meminum lao lao setinggi dua jari, cukup untuk menghangatkan dada di tengah cuaca dingin pagi ini.

Kami masih belum bosan duduk bersimpuh di samping asrama bersama mereka, dekat api unggun yang tidak pernah mati. Rumah kayu asrama guru ini berdiri kokoh menghadap pelataran luas yang dipenuhi rumput dan pohon besar yang menua. Di ujung kanannya, bangunan sekolah dasar Ban Non Ping ramai disinggahi anak-anak kecil yang datang dari desa ini dan tiga desa lain di sekitar Ban Non Ping. Beberapa anak berkumpul dan menyalakan api unggun di halaman sekolah sambil menunggu waktu istirahat belajar berakhir. Sementara di seberang sana, bangunan tua arsitektur Perancis tempat klinik kesehatan beroperasi, tampak sepi berdampingan dengan rumah panggung tempat warga berkumpul untuk pertemuan bersama. Satu pos militer yang kusam tak terurus terletak di ujung jalan, melengkapi fasilitas bangunan yang ada di Ban Non Ping. Kami datang di Ban Non Ping saat musim kering baru dimulai. Awan putih yang berjalan cepat di langit menjadi tanda kencangnya angin yang berhembus di atas sana. Hembusan tiupan kencang angin menerpa pelataran tengah tempat anak-anak kecil bermain bola. Tebalnya jaket yang kami kenakan seperti tak mampu melawan terpaan angin dingin Ban Non Ping.

Sementara di kolong asrama, Linda Rosyani – staf medik ekspedisi – tampak sibuk melayani beberapa orang yang sengaja datang untuk meminta obat. Pada hari pertama penelusuran gua, kami berpapasan dengan Hung Mo di laguna Xe Bang Fai. Belakangan kami semakin mengenalnya karena rumah Hung Mo terletak di ujung kompleks perkampungan pada jalan setapak tempat warga mengambil air. Hung Mo sempat mendatangi Linda untuk meminta obat sakit gigi. Kali ini, sebagian besar yang datang adalah orang tua bersama anak-anaknya yang terkena diare dan demam. Ban Non Ping juga endemik malaria, seperti yang dialami seorang anak pasien rawat inap di klinik kesehatan. Hanya satu dua orang yang mampu pergi ke klinik karena biaya berobat yang terbilang mahal. Padahal di Ban Non Ping, tumbuh beberapa herbs pengobat sakit perut, dan mungkin masih banyak tanaman obat lain.

About Palawa Unpad

Redaksi Website Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam Palawa Universitas Padjadjaran

Palawa Unpad

Redaksi Website Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam Palawa Universitas Padjadjaran