Berkawan dengan Bahaya: Jangan Kapok!


Saya panik dan terjebak di bawah perahu terbalik yang terus terbawa arus sungai. Saya minum banyak air sungai dan pikiran saya tidak terkontrol untuk beberapa saat. Bagaimana kalau saya mati di sini? Di sungai saat arung jeram?


Oleh : Maya Rara Tandirerung

Perahu sudah terlipat rapi. Begitu juga dengan pelampung dan dayung milik Palawa Unpad. Hari itu kami bersiap untuk berarung jeram di Sungai Citarum, Bantar Caringin, Cipatat, Jawa Barat. Seperti biasa, kegiatan alam bebas selalu menimbulkan gairah yang lebih apalagi ini untuk pertama kalinya saya akan melakukan arung jeram. Sungai Citarum merupakan sungai terpanjang di Jawa Barat yang melewati banyak daerah. Kebetulan yang sering dipakai untuk berarung jeram adalah bagian Sungai Citarum yang berada di Bantar Caringin, Cipatat.

Dari Jatinangor, Bantar Caringin dapat dicapai dengan menggunakan bis yang menuju ke Sukabumi atau Cianjur dengan harga Rp. 8000,- pada waktu itu. Dari jalan raya, masih harus menggunakan kendaraan menuju jembatan yang dekat dengan pembibitan coklat. Untuk yang membawa banyak barang bisa menyewa mobil bak terbuka yang harganya sekitar Rp. 150.000,- dan masih bisa ditawar. Tiba di Bantar Caringin, saya melihat riak air dan suaranya yang bertalu-talu seakan menyambut kedatangan kami sambil berkata “Are you ready for this?”. Karena kami tiba sore menjelang malam, kami memutuskan untuk melakukan pengarungan keesokan harinya.

Matahari menyembur dari ufuk timur dan suara jeram adalah hal pertama yang saya dengar pagi itu. Suara jeram yang memanggil untuk diarungi dan menantang untuk ditaklukkan. Baju kaos, celana tiga perempat, sepatu, pelampung dan helm sudah terpasang dengan dayung masing masing di tangan. Hal yang paling menyebalkan dari kegiatan ini hanya satu yaitu portagging, suatu kegiatan untuk mengangkut perahu ke titik start yang tidak dekat dan harus melalui jalan berbatu serta semak-semak. Jika tidak ingin tersiksa, sebaiknya memilih orang yang mempunyai tinggi yang hampir sama sehingga kekuatan untuk mengangkat perahu bisa terbagi rata. Tiba di titik start, kami menurunkan perahu dan kemudian memeriksa lagi perlengkapan dan kondisi perahu sebelum memulai pengarungan.

Titik start yang kami pakai adalah titik start yang sering dipakai oleh penggiat arung jeram di situ. Tidak masalah jika ingin membuat titik start sendiri. Dengan mengucap doa dan dengan keyakinan, saya menaiki perahu. Saya duduk di sebelah kanan paling depan. Perahu tersebut bermuatan 7 orang sudah termasuk skipperSkipper merupakan orang yang duduk paling belakang dan bertugas untuk mengendalikan laju perahu dan segala gerakan penumpang ditentukan olehnya apakah itu mendayung ke depan atau ke belakang, berhenti, bahkan jika skipper menyuruh untuk lompat dari perahu maka itu harus dilakukan. Salah satu senior saya menjadi skipper hari itu karena belum ada dari kami yang bisa menjadi skipper. Kami hanya pemula dan kegiatan ini dalam rangka latihan.

Perahu melaju and here we go. Perahu meliuk-liuk mengikuti gerakan jeram diiringi teriakan skipper yang menyuruh kami untuk mendayung kuat saat memasuki jeram. Hanya sekitar 5 menit kami sudah tiba di jembatan dan melipir ke eddies di pinggir sungai, menarik nafas, portagging lagi dan mengarungi jeram yang sama beberapa kali. Badan sudah lemas dan rasanya berat badan saya turun beberapa kali karena kegiatan itu. Hari sudah mulai gelap ketika kami memutuskan untuk menyudahi kegiatan hari itu dan akan melanjutkannya besok pagi. Malam ini pasti tidur nyenyak setelah seharian memperbudak otot dan memakan ayam goreng dengan sambal super enak Mak Udeh, wanita paruh baya yang rumahnya kami tumpangi.

Setelah sarapan pagi itu, kami memulai lagi dengan mengenakan semua perlengkapan. Hari ini kami akan melakukan pengarungan panjang menuju jembatan baru. Dari jembatan lama, tempat kami latihan menuju jembatan baru akan memakan waktu setidaknya dua jam. Tapi kami melakukan beberapa pengarungan pendek terlebih dahulu dan latihan menaiki perahu yang flip atau terbalik. Keadaan perahu terbalik bisa terjadi kapan saja dan yang perlu diperhatikan adalah bagaimana untuk naik ke perahu lagi dan membalikkannya ke posisi normal. Selain itu, kita juga harus tahu bagaimana untuk menolong orang yang gagal naik perahu kembali.

About Palawa Unpad

Redaksi Website Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam Palawa Universitas Padjadjaran

Palawa Unpad

Redaksi Website Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam Palawa Universitas Padjadjaran