0 Mdpl


Suasana Angin tengah malam dan deru ombak laut membuat suasana pantai semakin kentara. Jarang sekali bisa berbincang santai dengan suasana yang senyaman dan sesantai ini.


Sebuah saung dari bambu berukuran 2 x 2 x 2.5 meter menjadi shelter sementara tim susur pantai Palawa untuk sejenak beristirahat. Terletak sedikit jauh dari tepi pantai, rasanya saung ini cukup aman untuk dijadikan tempat camp sementara. Lokasinya di Desa Pamayang Sari. Desa terakhir yang dilewati setelah seharian longmarch menyusuri kawasan Pantai Selatan, Tasikmalaya.

Titik awal perjalanan dimulai dari Desa Ciheras. letaknya tidak terlalu jauh dari Jalan Raya Pantai Selatan. Kalori dari sepiring nasi, telur, tahu dan sayur sop menjadi bekal pembakar semangat tim yang beranggotakan 4 orang  ini untuk memulai perjalanan. Cuaca cerah dan sedikit panas. Namun hembusan angin laut seolah menetralisir suhu tinggi pantai.

Baju dryfit hitam bertulisan nama perhimpunan di bagian punggung menjadi kostum yang sangat comfy dan ampuh mengurangi hawa panas. Topi rimba, kacamata hitam, dan buff juga menjadi peralatan yang tidak kalah penting peranannya. Setiap peralatan yang digunakan mempunyai fungsi tersendiri. Topi rimba menjadi pelindung kepala dari sengatan terik mentari. Kacamata hitam dapat melindungi mata dari silaunya sinar matahari dan juga dari butiran pasir pantai yang beterbangan. Sedikit banyak, sinar matahari langsung dan panas dapat menyebabkan efek pusing sampai dehidrasi. Sedangkan buff  melindungi hidung dari butiran pasir pantai yang terbang dihembus angin laut, disamping pelindung wajah dari sengatan mentari.

Lanskap terlihat sedikit monoton sepanjang perjalanan. Di sisi kanan ombak laut Samudra Hindia, lalu hutan, perbukitan dan sesekali perumahan nelayan mendominasi pemandangan disisi sebaliknya. Bagian yang menantang yaitu pada medan yang disusuri. Pasir tebal, batu karang dan muara sungai menjadi bagian yang harus dilewati anggota tim. Beberapa muara sungai siap mengadang di depan. Dalam perjalanannya, tim bertemu sebuah muara sungai dengan arus yang cukup deras. Lebarnya diperkirakan 15 meter dengan kedalaman lebih dari 1,7 meter. Muara tersebut merupakan bagian hilir dari Sungai Cilangla.

Tim berusaha melakukan penyebrangan dengan menggunakan tali. Terlebih dahulu seluruh anggota tim berdiskusi dan briefing singkat untuk mempertimbangkan segala potensi bahaya yang dapat terjadi. Mengingat lokasi penyebrangan yang dekat dengan ombak laut, kedalaman muara dapat meninggi dengan seketika. Prinsip safety first selalu diutamakan.

Mentari perlahan beranjak ke ufuk barat. Semangat anggota tim perlahan meredup seriring redupnya sinar matahari di langit pantai selatan. Pada akhirnya tim memutuskan untuk mencari lokasi peristirahatan. Tampak jelas ombak laut semakin meninggi.

Tim beristirahat sambil mencari lokasi yang pas untuk membuat camp peristirahatan. Dari kejauhan terlihat sebuah saung bambu yang kelihatannya cukup nyaman untuk recovery tenaga malam ini. Dengan jurus sakti pamungkas (Baca: Sos-ped), akhirnya kami dapat menginap semalam disana. Sebuah lampu neon kecil menjadi alat penerangan saung sederhana ini.

Seorang pria paruh baya menghampiri basecamp kami. Perawakannya sedikit garang ditambah 3 anting yang berjejer rapi di telinga bagian kiri, berkulit hitam dan berbadan gempal. Beliau merupakan seorang nelayan sekaligus anggota SAR Desa Pamayang Sari. Beberapa cangkir kopi luwak dan keripik pisang membuat obrolan ‘ngalor-ngidul’ ini terasa nikmat.

Banyak hal yang diperbincangkan. Disela obrolan, beliau memperkenalkan sebuah alat pancing nelayan bernama “alungan’. Bentuk alat ini cukup sederhana, terdiri dari tali tambang dengan panjang melebihi 50 m, salah satu ujungnya dijadikan tempat umpan ikan. Umpannya bisa berupa ikan kecil. Ujung tali diberi timah sebagai pemberat, serta pelampung. Nelayan menggunakannya sebagai alat pancing ikan dari tepi pantai. Dalam sehari, nelayan daerah ini mampu menangkap 2-3 ekor ikan kakap berukuran besar.

Saya sempat bertanya kepada beliau perihal kontroversi penggunaan pukat bagi nelayan yang belakangan ini dilarang penggunaannya. Namun beliau menjelaskan pukat yang biasa digunakan adalah pukat yang berukuran kecil. “Kalo pukat itu ada dua kang, ada pukat besar dan kecil. Kalo yang dibolehin itu pukat yang kecil ” jelas kang Daday, begitu beliau akrab dipanggil.

Di lain cerita, jaman baheula beliau pernah mendapatkan seekor ikan hiu berukuran besar. Diperlukan 3 perahu nelayan untuk mengangkutnya. Seketika saya teringat perahu biru yang sempat terlihat di sepanjang perjalanan. Perahu berberbahan viber itu memiliki sayap di sisi kiri-kanan yang berguna sebagai penyeimbang saat berlayar. Kadangkala bagian belakang perahu dipasangi motor tambahan. Biasanya dipergunakan untuk kebutuhan rescue. Beliau menuturkan, bagian yang paling mahal dari ikan hiu adalah siripnya. Harganya bisa mencapai Rp 70 jutaan/ Kg.

“Nelayan di desa ini sudah terbilang maju. Prediksi cuaca sebelum melaut menjadi hal yang wajib bagi seorang nelayan. Informasi ini dapat diperoleh melalui akses internet “ tutur kang daday. Membawa handphone saat melaut merupakan hal wajib agar komunikasi antar nelayan saat melaut tetap terjalin dan antisipasi apabila terjadi trouble saat para nelayan melaut.

Suasana Angin tengah malam dan deru ombak laut membuat suasana pantai semakin kentara terasa. Jarang sekali bisa berbincang santai dengan suasana yang senyaman dan sesantai ini.

About Muhammad Ikhsan Rizky

Anggota Palawa Unpad Angkatan Bajra Karana

Muhammad Ikhsan Rizky

Anggota Palawa Unpad Angkatan Bajra Karana